MENELUSURI SIMBOL DAN MAKNA HOTEL DE BOER DI MEDAN PADA MASA KOLONIAL DAN PASCA KOLONIAL

MENELUSURI SIMBOL DAN MAKNA HOTEL DE BOER DI MEDANPADA MASA KOLONIAL DAN PASCA KOLONIAL

Oleh
Ida Liana Tanjung, M.Hum

Abstract
This paper is a report of an investigation of the symbols and meanings of the Hotel de Boer in Medan. When the colonial city of Medan is viewed as the centrepoint of a plantation economy, the significance of the Deli Maatschappij is indisputable. The modern town of Medan owes its existence to the decision taken by the Deli Maatschappij in 1869 to establish its administrative centre on a site at the confluence of the Barbura and Deli Rivers, about 10 km south of Labuan-Deli. Around 1880, eleven years after the establishment of the Deli Maatschappij, the embryonic urban grid was already recognizable, although the environmental atmosphere had nothing to do with the morphology of a townscape. Around the turn of the twentieth century Medan had become a modern city. Modernisation was visible in all aspects, like in the construction and the luxurious Hotel de Boer. But the colonial society was based on racial segregation; the distinction between the constituent population was even established by law, so a part of modern facilities was established to the europe like Hotel de Boer and a clubhouse (societeit) the White Club. Hotel de Boer become not only a symbol of modern cultivation city but also racial discrimination in colonial society. After the Proclamation of independence, Hotel de Boer is called Dharma Bakti then Dharma Deli. As showed above the changing name of Hotel de Boer reflected the transferring of power from colonial to Republic.

Kelak, pikirnya bila rumah baru dan permanen telah didirikan, bila semuanya sudah lebih diadabkan, aku akan menulis kepada Rene’e bahwa dia bisa datang. (Lulofs. 1985: 18).

Pendahuluan
Kerinduan akan sebuah peradaban adalah perasaan yang dirasakan oleh para tuan kebun yang terasing dalam sunyinya rimba Sumatera Timur dan Medan adalah satu-satunya tempat yang selalu mereka ingin kunjungi saat hari besar (hari libur). Hanya untuk sekedar mengingatkan bahwa mereka masih menjadi bagian dari peradaban dan Medan adalah pusat peradaban. Tempat dimana segala simbol-simbol perkotaan modern yang beradab dapat diakses dengan mudah oleh kekayaan yang dimiliki para tuan kebun. Bioskop yang menayangkan film-film bagus, clubhouse (societeit) tempat berdansa dan berpesta dengan sesama teman-teman Eropa dan Hotel dengan segala kemewahannya adalah sebagian bentuk peradaban yang selalu ingin mereka nikmati.
Sejak industri perkebunan berkembang dengan pesat pada akhir abad ke-19, Medan telah diubah oleh para pengusaha perkebunan menjadi perkotaan yang maju. Pusat peradaban tempat orang-orang beradab berkumpul. Berbeda dengan perkebunan di pedalaman Sumatera Timur, tempat yang seringkali dianggap tidak beradab orang para tuan kebun. Setidaknya itu adalah kesan yang paling menonjol dari sejarah perkotaan Sumatera Timur yang dipaparkan oleh para sejarawan Indonesia dan Asing, mulai dari T. Luckman Sinar, Suhardi Suhartono, Cor Passhier dan Dirk A. Buiskool. Novel-novel yang terbit pada masa kolonial juga sering menggambarkan tentang pernak pernik kemajuan kota Medan pada masa kejayaan industri perkebunan di Sumatera Timur.
Di dalam sejarah perkotaan Indonesia, Medan memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan kota-kota yang dibangun pada masa kolonial. Pada umumnya, kota-kota di Indonesia tumbuh dan berkembang akibat dari perluasan politik dan ekonomi pemerintah kolonial Belanda, akan tetapi Medan adalah kota yang tumbuh dan berkembang atas inisiatif, keuletan, kegigihan dan kreativitas pengusaha swasta (Passchier, 1993: 50).
Meskipun dibangun oleh pengusaha perkebunan tetapi wajah perkotaan Medan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kota-kota kolonial lainnya. Wajah perkotaannya tetap dihiasi dengan simbolisasi rasisme yang kental. Morfologi kota Medan menyiratkan akan hal ini. Di dalam bentuk terdapat teks: dan teks kota Medan memiliki kekentalan kolonialisme dan rasisme yang terasa. Oleh karena itu, sebuah pandangan terhadap pembangunan kota adalah pandangan yang sifatnya harus politis. Dalam tekstualitas kota tertempa sebuah penyataan akan sistem kekuasaan tertentu. Di dalamnya terlihat mereka yang berkuasa dan mereka yang tidak.
Bentuk tata ruang kota Medan dan segala hal yang ada dalam ruang pada satu waktu tertentu adalah teks yang dapat dibaca dan memberikan makna tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya dan membacanya. Cara orang membaca teks juga akan selalu berbeda dari satu ruang ke ruang yang lain, atau dari satu waktu ke waktu yang lain. Pembacaan itu akan terus berubah seiring dengan berjalannya waktu. Begitu juga dengan pemaknaan yang diberikan terhadap teks itu. Sebuah teks akan menjadi simbol jika makna yang diberikan kepadanya berada diluar teks itu sendiri. Ruang dan Bangunan yang ada di kota Medan tidaklah bisu, dia mampu menyuarakan tentang siapa dirinya dan untuk apa dan siapa ia dibangun dan apa makna dirinya bagi orang yang melihat dan menikmatinya. Kesawan bagi orang Medan bukan hanya sebuah nama tempat akan tetapi ia adalah simbol keberadaan dan dominasi etnis Cina dalam sektor ekonomi, selain itu Kesawan adalah jejak masa lampau politik diskriminasi Belanda di Medan, yang juga dapat dijumpai di pemukiman orang keling yaitu kampung Madras (kampung keling). Bukan hanya nama tempat, tetapi gedung-gedung yang menghiasi kota Medan juga memiliki simbol dan makna tertentu. Berbagai bangunan modern didirikan pada awal abad ke-20 diantaranya Kantor Pos, Gedung PT. London Sumatera (Lonsum), Balai Kota, Menara Air, kolam renang Paradiso dan Hotel De Boer. Saat ini bangunan-bangunan tersebut dikategorikan sebagai Bangunan Tua yang dianggap sudah ketinggalan jaman dan tidak memiliki makna apapun bagi sebagian besar penduduk kota Medan, sehingga lambat laun gedung-gedung tersebut mulai terancam dimusnahkan. Padahal jika ditelusuri kembali sejarah bangunan-bangunan tua ini, maka dapatlah diketahui bahwa mereka adalah saksi dari jejak perkembangan kota Medan. Mereka adalah bagian dari kelampauan kota Medan yang membentuk kekiniannya. Setiap bangunan memiliki simbolisme dan makna tersendiri pada masa lalu dan terkadang simbolisme masih tetap bertahan hingga masa kini. Dengan memahami simbol dan makna gedung-gedung tua ini maka diharapkan akan muncul kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestariannya.
Paper ini tidak bermaksud untuk memaparkan seluruh simbolisme dari Bangunan-bangunan Tua tersebut di atas, akan tetapi hanya memfokuskan simbol dan makna yang dimiliki Hotel de Boer pada masa kolonial dan pascakolonial, salah satu Hotel terbesar di Hindia Belanda pada masa kolonial dan memiliki keunikan tersendiri.

Medan versus Perkebunan
Pada tahun 1869, ketika Jacobus Nienhuys pertamakali membangun kantor pusat Deli Maatschappij di kampung Medan Puteri yang terletak di tepi sungai Deli, dia mungkin tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa daerah itu akan menjadi pusat kota yang ramai. Secara berangsur-angsur, Medan mulai berkembang menjadi kota perkebunan. Tempat dimana orang dari berbagai negara dan etnis berkumpul. Eropa, India, Cina, Melayu, Batak dan Jawa berkumpul di Medan. Industri perkebunan di Deli memang melibatkan seluruh kelompok masyarakat ini dan Medan telah berubah menjadi melting pot.
Perkembangan industri perkebunan yang demikian pesatnya menyebabkan Nienhuys membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun hal ini tidak dapat terpenuhi oleh penduduk lokal, yaitu Batak dan Melayu. Karena tidak banyak dari mereka yang tertarik bekerja di perkebunan. Kekayaan alam Sumatera Timur telah begitu memanjakan mereka. Laut, danau dan sungai dengan limpahan ikan yang dapat diambil setiap saat laksana kolam susu bagi orang Melayu yang tinggal di pesisir dan orang Batak yang tinggal di tepi Danau Toba. Hutan dan gunung juga tidak jemu-jemu memberikan hasilnya kepada mereka tanpa harus banyak bekerja keras. Gambaran tentang kekayaan alam Sumatera inilah yang dijadikan sebagai penarik kuli-kuli kontrak dari Jawa dan Cina.
Kekayaan yang melimpah dari industri perkebunan di Deli sebagian besar tercurah ke Medan. Hal ini tampak dari pembangunan gedung-gedung perkantoran, pusat hiburan dan perumahan di Medan. Surat kabar, surat-surat yang dikirimkan dari tuan kebun untuk kekasihnya, sanak famili dan teman-teman yang ada di Eropa ternyata begitu mempesonakan dan mendorong orang-orang Eropa untuk datang ke Deli dalam jumlah besar.
Namun terkadang, apa yang diimpikan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, di kalangan orang-orang Eropa, cerita tentang Deli bukan hanya cerita tentang keberhasilan akan tetapi penyesalan mereka yang sangat mendalam karena telah terjebak dalam perkebunan yang berada di tengah-tengah rimba raya yang sunyi. Jiwa mereka meronta, seakan-akan mereka telah berada di ruang dan waktu yang salah. Tetapi kondisi dan tuntutan hidup memaksa mereka untuk terus menjalani rutinitasnya mengolah perkebunan, sembari menantikan masa cuti mereka tiba dan penantian itu tidaklah sebentar tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.
Kerinduan orang-orang Eropa akan keindahan tanah kelahirannya sering membuat mereka frustasi. Kemajuan di tanah kelahiran. Kenyamanan, keteraturan, kebersihan, modernitas, udara dingin, padang rumput dan indahnya bunga-bunga di musim semi adalah rasa rindu yang kerap kali muncul dan terpendam dalam hati dan pikiran mereka. Sangat berbeda dengan yang mereka alami di perkebunan. Rumah yang mereka tempati hanya bisa mewakili kata memadai bukan nyaman. Bagaimana kondisi kehidupan orang-orang Eropa di Perkebunan digambarkan Madelon Szekely Lulofs dalam novelnya yang berjudul ” Rubber ”, yang ditulis pada tahun 1932 dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1985 dengan judul Berpacu di Kebun Karet.

Rumah orang Eropa tinggi di atas tiang: kotak empat persegi, terbagi dalam empat buah segi empat yang lebih kecil oleh sekat setengah tinggi dinding yang terbuat dari papan berminyak tanpa ketaman. Kamar tamu dipasangi kawat jaringan nyamuk. Di atas tampak batang-batang yang disatukan dengan rotan sebagai tali, disana sini dipasak dengan paku raksasa untuk mendukung atap rumbia itu. Pada waktu senja, tikus-tikus berkejaran dan susul menyusul dengan cepat. Cecak-cecak menempel di dinding mengawasi dan menanti nyamuk-nyamuk yang masih berdenging berkeliaran di ruangan yang luas.
Bila embusan angin mendesir menerobos atas, lapisan debu hitam yang amat halus pun beterbangan, melekat di meja, piring, rambut, tangan dan ranjang. Debu juga hinggap di atas Mebel. ………..Kursi rotan yang agak goyah, seuntai kunci, sebuah meja tulis, sebuah meja, sebuah ranjang dan yang terpenting dari semuanya: sebuah saringan air. Sebuah tangga berderak-derak menghubungkan kamar tidur dengan lantai dasar yang lembab, jamuran, dan licin, dan sebuah tong semen berisi air untuk menyiram tubuh: itulah kamar mandi! Jika mandi, gantungkan dua helai anduk untuk menutupi lubang sepanjang dinding, karena tentu saja orang tidak ingin mempertontonkan dirinya yang bugil seperti ketika lahir kepada para pelayan. (Lulofs, 1985:13).

Tergambar bagaimana kondisi kehidupan di perkebunan yang merepresentasikan ketidaknyamanan, kotor dan ketidakberadaban . Perkebunan bagi para tuan kebun hanyalah persinggahan sesaat bagi mereka. Tidak pernah ada yang bercita-cita untuk menghabiskan hidupnya diperkebunan. Pada akhirnya mereka akan kembali ke negeri asalnya atau menetap di kota-kota besar di Hindia Belanda, seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung dan Medan.
Para tuan kebun membutuhkan tempat untuk melampiaskan ketidaknyamanan dan kepenatan di perkebunan. Medan, surga dunia yang baru saja diciptakan oleh perusahaan perkebunan menawarkan diri kepada para tuan kebun untuk ramai-ramai mengunjunginya dan menikmati segala kemudahan hidup. Medan menjadi impian bagi para tuan kebun di setiap hari besar (hari libur). Medan adalah simbol dari sebuah dunia yang beradab dan perkebunan adalah sisi lain dari dunia yang tidak beradab.

Hotel De Boer: Wajah Modernitas Kota Perkebunan pada masa kolonial dan pascakolonial
Pada awal abad ke-20 Medan menjadi kota Modern. Perusahaan listrik dibangun tahun 1897 dan Perusahaan Ajer Bersih didirikan 1905. di sana ada jalur telepon dan telegram dan jalan raya yang menghubungkan Medan dengan pantai dan pedalaman. Sejak tahun 1880 banyak bangunan baru yang dibangun. Pada tahun 1885 stasiun kereta api di Esplanade dan 1887 clubhouse (societeit) White Club mengikuti. Banyak bangunan lain mengikuti seperti Hotel De Boer, Balai Kota dan Java Bank. Modernisasi tampak disemua aspek, seperti dalam kemewahan Hotel De Boer (Passchier, 1993; Buiskool, 2005: 280)
Pembangunan Hotel De Boer mulai pada tahun 1898, dan Hotel ini menjadi terkenal sangat cepat di Hindia Belanda (Wright dan Breakspear dalam Buiskool, 2005: 280). Penamaan de Boer sendiri berasal dari nama pemiliknya yaitu Aeint Herman de Boer , seorang berkebangsaan Belanda dan pengusaha restoran GRIM di Surabaya. Pada awalnya, de Boer hanya membangun restoran dengan bar dan tujuh buah kamar saja, namun pada awal tahun 1930-an jumlah kamar Hotel de Boer tidak mampu menampung para tamunya, yang terdiri dari para pengusaha perkebunan dan pedagang asing. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan kota Medan sebagai pusat administrasi perkebunan di Sumatera Timur. Pada tahun 1909, Eint Herman de Boer kemudian meningkatkan usahanya dengan membuat sebuah perseroan terbatas dengan modal F1 200.000. Modal tersebut dipergunakannya untuk memperluas bangunan Hotel menjadi 40 buah kamar yang dilengkapi dengan 400 buah lampu (Sinar: 2006: 61). Seiring dengan berjalannya waktu jumlah kamar Hotel de Boer terus meningkat, bahkan pada tahun 1930 Hotel de Boer sudah memiliki 120 kamar yang dilengkapi dengan hall dan restoran (Koestoro, 2006: 55)
Madelon Szekely-Lulofs, dalam novel autobiografinya yang berjudul Rubber dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Berpacu di Kebun Karet) menggambarkan Hotel De Boer sebagai berikut:

Dekat sebuah lapangan yang luas, dengan disekitarnya jalan aspal yang luas terdapat Hotel yang paling utama di Medan, Hotel de Boer. Di tengah-tengahnya berdiri bangunan utama, dua tingkat tingginya: di bawah ruang dansa dan ruang makan dengan beranda yang besar. Di atas kamar-kamar penginapan. Pada kedua sisi bangunan utama terletak pavilyun, sebarisan panjang kamar, masing-masing dengan beranda depan dan kamar mandi; deretan kamar itu pada satu tempat dihubungkan dengan bangunan utama oleh sebuah gang yang tertutup, sebuah jalan bersemen, yang diatasnya ada atap. Antara bangunan utama dan pavilyun-pavilyun itu dibangun sebidang taman, sebuah jalan berkerikil, dibatasi sebidang lorong rumput yang kecil. Sepanjang lorong rumput itu kelihatan tiang-tiang batu kecil yang rusak tak beraturan: setiap malam hari besar, bila tuan-tuan kebun dengan keretanya yang dikendalikan sendiri pulang, dan tidak selamanya dengan kepala yang waras, tiang-tiang itu terlanggar roda-roda kereta hingga tampak begitu hancur. ( Lulofs, 1985: 32) …………. kamar yang cukup besar, dengan tembok batu serta lantai marmar dan terbagi dua. Dibagian yang satu terdapat sebuah menja dengan beberapa buah kursi dan sebuah lemari. Bagian kedua tertutup dengan kawat nyamuk, merupakan semacam lemari raksasa yang dipasangi jaringan kawat, dengan didalamnya terdapat tempat-tempat tidur. Sebuah pintu di samping lemari berjaringan kawat itu menuju kamar mandi, yang letaknya beberapa tangga lebih rendah dari kamar: sebuah lantai empat persegi, sebuah baik air dan ubin putih dengan sebuah ember kecil di tepi, dan sebuah dus. Bau lembab kamar mandi meliputi kamar tidur. Lihatlah, anehnya kandang yang mengitari tempat-tempat tidur kita.

Sungguh mengherankan cara Lulofs mengilustrasikan Hotel de Boer dalam novelnya berjudul Berpacu di kebun Karet. Pandangannya terkesan ambigu dan gambaran modernitas di Hindia Belanda memang demikianlah adanya. Pada awalnya dia mengatakan bahwa Hotel de Boer merupakan Hotel yang paling utama di kota Medan. Akan tetapi sebagai perempuan Eropa totok, dia tidak bisa menghilangkan pandangan Eropacentrisnya. Dunia timur dalam kacamatanya adalah sesuatu yang unik atau mungkin lebih tepat disebut aneh. Masyarakat dan budaya timur memang tampak aneh jika dihadapkan dengan Eropa. Hotel sebagai simbol modernitas kota ketika dihadirkan di Hindia Belanda, bentuknya menjadi terlihat aneh yang hampir mirip seperti kandang. Iklim tropish Indonesia memang sering menimbulkan masalah bagi orang-orang eropa. Selain panas, nyamuk juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan oleh orang Eropa di negeri tropish ini. Sehingga pada saat Aeint Herman De Boer membangun Hotel De Beoer pada tahun 1898, Hotel ini dirancang sebagai Hotel yang bebas nyamuk. Karena sengatan nyamuk adalah sesuatu ancaman bagi kulit-kulit putih eropa yang berkilau.
Hakikat simbol memang demikian adanya, simbol dapat diartikan suatu gejala (fenomena) di mana makna tertentu dilekatkan padanya. Atribut fenomena ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman kenyataan hidup sehari-hari yang berada diluar fenomena itu sendiri. Pengkaitan antara fenomena dan makna simboliknya, yang mengacu kepada sesuatu dari konteks yang berbeda, adalah dengan maksud tertentu (motivated), tidak asal-asalan saja. Simbol-simbol punya arti yang dapat dipahami, ia merupakan sebuah sinnbild. Namun demikian, ada peluang untuk berbeda penafsiran, sehingga setiap orang bisa menerjemahkan arti simbolik yang berlainan terhadap fenomena yang sama (Schefold dalam Colombijn, 2006). Begitu juga halnya dengan Hotel de Boer, terlepas dari sudut pandang Lulofs yang menggambarkannya laksana kandang, Hotel de Boer tetaplah gerbang bagi orang-orang Eropa di Sumatera Timur untuk memasuki dunia modern, yang membebaskan mereka dari dunia yang gelap menjadi terang benderang.
Sifat modernitas kolonial yang kental dengan diskriminasi rasisme menyebabkan segala bentuk modernitas ini hanya menyentuh sebagian kecil Pribumi (orang Indonesia). Sehingga kemodernitasan dan kemewahan Hotel de Boer juga hanya dapat diakses oleh orang-orang Eropa. Sedangkan Pribumi hanya dapat melihat keindahan dan kemewahan itu dari jauh tanpa dapat menyentuhnya, kecuali bagi para pelayan hotel yang dapat menyentuh dan melihat kemewahan itu tanpa dapat menikmatinya.

Hotel de Boer dalam Kenangan : Perubahan Simbolisme Hotel de Boer Pasca Kolonial
Pada awal kemerdekaan, semangat nasionalisme yang menggebu-gebu ternyata tidak hanya tampak nyata pada perlawanan fisik yang dilakukan oleh para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi semangat ini juga dapat dilihat di setiap sudut kota Medan, mulai dari nama jalan yang dahulunya berbahasa Belanda secara tiba-tiba berubah menjadi berbahasa Indonesia. Dalam pandangan pihak Republik, perubahan itu adalah simbol hilangnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Hal ini tidak hanya terbatas pada nama Jalan tetapi juga nama Gedung, namun merubah nama gedung tidaklah semudah merubah nama jalan, karena gedung-gedung tersebut melibatkan banyak kepentingan didalamnya, baik itu pemilik gedung (pihak swasta), pemerintah Kolonial dan pihak Republik.
Nasionalisasi terhadap bangunan milik Belanda baik milik pemerintah maupun swasta adalah tuntutan yang paling mendasar yang diinginkan oleh pihak pemerintah Republik Indonesia yang baru terbentuk. Salah satu bentuk nasionalisasi itu dapat dilihat dari pengambilalihan kepemilikan Hotel de Boer dari pemiliknya Eint Herman de Boer kepada pemerintah Republik. Setelah Hotel de Boer diambilalih maka nama Hotel de Boerpun mengalami perubahan. Pada awalnya Hotel de Boer berubah nama menjadi Hotel Dharma Bhakti, namun nama ini dianggap tidak mempresentasikan kota Medan yang dahulunya lebih dikenal dengan Tanah Deli. Nama Deli begitu tersohor di seluruh pelosok negeri dan luar negeri. Deli dikenal bukan karena di daerah ini terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kesultanan Deli, akan tetapi Deli memiliki komoditi yang begitu termasyur yaitu Tembakau Deli. Deli adalah simbol kemakmuran pada awal abad ke-20, kekayaan melimpah yang berasal dari perkebunan Tembakau menyebabkan daerah ini dikenal dengan Tanah Dolar. Atas dasar pertimbangan inilah maka nama Hotel Dharma Bhakti kemudian diganti dengan Hotel Dharma Deli. Bagaimanapun nama Hotel Dharma Deli bukan hanya sekedar sebagai penunjuk identitas kota Medan sebagai bekas kota perkebunan, akan tetapi jejak sejarah ini lebih memiliki nilai jual daripada nama Hotel Dharma Bakti.
Fenomena yang unik dari keberadaan hotel-hotel di Indonesia pada awal kemerdekaan adalah secara tiba-tiba hotel menjadi tempat tinggal para pejabat pemerintah dan militer yang tinggi secara jangka panjang. Karena sebagian besar pejabat pemerintah dan militer berasal dari Pusat (Jakarta). Sementara perusahaan Pemda PT Pembangunan Perumahan tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun perumahan para pejabat pemerintah dan militer ini, maka untuk sementara mereka tinggal di Hotel, termasuk Hotel de Boer.
Hotel de Boer adalah bangunan tua kota Medan yang didalamnya tercampur struktur kekuasaan masa lalu (Kolonial) dan masa kini (Republik). Apa yang dahulu diciptakan seringkali tidak dihancurkan. Apa yang dahulu mewakili suatu diskursus kekuasaan, seringkali tersisa , tertinggal dalam diskursus kekuasaan yang baru. Meskipun telah diambil alih oleh Republik dan nama Hotel de Boer telah berubah dengan nama Indonesia, bukan berarti hotel ini dapat ditempati oleh setiap orang yang merasa dirinya orang Indonesia. Hotel de Boer (Hotel Dharma Deli) tetaplah sebuah ruang yang begitu eksklusif dan mewah bagi wong cilik Indonesia. Struktur kekuasaan yang baru mewarisi struktur kekuasaan yang lama, penguasa baru mereproduksi simbol penguasa lama. Jika pada masa kolonial hanya para tuan kebun Eropa dan pedagang asing yang dapat menginap di Hotel de Boer, pada masa pascakolonial posisi ini digantikan oleh para pejabat pemerintahan dan militer Indonesia.
Pada awal tahun 70-an, Hotel Dharma Deli masih tetap dikunjungi oleh para tamu asing yang berasal dari Eropa. Pada umumnya sudah berusia lanjut. Berdasarkan keterangan yang diperoleh oleh seorang siswi SKKA (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas) yang sedang melakukan PKL di Hotel Dharma Deli pada tahun 1976, mereka adalah bekas Tuan Kebun di Deli yang sedang bernostalgia, mengenang kejayaan masa lalunya. Masih adanya kunjungan orang-orang Eropa ke Hotel Dharma Deli pada tahun 1970-an menyebabkan tidak berubahnya pencitraan penduduk kota Medan terhadap Hotel Dharma Deli sebagai hotel tempat menginap orang-orang Belanda. Ia masih tetap dianggap sebagai ruang milik orang Belanda. Makanan yang disajikan di Hotel Dharma Deli umumnya adalah makanan Eropa, akan tetapi pada saat sarapan pagi , para tamu eropa ini lebih senang menyantap makanan tradisional, seperti ketan dan lupis. Buah yang paling mereka sukai adalah nenas dan pepaya.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Hotel de Boer sebagai bangunan tua di Kota Medan memiliki simbolisme dan makna yang penting bagi sejarah perkembangan kota Medan. Hotel de Boer adalah simbol kemajuan kota Medan sebagai kota perkebunan dan simbol diskriminasi kolonial pada awal abad ke-20.
Perubahan nama Hotel de Boer menjadi Hotel Dharma Deli pada awal kemerdekaan (pascakolonial) juga menjadi simbol peralihan kekuasaan dari pihak kolonial Belanda ke pihak Republik Indonesia. Namun perlu diingat, bahwa kemerdekaan tidak serta merta menghapuskan pencitraan Hotel Dharma Deli sebagai simbol diskriminasi. Secara rasial, diskriminasi memang telah hilang, tetapi diskriminasi berubah bentuk menjadi diskriminasi secara sosial dan pekerjaan. Artinya pekerjaan dan status sosial seseoranglah yang menentukan apakah ia dapat menginap atau tidak di hotel Dharma Deli.
Terlepas dari simbol diskriminasi yang dimiliki oleh Hotel Dharma Deli, bagaimanapun hotel ini memiliki makna yang penting dalam sejarah kota Medan, ia menjadi identitas kota Medan yang akan selalu tetap ada dalam in gatan para pensiun an tuan kebun dan generasi penerusnya di negeri Eropa yang nun jauh di sana. Ingatan ini akan terus mendorong mereka untuk menelusuri jejak masa lalunya dan Hotel de Boer adalah bagian dari masa lalu itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Hotel Dharma Deli memiliki potensi wisata sejarah yang dapat menarik pengunjung dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu sepatutnya, Hotel de Boer atau yang saat ini dikenal dengan Hotel Dharma Deli harus dijaga kelestariannya agar tidak terancam musnah. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan tetap menjaga arsitek aslinya dan menampilkan nuansa kota perkebunan masa lalu dalam penataan ruangnya, tentunya harus diadaptasikan dengan perkembangan jaman.

Daftar Pustaka
Buiskool, Dirk.2005. Medan, A Plantation City on the East Coast of Sumatera 1870-1942 dalam Freek Colombijn (Ed). Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Colombijn, Freek. 2006. Paco-paco (Kota) Padang, Sejarah Sebuah Kota di Indonesia pada Abad ke-20 dan Penggunaan Ruang Kota. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Hartono, Soehardi. 2005. Medan; The Challenges in the Heritage Conservation of a Metropololis dalam Freek Colombijn (Ed). Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Koestoro, Lucas Partanda. 2006. Medan, Kota di Pesisir Timur Sumatera Utara dan Peninggalan Tuanya. Medan: Departeman Kebudayaan dan Pariwisata, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Medan.
Lulofs, M.H. Szekely. 1985. Berpacu Nasib di Kebun Karet. Jakarta; Grafiti Pers.
Passchier, Cor. 1995. Medan, Urban Development by Planters and Entrepreneurs, 1870-1940. Leiden: Research School CNWS.
Sinar, Tengku Luckman. 2006. Sejarah Medan, Tempo Doeloe. Medan: Perwira.
Szekely, Ladislao. 1953. Tropic Fever, The Adventure of a Planter in Sumatera. Singapore, Oxford University Press.

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: