TANAH BATAK DAN ISLAM: KASUS TUANKU RAO

TANAH BATAK DAN ISLAM:
KASUS TUANKU RAO

Usman Pelly
Universitas Negeri Medan

Problem Setting :
1. Orang Batak, terutama deerah Tapanuli Selatan (Mandailing, Natal, Padang Bolak dan sipirok), berkenalan dengan islam dalam suasana kecamuk Perang Padri yang sangat brutal. Tetapi mengacu kepada mereka memilih Islam sebagai Identitas, untuk memisahkan diri mereka dengan orang Batak Utara (Tapanuli Utara) yang sebahagian besar memeluk Agama Kristen ?
2. Episode-episode perang pergumulan sosial politik yang dilukiskan oleh Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP) dalam bukunya “Tuanku Rao” yang dipimpin oleh trio: Tuanku Rao-Tambusai–Lelo, merupakan tragedi yang sangat mengharukan dan menusuk perasaan. Tidak ada kesan heroik, patriotik, atau semangat jihad yang muncul dalam arena Perang Padri Tuanku Rao itu. Orangpun akan bertanya-tanay dimana nilai-nilai islam yang dijanjikan sebagai “Rahmat dimuka Bumi”,(rahmattallil’ alamin), yang dibawa para tentara Padri itu ?
3. Kesan umum dari buku Tuanku Rao (1964) mengenai penduduk tentara Padri di Tapanuli, sama dengan serangan Bajak Laut Viking dari Norwegia ke Inggris dan Perancis abad kedelapan atau serbuan tentara Mongol (Jengis Khan) ke India, Irak dan Eropa Timur abad pertengahan. Islam Atau mazhab Hanbali yang dikibarkan dalam perang Padri di Tanah Batak itu hanya sebagai “Ligitimasi” (pengesyahan) kebrutalan perang yang menginjak-nginjak nilai Kemanusiaan.

4. Kisah Datu Bange yang dikemukakan oleh saudara Basyar Hamidy Harahap dalam bukunya “Greget Tuanku Rao” (2007) tidak hanya untuk mengoreksi, tetapi melengkapi buku Tuanku Rao, mengemukakan penyesalan yang sama. Perang Padri di Tanah Batak dangan dalih penyebaran Islam Mazhab Hanbali itu menurut Basyral telah dilakukan secara kejam dan biadab.
5. Tetapi siapa sebenarnya trio : Tuanku Rao-Tambusai-Lelo? Ternyata, menurut Basyral adalah putra-putra Tapanuli sendiri, masing-masing bermarga Sinambela, Harahap dan Siregar. Tuanku Rao masih berfamili dekat dengan Sisingamaraja yang dieksekusinya dalam perang Padri di Tapanuli Utara. Ketiga pendekar ini telah menjadi tulang punggung gerakan Padri di Minangkabau di Bawah Pimpinan Tuanku Iman Bonjol. Tetapi menurut Hamka ketiga aktor tersebut adalah putra asli Minangkabau (Hamka 1974:314). Apakah pendudukan tentara Padri di Tanah Batak itu adalah perang saudara, balas dendam atau sesuatu “Genocide” (penghancuran kelompok Etnik tertentu)?
6. Kesukaran untuk menganalisis dan menyimpulkan isi buku Tuanku Rao, sebagai sebuah buku dokumentasi sejarah perang, sebenarnya bukan hanya karena problem kemanusiaan yang luar biasa diatas, tetapi lebih-lebih karena ketiadaan rujukan yang dapat diperpegangi secara ilmiah. Legitimasi sebuah risalah sejarah, sangat ditentukan oleh konsistensi dan akurasi satu fakta dengan fakta lain, satu data dengan data lain yang tidak saling menganulir dan bertentangan. Buku Buya Hamka “Antara Fakta dan Khayal” (1974) yang khusus ditulis untuk membantah buku Tuanku Rao menyimpulkan, bahwa berdasarkan studi literatur dan lapangan yang dilakukan beliau, sebahagian besar keterangan dan fakta-fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao menyesatkan(hal.316). Oleh karena itu, timbul kesulitan untuk mengembangkan analisa sejarah secara akademik terhadap buku Tuanku Rao. Mungkin analisah Antropologi Sosial masih mungkin dikembangkan. Mengapa?
7. Seperti ditulis Jansen Sinamo dalam majalah Tatap (1 Agustus 2007:39), Mangaraja Onggang Parlindungan penulis buku Tuanku Rao adalah seorang “Maestro cerita” (Ahli kisah atau lagenda). Menurut Sinamo, MOP sanggup meramu fakta sejarah dengan Foklor, mitos, dan imajinasi menjadi kisah yang sangat memikat, dengan gaya yang asik pula. Satu-satunya sumber ialah catatan seorang guru sejarah, Sutan Martua, ayah MOP sendiri. Catatannya ini menurut pengakuannya bersama dokumen lainnya telah dibakar pula (lihat Hamidy 2007:85-86). Mungkin karena klaim dan protes, buku Tuanku Rao tersebut dicabut oleh MOP dari peredaran, tetapi sekitar 40 tahun kemudian (2007) diterbitkan kembali.

Kisah dan legenda dalam Antropologi
1. Kisah dalam bahasa Inggris disebut Folktate atau Legend (legenda). Berbeda dengan legenda yang timbul oleh unsur-unsur sakral. Sebuah legenda didasarkan pada sejarah, tetapi banyak ditambah atau dikurangi serta dipoles sedemikian rupa, agar lebih cantik, hebat, dan mengagumkan. Tujuannya adalah agar sesuatu itu tampil beda, dan dilakukan dengan penekanan atau menegangkan nilai-nilai cultural tertentu. Legenda berfungsi sebagai “charter” (klaim atau hak terhadap suatu posisi, sumberdaya atau ekonomi), seperti “identitical charter”,” economical carter” atau “mystical charter” (Malinouwski 1967). Mitos (Myth) adalah kisah-kisah yang sarat dengat nilai-nilai sacral (tale with supernatural character). Mitos menciptakan suasana khas yang bermakna, sehingga orang yang mempercayainya akan bertindak sesuai dengan makna mitos yang dikembangkan, seperti kepercayaan kepada totem (binatang sacral)dalam kelompok etnik tertentu.

2. Sinamo (2007) memang benar, bahwa buku Tuanku Rao adalah kisah gerakan Padri dari sudut pandang Batak, 180 derajad berbeda dengan sejarah Padri yang menggunakan kaca mata Minangkabau. Seolah-olah, menurut Sinamo, Peran Tuanku Rao dan Tuanku Lelo yang dikembangkan oleh MOP itu lebih istimewa ketimbang Tuanku Imam Bonjol. Menurutnya disinilah pangkal perselisihan MOP dengan Buya Hamka.
3. Tetapi dalam pandangan Antropologi, kisah yang berbeda ini dilakukan dalam usaha untuk menemukan “identical dan mystical Charter” orang-orang Tapanuli Selatan, yang berhadapan dengan orang Minangkabau dan Batak Toba. Seperti klaim : Tuanku Rao atau Tambusai lebih hebat dari Tuanku Iamm Bonjol, Tuanku Rao mampu berhasil menebas batang leher Sisingamangaraja X (figure simbolik Batak Toba). MOP dengan buku Tuanku Rao ini telah berusaha untuk mendapatkan sesuatu “Charter” atau klaim identitas (posisi dan Hak) yang akan membedakan mereka dengan kelompok lain (termasuk terhadap orang Minangkabau dan Batak Toba)

Mencari dan menemukan Identitas (in search of identity)
1. Buku Tuanku Rao tidak dapat dihakimi hanya dari sudut pandang ilmu sejarah, dia harus dianalisis dari segi Antropologi. Oleh karena Antropologi lebih menekan masalah “Meaning” (Makna), dan kontektual, bukan hanya tekstual (data sejarah). Dia meneropong apa yang terdapat dibelakang suatu ungkapan, kenyataan atau kontraversi, apalagi menganalisis sebuah legenda atau mitos.

2. Oleh karena itu sangat menarik untuk menjawab pertanyaan pertama yang kami ajukan dalam problem setting diatas, yang sebenarnya dikemukakan juga oleh antropolog Belanda Keuning (1979) :”……mengapa sipirok dan Mandailing yangb berkenalan dengan islam dalam situasi kekerasan perang Padri yang telah memporak-porandakan struktur kehidupan mereka, malah memilih Islam sebahagian besar menjadi muslim yang taat seperti pendahuluan mereka di Minangkabau…”(lihat juga Abdullah 1979). Selain orang-orang Tapanuli Selatan telah banyak menganut Islam sebelum Kedatangan orang Padri, mereka memerlukan “Batas-batas” bagi dirinya sendiri dan orang lain (Barth 1996, Pelly 2007). Batas terhadap orang Minang adalah etnik (territorial, adat dan bahasa). Batas terhadap Batak Toba ditambah dengan agama.
3. Identitas diri (ethnic identity) adalah bentuk penyadaran yang dipertajam akan diri sendiri sebagai suatu kesatuan yang unik untuk memelihara masa lampau dan mengembangkan diri dimasa mendatang, baik bagi dirinya, maupun bagi orang lain. Identitas ini akan diperoleh apabila peran sosial politik dan ekonomi jelas dan berarti dalam perjuangan bangsa itu, dihargai dan diakui oleh masyarakat lain dalam negara itu……!(Erickson, 1987, Pelly, 1998, 2006). Pencaharian Identitas ini (terutama dikalangan orang Mandailing), telah berproses sejak lama. Mereka ingin membedakan diri dengan saudara-saudaranya dari Toba Batak dari hal-hal yang kecil sampai kepada masalah yang besar (peristiwa “kuburan Mandailing” di Sungai Mati tahun 1920, Batak Raad 1931 sampai kepada rencana pembentukan provinsi Tapanuli 2007).
4. Dalam rangka pencaharian identitas ini, buku Tuanku Rao, sebagai sebuah legenda yang sangat pas untuk dikaji. Apabila seorang Mandailing atau Sipirok, setelah membaca buku “Tuanku Rao” merasakan bahwa “mereka punya sesuatu dan beda dengan orang lain” maka itu adalah sebuah “embrio” dari kesadaran identitas. Sama seperti orang Batak Toba memiliki kisah “Si Raja Batak”, orang Minang legenda “Raja Iskandar Zulkarnaen di Bukit Siguntang-guntang” atau orang Bugis Makassar dengan mitos anak “dewa langit Sawerigading”. Semua itu tidak untuk diperdebatkan tetapi untuk dipahami.
5. Karena itu, harus diakui bahwa bangsa ini sangat mosaik dan majemuk, terutama dalam meramu identitas diri masing-masing, dan itu meruopakan hak azasi manusia. Siapa saja yang ingin menyeragamkan kisah atau legenda yang dimiliki oelah masing-masing kelompok sebenarnya dia sudah melanggar fitrah dan hak azasi manusia.

Disampaikan dalam acara “Bedah Buku : Kontroversi Tuanku Rao dalam Sejarah Sumatera Utara” yang diselenggarakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, 10 Nopember 2007.

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

8 Comments (+add yours?)

  1. saleh w siregar
    Aug 14, 2009 @ 14:50:53

    buku Tuanku Rao,hanya bisa dipahami dengan baik jika kita melihat dengan hati yang dingin dan harus benar2 mengerti tentang orang Batak. saya sudah berulang kali membaca habis buku tersebut,dan berulang lagi dan memperhatikan sejarah dan lokasi2 yang dimuat dalam buku tersebut,adalah benar2 ada dan fakta.

    Terlepas dari isi buku tuanku rao tersebut, saya tersenuym sekali melihat tulisan diatas yang katanya ditulis guru besar univ.negeri medan, menurut saya,tulisan Prof. sangat tidak berbobot kalau nggak boleh dibilang ” tolol “..kelihatan sekali bahwa anda bukanlah dari suku Batak !seharusnya, sebagai ” guru ‘ dan juga berdomisili di Sumatra Utara, yang walaupun bukan ber-etnis batak,pasti sedikit banyak mengerti mengenai batak dan daerah2, minimalnya daerah2 yang di dalam buku Tuanku rao.

    Keliahatan sekali, tulisan tersebut..banyak salahnya dan menyimpang..dan ini-lah yang anda teruskan ke apara anak didik saudara? betapa membahayakan..dan menyesatkan..

    sekali lagi,sebelum mengeluarkan pernyataan,telitilah lagi dan bandingkanlah dengan fakta,sayang sekali,gelar akademis anda sangat tercoreng dan turun di mata saya,dan mungkin juga bagi oarng yang mengetahui sejarah dan daerah di Sumatra Utara.

    Belajar lagi Profesor..

  2. Adolfo
    Jun 17, 2010 @ 09:53:59

    Pertama2 saya haturkan Horas,

    Beberapa isi buku ini ada kebenarannya dan sebagian lagi ada yang kurang.

    Disebutkan bahwa orang2 Islam dari Angkola, Sipirok, Padangbolak dan Mandailing membantai orang2 Toba di zaman Paderi. Menurut sejarah turun-temurun orang2 tua kita yang hidup dari zaman 1800-an, sebenarnya ada hal terbesar dibalik itu……anda tidak menguasai seluruhnya sejarah Batak. sejak kekalahan Sumatera terhadap India (Rajendra Cola), terjadi perpecahan masyarakat Batak dan terpecah menjadi kerajaan2 kecil sehingga pihak pewaris kerajaan migrasi ke daerah selatan. Dalam kurun yang sama terjadi perdagangan budak di dunia. Kerajaan2 kecil di Toba secara terus menerus melakukan penjarahan, pencurian dan penculikan manusia untuk dijadikan budak (HATOBAN) untuk dijual ke Sumatera Timur dan Semenanjung Malaysia. Toba yang pagan waktu itu adalah manusia2 yang sangat primitif dan buas……sampai hari ini masih tertanam dalam pikiran orang2 Sipirok. Kita beruntung punya kerajaan sendiri di Angkola Sipirok yang tidak bisa lagi diganggu orang2 Toba sejak Ompu Palti Raja.

    Tentu saja bagi orang Selatan yang sudah mayoritas Islam (agama yg universal), ingin mengurangi gangguan dari serangan masyarakat primitif tersebut….tidak ada pilihan kecuali ditaklukkan dan diberikan pencerahan ke arah yg lebih baik. (saya kira hal sama yg dilakukan Nonmensen dan Belanda). Dinasty Sorimangaraja di Sipirok dan Dinasty Siregar (Ompu Palti Raja) kebetulan secara politik memiliki dendam yang sudah berlangsung selama 500 tahun terhadap Toba.

    Menurut saya 500 tahun lebih daerah Toba berada dalam dunia kegelapan (perang, budak/jappurut/hatoban, pengorbanan manusia, merampas dan pagan).

    Patut kita syukuri dengan datang nya Islam dan Kristen mengembalikan kita ke zaman sebelum datangnya Rajendra Cola. Sebagai bonus, akhirnya kita juga sudah pergi ke sekolah dan mentransformasikan kita menjadi bangsa yang siap lebih maju ke depan.

    Sayangnya pengarang agak sedikit ke-barat2an, menurut saya agak mirip dengan Willem Iskandar (yg seperti katak di bawah tempurung). Kita cuma diajak sekolah tanpa arah dan tujuan berbangsa yang jelas, sehingga kita menjadi bagian kecil dari komunitas Indonesia.

  3. Trackback: Tanah Batak dan Islam: KASUS TUANKU RAO « 'nBASIS
  4. Anonymous
    Feb 27, 2014 @ 12:35:21

    buku tuanku rao sudah pernah kubaca, faktanya daerah daerah yang disebut diatas benar adanya.salah satu contoh keberhasilan islam menanamkan tajinya di tanah batak ,di kota porsea ada marga sitorus yng menjadi islam. buktinya sampai hari ini ada mesjid di belakang terminal porsea.

  5. Ahmad
    Jun 15, 2015 @ 08:12:16

    gerakan paderi tak jauh beda dengan gerakan isis sekarang, aliran wahabi-syiah ingin menyebarkan islam yang ‘murni’ dengan membumi hanguskan kepercayaan lain.

  6. Prasodjo Kuncoro
    Nov 18, 2015 @ 16:26:58

    Untuk melihat motif dibalik tulisan-tulisan seperti ini mudah, it’s a very simple basic common sense. Di Sumatra pada waktu itu ada 2 kerajaan Islam yang kuat yaitu kerajaan Aceh dan kerajaan Pagaruyung di Minangkabau yang notabene adalah mususuh Belanda. Jika kedua kerajaan ini bersatu melawan Belanda tentu saja akan merepotkan mereka. Maka Belanda membentuk buffer zone diantara kedua kerajaan tersebut yaitu daerah Toba, yang memicu perang Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII. Tentu saja masyarakat yang tinggal di buffer zone harus didoktrin agar tidak bersahabat dengan daerah tetangganya. Sampai sekarang masih nampak sedikit “ketidak cocokan” diantara sebagian orang-orang Toba dan Mandailing (you know what)

  7. rifki
    Apr 03, 2016 @ 03:27:29

    saudaraku saleh w siregar, cukup menggelitik ulasan anda, tapi menggelitik aja tidak cukup untuk menjadi pembenaran …

  8. Anonymous
    Apr 24, 2016 @ 07:10:26

    Untuk mengetahui kebenaran buku Mangaraja Onggang perlu diketahui bahwa beliau adalah putra Sutan Martua Raja dan cucu dari Pdt. Thomas Siregar murid Nomensen orang Sipirok pertama yang menggunakan marga sebagai fam.
    Padahal marga itu berarti jalan yang digunakan sebagai nama kesatuan kampung yang satu jalan/jalur, sementara karya (huria, kuria, kerio, rio, kerie, rie) berarti orang yang membuka jalan (pembuka kampung).

    Ketidaktepatan Willem Iskander, Nommensen dan Sutan Martua Raja yang menjadi sumber inspirasi penulisan sejarah batak (terutama toba) ini akan menjadi banyak hal yang lebih menggelikan lagi kalau dikupas satu per satu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: