FITNAH DAKE TERHADAP BUNG KARNO

FITNAH DAKE TERHADAP BUNG KARNO

Asvi Warman Adam

Tanggal 29 September 2006 rencananya CSIS menggelar Seminar,”Re-axamining 30 September 1965 as an Historical Event” di Jakarta.tema seminar ini memang cocok menjelang peringatan tragedy nasional tersebut. Namun yang menjadi persoalan adalahdi antara pembicara terdapat pula Anatonie C.A. Dake yang menulis buku Sukarno file, kehadiran Dake ini mengundang protes dari berbagai kalangan karena Yayasan Bung Karno sudah melaporkan yang bersangkutan dengan penerbitnya kepada Kapolri dan Kejaksaan Agung. Berkas pengaduaan itu sedang ditelaah oleh Kejaksaan Agung. Walaupun sudah dituntut secara huku tampaknya Antonie Dake tidak merasa gentar apalagi malu untuk datang berseminar di Jakarta.
Dake dan penerbitnya diadukan kerena penghinaan yang terdapat dalam buku Sukarno File. Bukan sekedar menyatakan bahwa Bung Karno “Biang yang sebenarnya” dari apa yang terjadi pada Paro Akhir 1965. Dake juga menuding bahwa sang proklamator “secara langsung harus memikul tanggung jawab atas pembunuhan enam Jenderal dan secara tidak langsung untuk pembantaiaan antara komunis dan bukan kmunis yang berlangsung kemudian”. Tuduhan Dake itu didasrkan kepada hasil pemeriksaan ajudan Presiden Sukarno,Bambang Widjanarko oleh Terpedu (Team Pemeriksa Pusat) Kopkamtib ang mkengungkapkan bahwa pada tanggal 4 Agustus 1965 Bung karno memanggil Brijen Sabur dan Letkol Untung ke kamar tidurnya dan menyatakan apakah mereka bersedia “meneriama perintah yang mencakup tindakan terhadap para Jenderal yang tidak loyal. Untug menyatakan kesediaannya”. Keterangan Bambang Widjanarko itu dijadikan alasan Dake untuk menyimpulkan bahwa Sukarno bertanggungjawab sacara langsung atas embunuhan enam jenderal.
Pengakuaan Widjanarko itu diterbitkan – dalam dua bahasa, Indonesia dengan Inggris – dengan kata pengantar dari Antonie Dake tahun 1974 di belanda dengan Judul The Devious Dalang. Yang menarik. Dake mengaku menerima laporan pemeriksaan itu di Hotelnya di Jakarta melalui pos dengan tampa alamat pengirim. Naska misterius itu diterbitkan pada tahun 1974 di Leiden, Belanda, dengan pengantar dari Antonie Dake berjudul, The Devious Dalang:Sukarno and the so-called Untung-pusch, Eye-witness report by Bambang S.Widjanarko.
Tahun 1990 pemerintah Indonesia melanggar peredara buku The Devious Dalang itu dengan SK jaksa Agung no: Kep-059/J.A/8/1990 dan instruksi Jaksa Agung no: Ins-014/J.A.8/1990 kedua tanggal 14 Agustus 1990. Tahun 2005, penerbit Aksara karunia menerbitkan Sukarno File yang terdiri atas 549 halaman, bagian lampiran (sekitar 300 Halaman) lebih banyak dari pada isi buku. Pada bagian apendiks itu dicamtumkan secara lengkap teks Ind onesia kesaksiaan Bambang widjanarko yang sebelumnya dimuat pada The Devious Dalang. Dengan demikiaan, sebetulnya penerbit Aksara Karunia telah menerbitka (ulang) buku yang pernah dilarang di Indonesia.
Dokumen Widjanarko itu sangat lemah dari sudut metodologi sejarah. Sebab, beberapa tahun setelah itu, ketika mendiskusikan buku Sewindu Bersama Bung Karno, Widjanarko mengakui bahwa pengakuaan tersebut diberikan secara paksa pada tanggal 27 Maret 2006 saya menyurati keluarga Widjanarko yang mengirimkam kliping harian Merdeka anggal 5 dan 7 Oktober 1974. pada Koran tersebut pada tanggal 5 Oktober 1974 diberitakan tentang dibukukannya kesaksiaan widjanarko. Namun pada tanggal 7 Oktober 1974, Bambang widjanarko menyatakan ia tidak tahu menahu, ia tidak kenal denagan Antonie Dake dan penerbit tersebut selain melanggar etika juga telah membocorkan atau menyebarluaskan rahasia Negara Indonesia kepada Pihak Iternasional?
Yang sangat mengherankan,Bambang Widjanarko meninggal tahun 1996 sedangkan buku The Devious Dalang terbit pada tahun 1974. dake sendiri dalam beberapa kesempatan berkunjung ke Indonesia. Dalam rentang waktu 22 tahun itu (antara 1974 sampai dengan 1996) kenapa dake tidak mewawancarai BAmbang Widjanarko. Selain sangat lemah dalam hal sumber, secara logika, kesimpulan Dake kurang kuat, kalu Sukarno ingin memecat Jenderal Jani atau jenderal lainnya, dia bisa melakukan setiap saat. Mengapa harus dengan cara berliku-liku? Mengapa Sukarno yang sedang berkuasa membuat persekongkolan agar terjadi kedeta yang bisa menggulingkan dirinya sendiri? Dengan kata lain, Sukarno mengkudeta dirinya Sendiri.
Sekarang kita di Tanah Air dalam suasana menuju Demokrasi. Perbedaan pendapat merupakan hak setiap warga, termasuk orang asing. Ada berbagai versi dalam penjelasan suatu kejadia sejarah, G30S/1965 termasuk dalam proses demokratisasi sejarah. Kalau menyatakan Sukarno terlibat G30S, saya kira boleh saja seperti halnya mengungkap Suharto melakan kudeta merangkak pada 1965-1967.Tetapi, menuding sang Proklamator dan bapak bangsa tersebut terlibat langsung dalam pembunuhan enam jenderal dan secara tidak langsung dalam pemantaiaan yang terjadi sesudahnya (yang memakan Korban paling sedikit 500.000 orang), itu sudah Fitnah.

Gaya Dake
Cara bertutur dan menulis Antonie Dake mirip komunikasi era klonial a ntara seorang “tuan” dengan penduduk tanah jajahan. Selain banyak pernyataan yang tidak akurat, ia sembarangan melontarkan tuduhan terhadap peja bat Indonesia waktu seperti marsekal, Omar Dani yang dijuluki “Playboy” dan jenderal Mursyid yang disdebut sebagai”Yudas”. Bung Karno dikamtakan memiliki sifat “megalomania” dan keangkaraan. Presiden sema kin “keras kepala dan Nagkuh”. Sukarno suga pernah “murka tak terkendali”. Pada saat yang sangat kritis, Sikarno malah “tidur-tiduran” di Halim.
Presiden Sukarno juga orang yang “menghianati janji dan mencabik kesempatannya” dengan komplotan G30S.Rencana pertemaan antara presiden Sukarno dengan jenderal Yani tanggal 1 Oktober 1965, Sukarno “sandiwara sinis” Sukarno melakukan permainan politik yang “cerdik dan licik”. Tanggal 1 Oktober 1965, Sukarno “menghilang”.
Presiden Sukarno “melarikan Diri” tanggal 11 Maret 1966 dari istana. “Sukarno muak dengan Yani”. Lebih dari itu,”presiden sebenarnya menghasut kedua perwira itu untuk bersekongkol dengan atasan-atasannya”. Yang dimaksud adalah Brigjen Sabur dan Letnan Kolonel Untung yang didalam Sukarno File dikatakan menemui Bung Karno di Kamar Tidurnya tanggal 4 Agustus 1965. Fitnah Dake terhadap Proklamator kemerdekaan Indonesia harus diselesaikan secara hukum.

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: