Sensitivitas Fungsi Baru Bangunan Bersejarah

Oleh: Hasti Tarekat

BANGUNAN berusia minimal 50 tahun yang mempunyai kekhususan dari segi arsitektural dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat layak disebut sebagai bangunan bersejarah. Indonesia mempunyai banyak sekali bangunan bersejarah, baik yang sifatnya tradisional maupun kolonial. Untuk melestarikan bangunan bersejarah, selain peremajaan secara fisik, juga perlu adanya fungsi baru.

Fungsi baru bangunan bersejarah sebaiknya memerhatikan aspek-aspek tata kota (lokasi bangunan dan lingkungan sekitar), fisik bangunan (arsitektural, konstruksi, organisasi ruang, dan fisika bangunan), ekonomi (potensi untuk memobilisasi pendapatan), dan sosial (potensi untuk kesejahteraan dan kebanggaan masyarakat).

Pengalaman menunjukkan bahwa memutuskan fungsi baru bangunan bersejarah tidaklah sederhana karena, selain harus memerhatikan nilai fisik, kita juga harus menimbang dengan cermat nilai intrinsiknya. Mungkin itu sebabnya kasus Buddha Bar di Jakarta menyeruak karena fungsi yang baru dari bekas gedung imigrasi tersebut tidak memenuhi kriteria sosial di atas.

Penggunaan nama Buddha Bar dianggap tidak layak karena memiliki asosiasi dengan agama Buddha dan juga posisinya di antara agama-agama lain. Selain itu, fungsi baru gedung itu juga dianggap elitis, hanya untuk golongan atas saja.

Sensitivitas fungsi baru bangunan bersejarah terjadi di mana-mana. Kita bisa mengambil contoh dari beberapa negara. Di Belanda banyak gereja dan biara dimanfaatkan untuk fungsi yang baru sebagai cerminan proses sekularisasi. Sebagian anggota masyarakat keberatan dengan hal itu karena bagi mereka gereja dan biara adalah jiwa dari suatu tempat dan nilai religiusnya harus dipertahankan.

Ada sebagian orang yang berusaha menyesuaikan dengan tuntutan tersebut dan menjadikan bangunan bekas gereja dan biara misalnya sebagai penampungan orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Namun, banyak juga yang tidak keberatan dengan fungsi sekuler dengan menyulapnya sebagai tempat pesta dan apartemen. Perubahan fungsi bangunan yang termasuk pusaka religius sebenarnya bukan hal baru dan terjadi di mana-mana.

Contoh lain, gedung Hagia Sophia di Istanbul yang dibangun tahun 536 sebagai gereja terbesar di dunia pada tahun 1453 berubah menjadi masjid dan tahun 1934 berubah lagi menjadi museum. Sementara itu, Mezquita de Cordoba di Cordoba, Spanyol, kompleks bangunan yang selesai dibangun tahun 1000, berubah fungsinya menjadi katedral pada abad ke-16.

Walaupun demikian, fakta-fakta ini tidak membuat gejolak emosi perubahan fungsi bangunan bersejarah yang termasuk pusaka religius berhenti. Protes dan silang pendapat masih berlangsung sampai sekarang karena nilai sosial suatu bangunan bersejarah tidak bisa diberi label harga tertentu, semakin besar nilai memori kolektifnya, semakin sensitif pula penentuan fungsi barunya.

Situasi ini diperumit dengan persyaratan ekonomi bahwa fungsi baru harus mampu pula mendatangkan pendapatan yang cukup untuk pemeliharaan bangunan dan tentu saja keuntungan untuk investornya. Mencari keseimbangan antara nilai sosial dan nilai ekonomi merupakan tantangan yang berat.

Salah satu contoh pelestarian pusaka yang mendekati keseimbangan nilai sosial dan nilai ekonomi adalah Westergasfabriek di Amsterdam. Westergasfabriek adalah pabrik batu bara yang dibangun tahun 1885 dan berhenti berproduksi tahun 1967. Sejak itu, kompleks bangunan seluas 14 hektar ini berfungsi sebagai garasi dan bengkel. Sebagian bangunan dihancurkan dan yang tersisa adalah 13 bangunan bergaya Neo-Renaisan yang seluruhnya berstatus bangunan bersejarah yang dilindungi.

Bagaimana menentukan fungsi baru yang sesuai untuk lahan pusaka sarat polusi dengan banyak bangunan bersejarah di atasnya? Strategi yang dipilih adalah mengombinasikan fungsi baru yang sifatnya sementara, yaitu sebagai tempat berbagai pertunjukan dengan rencana pelestarian jangka panjang sebagai taman budaya dan sarana rekreasi dan olahraga.

Lahan pusaka ini harus dibersihkan dulu, bangunan-bangunannya harus direnovasi, tim kerja harus dibentuk, dana harus dicari, dan semua itu merupakan suatu proses panjang yang kompleks selama hampir 15 tahun. Motor dan inisiatornya adalah pemerintah lokal yang menunjuk seorang pejabat sebagai penanggung jawab seluruh proyek.

Pimpinan proyek inilah yang mengorganisasikan kerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat. Sejak tahun 2003, di kawasan ini dikembangkan berbagai fungsi baru antara lain bioskop, ruang pertemuan, sarana pertunjukan, bakeri, kafe, galeri, berbagai perusahaan, tempat penitipan balita, dan museum untuk anak-anak. Selain itu, fasilitas ruang terbuka dimanfaatkan sebagai sarana olahraga dan rekreasi oleh publik secara cuma-cuma. Westergasfabriek mampu menggalang dananya sendiri untuk pemeliharaan tanpa bergantung pada subsidi pemerintah dan kompleks ini menjadi kebanggaan masyarakat sekitarnya.

Dalam kasus Buddha Bar di Jakarta, masalahnya bukan hanya nilai ekonomi dan nilai sosial. Namun, juga berunsur permainan politis melalui kepemilikan berbau nepotisme. Jika masalahnya diurai satu demi satu dan dipisah-pisahkan, terlepas dari komplikasi nepotisme, mungkin harus dievaluasi kembali kemungkinan terbaik fungsi baru gedung ini bagi Jakarta. Suatu fungsi baru yang mengembalikan investasi dan memberi keuntungan secara ekonomi, menumbuhkan kebanggaan warga Jakarta dan memberi manfaat bagi khalayak seluas-luasnya. Mungkin, kombinasi berbagai fungsi baru seperti Westergasfabriek. Namun, dalam skala lebih kecil merupakan suatu alternatif.

(Hasti Tarekat adalah dosen tamu di Reinwardt Academy Amsterdam, Belanda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: