SERIBU TAHUN JEJAK KERAMIK DAN GERABAH ASIA DI MEDAN

SERIBU TAHUN JEJAK KERAMIK DAN

GERABAH ASIA DI MEDAN

Erond L. Damanik, M.Si

Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

Sesuai dengan UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) suatu kawasan atau teritori dinamakan situs apabila kawasan tersebut memiliki kharakteristik khas, telah berusia minimal 50 tahun, memiliki arti penting dalam pengetahuan dan sejarah. Oleh karena itu, khususnya di Medan terdapat 3 (tiga) kawasan yang disebut sebagai situs sejarah yang sangat penting yakni Kota Cina, Kota Rentang dan Benteng Putri Hijau Medan. Urgensi dan arti pentingnya situs dalam menelisik sisi kelampauan yaitu, disamping sebagai bukti sejarah juga sekaligus untuk merekontruksi jejak peradaban dimasa lampau. Hal ini sangat berguna terutama dalam menjelaskan ragam peristiwa masa lalu yang pernah terjadi yang dikumpulkan serta direkontruksi melalui peninggalan yang masih dapat ditemukan. Peninggalan tersebut adalah hasil kontak niaga, pertukaran ataupun Bandar atau pelabuhan yang maju pada jamannya seperti keramik dan gerabah. Ketiga situs yang disebut diatas memiliki arti yang sangat penting dalam menelusuri jejak-jejak peradaban masa lalu Kota Medan. Sebagaimana diketahui bahwa, situs kota Cina ditemukan pada tahun 1972 saat McKinnon mengunjungi lokasi itu bersama kolektor barang antik. Catatan resmi tentang keberadaan situs Kota Cina telah ada sejak tahun 1826, berkenaan dengan laporan Anderson yang pada tahun 1823 yang diperintahkan Gubernur Penang W. E. Philips melakukan perjalanan ke Sumatera Timur untuk survei politik ekonomi bagi kepentingan Inggris.

Dalam laporannya diperoleh bahwa di kawasan ini terdapat batu besar bertulis yang tidak dapat dibaca oleh penduduk setempat. Kemudian, dalam Oudheikundig Verslag (OV) tahun 1914 keberadaan situs bersejarah ini kemudian disebut dengan Kota Cina. Aktivitas Arkeologis berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis dimulai sejak tahun 1972 hingga tahun 1989 yang dilakukan oleh arkeolog seperti Mc. Kinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989). Sedang luas area situs Kota Rentang diperkirakan mencapai 500-1000 Ha yang ditandai dengan temuan batu kubur (nisan) yang tersebar luas di kawasan tersebut. Jenis temuan ekskavasi dan carbon dating menunjukkan tarik yang sudah lama yakni sejak abad 13-14 M. Temuan seperti archa Budha, Lakhsmi, tembikar, koin, bata fragmen candi, maupun bongkahan perahu tua menunjukkan persentuhannya dengan berbagai komunitas seperti China, Hindu Tamil, Vietnam, Arab maupun Mungthai. Temuan terbaru tentang Kota Rentang yakni situs penting dalam menjelaskan peradaban Sumatera Timur ini ditemukan oleh Archeologist Inggris yakni Edward McKinnon.

Kawasan ini telah dijelajahi oleh Arkeolog tersebut pada tahun 1972 dan aktivitas arkeologis baru dilakukan setelah 30 tahun kemudian yakni pada bulan Maret 2008. Penelitian dan ekskavasi ini dilakukan oleh pakar yang berasal dari empat negara yakni Inggris, Amerika Serikat, Singapura dan Indonesia. Hasil ekskavasi yang telah dilakukan menunjukkan temuan berupa mata uang (koin), keramik, tembikar, sampah dapur, serta batu kubur (nisan) yang berangka tahun 14-15 M dan tersebar di seluruh kawasan Kota Rentang. Situs sejarah yang ketiga adalah Benteng Putri Hijau (green princess castle) yang terletak di Delitua Namurambe. Kawasan ini telah diteliti oleh Miksic (1979) dan telah berulangkali dijelajahi oleh McKinnon.

Kondisinya sangat memprihatinkan dan segera akan lenyap dan punah seiring dengan pembangunan perumahan yang menempel percis ke badan benteng. Hal ini sekaligus menjadi indikasi bahwa, pada saat perumahan itu dibangun maka eksistensi benteng dapat terganggu, lenyap dan punah. Pembangunan pemukiman tersebut telah mengundang reaksi dari berbagai pihak, baik kalangan akademisi, penikmat sejarah maupun pemerhati situs sejarah di Sumatera Utara. Pada bulan Oktober 2008, oleh Balai Pelestarian peninggalan Purbakala (BP3) Aceh Sumut, Balai Arkeologi Medan, Museum Negeri Sumatra Utara dan PUSSIS-UNIMED telah melakukan aktifitas berupa rescue exavation. Hasil galian yang diperoleh berupa kapak batu (lonjong dan genggam), tahi besi, keramik, gerabah, butiran peluru dan struktur tanah benteng yang berbeda dengan tanah disekelilingnya. Berdasarkan uraian Miksic tahun 1979, luas Benteng Putri Hijau adalah 150 x 60 meter atau seluas = 9000 M2 atau 360 Ha.. Lagi pula, mutu keramik yang ditemukan di Kota Rentang sama dengan keramik dari awal abad ke-15 pada saat laksamana Cheng Ho (Zhenghe) berkunjung ke Aru pada tahun 1411-1431. Lagi pula, perkataan Bata’ dihilir dikata dihulu, Bata’ dihulu kata dihilir (Milner, Edwards McKinnon dan TLS, 1977) dapat diartikan bahwa ada pemukiman Batak dekat pantai (ditengah-tengah rawa) ditengah jalan yakni di Benteng Puteri Ijo, maupun di pegunungan. Berdasarkan temuan arkeologis berupa pecahan keramik, batu bata berfragmen candi ataupun batu nisan menunjukkan periode yang sama dengan masa keemasan dinasti Sung (abad ke-10) dan Yuan (abad ke-13) di Tiongkok, ataupun nisan yang percis sama dengan yang terdapat di Aceh. Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh sarjana dari Indonesia, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat yang menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Desa Kota Rantang, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang. Temuan itu sekaligus melengkapi data sejarah yang pernah ada di Sumatera Utara.

Sekaligus pula menunjukkan bahwa di Sumatera Utara pernah ada aktivitas perniagaan yang sangat sibuk terbukti dengan banyaknya temuan keramik China, batu nisan, dan tulang hewan. Aneka keramik yang ditemukan peneliti paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Ada juga temuan keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12-14. Adapun batu nisan yang ada di lokasi bergaya Islam dengan bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun. Di sekitar lokasi, juga terdapat batu bata yang diduga bahan bangunan sebuah candi. Namun, belum dapat dipastikan apakah batu bata merah itu potongan candi. Batu-bata itu terkonsentrasi di sebuah gundukan tanah dengan sarang rayap di sekitarnya. Kota Rantang berada di dataran rendah yang merupakan bagian lembah Deli di wilayah pantai Timur Sumatera. Terletak di posisi 30 43’ Lintang Utara dan 980 38’ Bujur Timur yang dapat dicapai dari Kota Medan setelah menyusuri tepi Sungai Deli sejauh 14 km ke arah Utara/Belawan, dan kemudian menyeberangi sungai Deli sejauh 2 km ke arah Barat. Terletak pada 1,5 meter dari permukaan laut (dpl) dan merupakan lahan rawa yang banyak dipengaruhi pasang surut air laut. Diyakini, kawasan ini memiliki kesibukan yang luar biasa sebagai Bandar pelabuhan besar berskala Internasional yang dikelola dibawah satu kekuatan administratif pada masa abad ke-7 M hingga 14 M. Beberapa asumsi diajukan oleh peneliti bahwa penghunian dan kegiatan/aktifitas di Kota Rantang berlangsung pada sekkitar abad ke 12-14 M dan diduga berfungsi sebagai pusat niaga dengan jalinan dagang melalui pantai dan sungai. Asumsi ini berlangsung oleh penggalan carbondatting terhadap papan kayu perahu yang ditemukan di situs Kota Rantang yang diketahui pembuatannya dari abad ke 12-13 (Wibisono, 1982). Asumsi juga dikuatkan dengan analisa terhadap temuan arca Budha, dilihat dari segi ikonografi menunjukkan kesamaan dengan gaya India Selatan (Tanjore) yang berasal abad ke 12-13 M (Suleiman, 1981).

Analisa terhadap temuan kerami menunjukkan bahwa sebagian bersar keramik yang ditemukan di situs Kota Rantang berasal dari abad ke 12-14 M. Jenis keramik yang paling banyak ditemukan di situs Kota Rantang adalah jenis Celadon (green-glazed) yakni jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware. Puncak masa keemasan celadon adalah pada masa dinasti Sung abad ke 11-12 M, diproduksi masal untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan eksport. (Ambary, 1984:66). Jenis keramik lainya keramik Chingpai ,(white glaze wares) yang merupakan jenis keramik yang bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silica yang kadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar abad 12 hingga akhir abad ke 14. Di situs Kota Rantang juga terdapat keramik Te Hua wares yakni jenis keramik yang mirip dengan keramik Chingpai, perbedaannya pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik ini banyak diproduksi pada dinasti Yuan sekitar abad 14. (Ambary, 1984: 69). Jenis lainnya adalah Coarse stone wares, adalah jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberi kesan kasar pada bagian badan wadah.

1 Comment (+add yours?)

  1. wali
    Jan 11, 2009 @ 16:29:23

    Peninggalan heritage kita sangat luar biasa banyaknya..tapi menjaga kelestariannya banyak mengalami kesulitan. terkesan omong kosong belaka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: