ETNONASIONALISME : TANTANGAN KEBANGSAAN INDONESIA

ETNONASIONALISME :
TANTANGAN KEBANGSAAN INDONESIA

Oleh :

Dr.phil.Ichwan Azhari, MS
(Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Medan)


1. Pengantar
Pada saat ini Indonesia seakan mengalami disorientasi baru paham kebangsaan yang mengancam keberlangsungan nasion-state (negara kebangsaan) Indonesia. Munculnya gerakan etnonasionalisme di banyak tempat di dunia telah menyebabkan paham lama tentang negara bangsa ditinjau ulang. Etnonasionalisme yang muncul di Indonesia seperti di Aceh, Papua dan Maluku yang muncul kepermukaan dalam 1 dasawarsa terakhir ini sebenarnya bukanlah sebuah fenomena baru. Akar-akar pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia awalnya justru berasal dari gerakan etnonasionalisme.
Munculnya gerakan etnonasionalisme yang merisaukan pemerintah pusat akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa tidak benar kita dari awal telah memiliki satu paham kebangsaan yang kokoh. Sebagian besar orang Indonesia yang terdidik menganggap munculnya keinginan merdeka beberapa wilayah itu sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita luhur bangsa Indonesia yang dasar-dasarnya telah diletakkan para bapak pendiri bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. Tapi ini sebuah konsepsi yang menyesatkan, yang memperlihatkan kaum intelektual kita telah dididik secara salah dalam memahami sejarah bangsa ini. Padahal paham kebangsaan Indonesia itu bukanlah sesuatu yang telah jadi, sesuatu yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Paham kebangsaan Indonesia adalah sebuah proses pertarungan yang masih dan terus menerus mengalami pembentukan.
Tulisan ini ingin menunjukkan bagaimana proses awal pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia yang berasal dari gerakan etnonasionalisme sebagai sebuah proses yang belum selesai yang kemudian dibelokkan seakan-akan sebagai sesuatu yang sudah selesai dan sudah final tanpa boleh digugat lagi.

2. Etnonasionalisme Pada Masa Awal Kesadaran Kebangsaan Indonesia
Sebagian besar orang Indonesia yang terdidik telah disesatkan dalam memahami masa lalu negeri ini. Van Miert (2003:xxi), seorang sejarahwan yang menulis disertasi tentang masa awal nasionalisme Indonesia menyebut telah terjadinya pembengkotan kanon sejarah Indonesia. Dimaksudkan Van Meirt sebagai kanon ialah versi sejarah yang dipertanggungjawabkan secara ideologis dan diturunkan oleh lembaga-lembaga resmi ilmu sejarah kepada khalayak ramai orang Indonesia melalui para guru dan penulis buku sekolah, wartawan, pembuat film dan penyusun program TV, seniman, dan pengarang cerita-cerita.
Reid (1983:53) menyebut bahwa nasionalisme modern manapun tanpa kecuali telah menafsirkan kembali secara sinkronis sejarah nasional serta nasib keberuntungan mereka sebagai bangsa. Hal yang mengejutkan tentang nasionalisme Indonesia adalah perkembangannya yang relatif lamban untuk menafsirkan kembali sejarah mereka menjadi satu susunan sejarah yang lengkap. Sebagaimana disebut Reid, buku sejarah nasional pertama terbit pada masa Jepang oleh Sanusi Pane “Sejarah Indonesia”. Bahkan di Malaysia lebih dulu sejarah nasionalnya ditulis, yakni tahun 1925 oleh Abdul Haji bin Haji Hasan “Sejarah Alam Melayu”. Dibandingkan dengan Malaysia, diakui Reid tugas para sejarahwan Indonesia lebih sulit. Berbagai masyarakat memiliki kebanggaan atas masa lampaunya sendiri yang terpisah-pisah, dan itu harus dirangkum dalam satu tema yaitu kesatuan baru yang batas-batasnya adalah batas-batas kolonial. (Reid ,1983:54)
Reid (1983) telah menunjukkan bahwa pada mulanya yang muncul di kalangan cendekiawan Indonesia awal abad 20 adalah pencarian dan perdebatan tentang nasionalisme yang berporos pada 3 arus utama, yakni, nasionalisme Jawa, nasionalisme Hindia dan nasionalisme Sumatera. Nasionalisme Hindia itu kemudian berubah menjadi nasionalisme Indonesia, karena nama Indonesia belum digunakan pada saat kaum nasionalisme itu memperdebatkan masa depan Indonesia.
Tapi perkembangan gerakan nasionalisme di Indonesia pada tiga arus utama yang disebut Reid di atas dalam perkembangan sejarah selanjutnya ingin saya lengkapi dengan munculnya nasionalisme bercorak Islam. Tiga arus utama nasionalisme yakni nasionalisme Jawa, nasionalisme Hindia dan nasionalisme Sumatra yang disebut Reid ingin saya koreksi menjadi tiga kategori yakni nasionalisme etnik, nasionalisme Indonesia dan nasionalisme Islam.
Munculnya nasionalisme etnik atau etnonasionalisme di Jawa sejak tahun 1917 dan di Sumatera sejak tahun1918 memperlihatkan bahwa sejak awal pembentukan kesadaran kebangsaaan Indonesia dimulai dalam perdebatan berbasis nasionalisme etnik. Hal ini turut memperkuat argument bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa bukanlah sesuatu yang telah lama ada ataupun sesuatu yang telah lama diwariskan. Kebangsaan Indonesia adalah sesuatu yang baru muncul pada awal abad XX dan itupun berawal dari evolusi nasionalisme etnik. Jika di beberapa negara lain gerakan etnonasionalisme merupakan suatu gejala baru, maka di Indonesia etnonasionalisme sudah ada dan merupakan sintesa sementara dari terbentuknya negara Indonesia. Dua etnonasionalisme yang muncul di awal pembenukannya itu dan pecahannya akan diuraikan lebih lanjut dalam paper ini.

3. Nasionalisme Jawa
Gagasan nasionalisme Jawa muncul dalam kelompok “Panitia nasionalisme Jawa” (Comitee voor het Javaans Nationalisme) yang didirikan tahun 1917, dengan kepercayaan bahwa masa depan mereka, sama dengan masa lampau mereka, haruslah Jawa. Orang-orang Sumatera dan Ambon diminta oleh cendekiawan Jawa agar tetap tinggal di daerahnya masing-masing karena selera, kultur dan sejarah mereka berbeda dengan Jawa. Penggagas nasionalisme Jawa ini juga menyebut kegemilangan sejarah kerajaan Jawa, yakni kerajaan besar Majapahit yang pernah menaklukkan banyak kerajaan di Sumatera, yang mereka akui telah menimbulkan kenangan yang kurang menyenangkan bagi orang Sumatera dalam berhubungan dengan orang Jawa (Reid,1983:58). Para nasionalis Jawa ini dikatakan amat gandrung kepada pola Jawa lama. Barangkali kata Reid mereka adalah kelompok pertama yang menggunakan masa lampau sebagai landasan kepribadian nasional dalam pengertian modern. Nasionalisme Jawa bagi Van Miert (2003: xxiv) adalah perjuangan budaya/politik yang khas menuju renaisans (kelahiran kembali) budaya Jawa dan menuju Jawa yang kuat merdeka yang diperintah oleh orang Jawa menurut angan-angan politik dan sosial orang Jawa.
Nasionalisme Jawa sangat fanatik dengan Majapahit dan Mataram yang gemilang itu. Para pemuda Jawa tidak lepas dari kecurigaan bahwa diam-diam mereka memimpikan kembalinya dominasi Jawa di Nusantara ini.
Pada tahun 1925 Jong Java yang menginginkan berdirinya Negara Jawa mengalami perpecahan. Satu faksi dari organisasi ini membentuk Jong Islamited Bond (JIB). Pendiri JIB menganggap hanya Islam yang mungkin menjadi dasar yang benar dari nasionalisme. Hanya dalam tempo 3 tahun organisasi baru ini mendapat sambutan yang hangat di mana-mana, mereka telah mendirikan 20 cabang dengan 2000 anggota. Sebagian dari mereka adalah mantan anggota Jong Java yang tidak puas, sebagian lagi pemuda yang belum pernah menjadi anggota perhimpunan. (Van Miert, 2003 :483).
Jong Islamited Bond menawarkan alternatif pengganti nasionalisme sekuler. Hanya lewat Islam kontak yang hilang antara kaum cendekiawan dan rakyat dapat dipulihkan. Bagi JIB, „rakyat tidak „hidup di dalam sejarah keemasan jaman lama, melainkan di dalam nasib malang jaman sekarang“. Munculnya JIB di sesalkan Jong Java. Perhimpunan baru berarti perpecahan padahal orang sedang mengusahakan persatuan. Jong Java melihat sebagian anggotanya tersedot masuk ke JIB. JIB berargumen bahwa mereka memperjuangkan persatuan nasional, walau dengan dasar Islam tapi orientasinya Indonesia. Van Miert (2003 :483)menyimpulkan bahwa dalam organisasi-organisasi pemuda itu ternyata ideologi keagamaaan dan ideologi sekuler ternyata tidak dapat disatukan.

4. Nasionalisme Sumatra
Munculnya panitia nasionalisme Jawa telah menimbulkan reaksi kalangan muda yang berasal dari Sumatra, Sulawesi dan Ambon. Pemuda Sumatra mendirikan Jong Sumatranen Bond (JSB) pada akhir tahun 1917 sementara awal tahun 1918 berdiri Studerenden Vereniging Minahasa dan Jong Ambon. Tujuan yang hendak dicapai pemuda Sumatra antara lain “membangkitkan minat terhadap negeri dan bangsa Sumatra”. Mereka bertekad melaksanakan tugas raksasa, yaitu menempa persatuan Sumatera dalam bentuk cita-cita berdirinya “Sumatraanche Natie” (Nasion Sumatera). Nasion Sumatra, seperti juga Nasion Jawa belum ada tapi harus diciptakan.
Para pelajar Sumatra lebih bersahaja. Mereka tidak menghayalkan kerajaan kesatuan Sumatra Raya di masa lalu, dan merekapun tidak mempunyai maksud-maksud imperialis tersembunyi. Teori Krom itu diketahui oleh kalangan mereka, tetapi untuk sementara tidak mengakibatkan mereka mengucapkan hal-hal yang sombong atau angkuh seolah-olah Sriwijaya – jadi pulau Sumatra—adalah tempat asal yang sesungguhnya dari budaya Jawa. (Van Miert,2003 :101).
Seperti halnya kaum nasionalis Jawa, para pemuda pelajar Sumatra menimba ilham dari masa lalu. Sejak berabad-abad Sumatra telah memainkan peranan penting sebagai tempat persinggahan di jalan perdagangan yang selalu sangat ramai antara Tiongkok dan India. Bagi pelajar Sumatra di Jawa, nama Sriwijaya membawakan bunyi istimewa mengenai masa lalu yang ajaib, mengenai kebesaran yang hilang. Sriwijaya memberikan pancaran pan-Sumatra. Itu adalah kerajaan yang di dalam angan-angan mereka dapat bersaing dengan Majapahit, kerajaan Jawa Timur yang mencapai kejayaannnya yang tertinggi pada abad keempat belas dan selalu menjadi sumber kebanggaan bagi orang Jawa. (van Miert,99-100) .
Tapi Jong Sumatranen Bond (JSB), organisasi pemuda Sumatra yang memotori gerakan nasionalisme Sumatera ini mengalami perpecahan setelah orang-orang yang berasal dari daerah Batak merasa tidak puas dengan dominasi orang Minang di dalam organisasi orang-orang Sumatra itu. Tahun 1925 para pelajar batak mendirikan Jong Bataks Bond (JBB). Menurut para pendirinya, nasionalisme Batak yang tersendiri jelas memiliki hak hidup. Mereka memiliki unsure-unsur nasionalis yang umum, yaitu wilayah dan bahasa, budaya dan sejarah.
Menurut van Miert (476-478) di samping sentimen nasionalis, motif-motif duniawi lebih memainkan peranan dalam usaha mendirikan perhimpunan yang khas Batak, yaitu : jengkel dengan keadaan Jong Sumatranen Bond yang slama beberapa tahun berada dalam keadaan limbung, dan menolak dominasi Minangkabau. Ada dua aspek yang menyolok pada perjuangan nasionalis batak itu. Pertama, muatan emansipasi yang cukup kuat, dimana orang Batak yang dicitrakan sebagai bangsa kanibal dalam beberapa tahun saja sudah mencapi peradaban yang baik. Kedua, para pelajar Batak merasakan kebutuhan yang sangat untuk mempertanggungjawabkan perjuangannya dalam hubungann nasionalisme mendatang. Menurut pandangan mereka, perjuangan yang satu tidak meniadakan perjuangan yang lain. Orang Indonesia sejati harus selamanya memperhitungkan kebhinekaan budaya. Menurut penulusuran van Miert sampai tahun 1928 terdapat 9 cabang Jong Batak, 5 di Sumatera dan 4 di Jawa. Suatu keberhasilan yang menurut van Miert (2003 :478) tak pernah dicapai Jong Sumatranen Bond.
Sampai tahun 20 an sebagaimana disebut Miert kebanyakan kaum nasionalis berpegang pada konsepsi etnis/budaya tentang nasion. Kebanyakan dari mereka biasanya membayangkan bentuk federasi dengan otonomi regional yang kuat. Gambaran tentang Jawa yang besar dan mandiri seperti didambakan oleh kaum nasionalis Jawa dengan sendirinya tidak menggugah seorang nasionalis Sumatra atau Minahasa. Jadi angan-angan yang khas Jawa tentang Hindia mendatang hanya bisa diterima oleh organisasi-organisasi Jawa yang sepaham. Keterbatasan demikian tentu juga berlaku untuk gambaran tentang Sumatra merdeka pada Jong Sumatra Bond. (Miert, 2003 : xxxi)

5. Penutup
Telah ditunjukkan bagaimna para nasionalis Jawa dan Sumatra berusaha sekuat tenaga mewujudkan Nasion Jawa dan Nasion Sumatra. Nasion-nasion yang mereka bayangkan itu sebagaimana diakui Van Miert, menampilkan diri lewat eksklusivitas masing-masing ; hanya kaum pribumi yang berlatar belakang etnis dan berciri budaya khas boleh turut serta. Pandangan mengenai nasion seperti ini sangat kontras dengan pandangan kaum nasionalis “Indonesia” yang memperjuangkan Indonesia Merdeka. Nasion masa depan kaum ini terbuka bagi semua kaum pribumi, tidak pandang etnisitas, religi, latar belakang buday, atau kedudukan sosialnya. Kelompok nasionalis pertama dinamakan van Miert (2003: xxi)sebagai kelompok kaum nasionalis yang moderat, sementara yang kedua, yakni nasionalis Indonesia dinamakannya sebagai kaum nasionalis yang radikal.
Tapi dalam pengertian kanon sejarah yang dibengkokkan selama ini, diberikan perhatian berlebihan kepada gerakan radikal dan gerakan nonkooperatif yang menjunjung tinggi cita-cita Indonesia, sedang kelompok-kelompok yang memiliki ide-ide lain mengenai Hindia yang merdeka di masa depan dan dengan cara-cara lain untuk mencapai tujuan itu direndahkan atau diremehkan. Padahal dalam sejarah nasionalisme Indonesia, kelompok radikal itu hanya dipraktekkan 6-8 tahun saja sementara sejarah pergerakan nasional berlangsung lebih dari 3,5 dasawarsa (Miert, 2003 : xxiii).
Jika kita menganggap bahwa wawasan kebangsaan Indonesia sebagai sesuatu yang telah selesai dan tidak pernah ada tempat untuk gerakan etnonasionalisme sementara setiap gerakan etnonasionalisme (seperti di Aceh, Papua dan Maluku) dijawab dengan bedil maka ini sebenarnya merupakan cermin dari kegagalan kita memahami sejarah bangsa ini dengan benar. Dimana-mana di seluruh dunia gerakan etnonasionalisme terbukti tidak bisa dipadamkan dengan senjata. Dalam beberapa kasus justru senjata dan kekerasan merupakan pupuk yang sangat subur dalam menumbuh kembangkan gerakan etnonasionalisme.
Warisan sejarah proses pembentukan bangsa Indonesia menyimpan begitu banyak bahan yang bisa dijadikan renungan untuk melakukan refleksi bagaimana agar gerakan-gerakan etnonasionalisme dapat didialogkan dalam rangka mengurus rumah tangga Indonesia agar tidak hancur.

Disampaikan dalam Seminar Nasional Wawasan Kebangsaan
Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)
Provinsi Sumatera Utara di Medan, 19 Juli 2007.

Kepustakaan

Miert, Hans Van . 2003. Dengan Semangat Berkobar. Nasionalisme Indonesia dan gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930. Jakarta : Hasta Mitra,Pustaka UtanKayu, KITLV.

Reid, Anthony 1983.„Jejak Nasionalis Indonesia Mencari Masa Lampaunya“, dalam Anthony Reid dan David Marr. Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka. Indonesia dan Masa Lalunya. Grafiti-Pers, cetakan I.

Scherer, Savitri Prastiti 1985. Keselarasan dan Kejanggalan. Pemikiran-pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX. Jakarta : Sinar Harapan.

Tambunan, Edwin Martua Bangun. 2004. Nasionalisme Etnik. Kashmir dan Quebek. Semarang : Intra Pustaka Utama.

Zon, Fadli. 2002. Gerakan Etnonasionalis. Bubarnya Imperium Uni Soviet. Jakarta : Sinar Harapan.

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: