PERKEBUNAN DELI: PASANG SURUT KULI KONTRAK PERKBUNAN

PERKEBUNAN DELI:
PASANG SURUT KULI KONTRAK PERKBUNAN


Sebelum masuknya pengusaha Belanda di Sumatra (Timur) East Coast of Sumatra, tercatat bahwa telah ada peneliti asing yang benar-benar melakukan penelitian (research) ataupun orang asing yang melakukan misi perjalanan dan niaga.
Orang yang patut dicatat tersebut adalah William Marsden (1770) dengan bukunya ”The History of Sumatra” (Sejarah Sumatra) yang di publikasikan tahun 1772 di Batavia. Penguasa Inggris di Bengkulu yakni Thomas S. Rafles menyebut buku tersebut sebagai ”Cahaya Penerang Sumatra”. Berdasar pada buku tersebut pula, Rafles menulis buku yang relatif sama bentuknya yakni ”The History of Java” (Sejarah Jawa). Kemudian yang patut dicatat adalah John Anderson yang melakukan perjalanan di Pantai Timur Sumatra pada tahun 1823 dengan bukunya yang sangat terkenal yakni ”Mission To The East Coast of Sumatra” (Misi Perjalanan ke Pantai Timur Sumatra). Sementara itu, pada tahun 1935, Edwin M. Loeb menulis buku “Sumatra, Its History and People” (Sejarah Sumatra dan Masyarakatnya).
Tiga buku yang disebut pertama merupakan risalah penelitian yang mendalam yang tidak sekedar mengungkap kondisi dan kekayaan serta potensi alam, folktale, keadaan geografi, kebudayaan tetapi juga cirri-ciri dan karakter masyarakatnya. Dalam kedua buku tersebut ditemukan kawasan-kawasan atau teritori Sumatra yang memiliki kekayaan alam yang besar seperti Angkola, Bangka, Belitung, Brandan, dan lain sebagainya. Kondisi ini tidak mengherankan apabila dikemudian hari Sumatra menjadi daerah yang diperebutkan oleh dua penguasa eropa yakni Belanda dan Inggris.
Disamping buku tersebut, ada juga yang menuliskan tentang keadaan Sumatra (Timur) seperti Tomme Pires dalam bukunya “Summa Oriental” yang banyak melukiskan dan menuliskan keadaan ARU Delitua ataupun Barus. Buku-buku tersebut kiranya telah menjadi inspirasi bahwa Sumatra (Timur) adalah suatu kawasan dagang internasional yang sibuk. Komoditas utama pada saat itu adalah seperti Kemenyan, Kopra, Kapur Barus, Lada ataupun Pala.
Belanda tercatat pertama kali masuk di Deli tahun 1641, ketika sebuah kapal yang dipimpin Arent Patter merapat untuk mengambil budak. Selanjutnya, hubungan Deli dengan Belanda semakin mulus. Tahun 1863 Kapal Josephine yang membawa orang perkebunan tembakau dari Jawa Timur, salah satunya Jacobus Nienhuijs, dari Firma Van Den Arend Surabaya mendarat di Kesultanan Deli. Oleh Sultan Deli, ia diberi tanah 4.000 bau untuk kebun tembakau, dan mendapat konsesi 20 tahun.
Kota Administratif Medan dibentuk melalui lembaga bernama “Komisi Pengelola Dana Kotamadya”, yang dikenal dengan sebutan Negorijraad. Berdasarkan “Decentralisatie Wet Stbl 1903 No 329″, lembaga lain dibentuk yaitu “Afdeelingsraad Van Deli” (Deli Division Council) yang berjalan bersama Negorijraad sampai dihapuskan tanggal 1 April 1909, ketika “Cultuuraad” (Cultivation Council) dibentuk untuk daerah di luar kota . Maka, tanggal 1 April 1909 ini sempat dijadikan tanggal lahir Kota Medan sampai dengan tahun 1975. Pimpinan Medan Municipal Board saat didirikan tanggal 1 April 1909 (Stblt 1909 No 180) adalah EP Th Maier, yang menjabat sebagai pembantu Residen Deli Serdang. Namun, sejak 26 Maret 1975, lewat Keputusan DPRD No 4/ DPRD/1975 yang didasari banyak pertimbangan, ditetapkan bahwa hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590.
Sejarah perkebunan Deli dimulai ketika langkah kerja Jacobus Nienhuys dan para pionir pengusaha perkebunan yang pertama kali menggarap atau membuka wilayah perkebunan di Sumatera Utara. Sejak awal dimulainya perkebunan ini menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat dilihat dari hasil perkebunan tersersebut yang pada saat itu menghasilkan tanaman tembakau ditanah Deli yang dirintis oleh Jacobus Niensuys dan terbukti pada saat itu tembakau yang dihasilkan merupakan produk yang sangat menguntungkan di pasar perdagangan di Eropa yang kemudian menjadikan Deli penghasil termasyhur di dunia kawasan produksi daun pembungkus cerutu. Usaha Jacobus Nienhuys terus berkembang mulai pada saat hasil perkebunan yang dibukanya sudah mulai menampakkan hasil dan tidak banyak telah masuk kepasaran perdaganan Eropa yang dibuktikan sejak pada1 November 1869 Jacobus Nienhuys mendirikan perusahaan Deli Maatschappij yaitu suatu perseroan terbatas yang beroperasi di Hindia Belanda (Breman 26:1997) dan pada tahun 1870 Deli Matschapaij memindahkan kantornya dari Medan Labuhan ke Medan tepatnya di Jalan Tembakau Deli Sekarang. Selanjutnya, Tahun 1871, Jacobus Nienhuys meninggalkan Medan. Empat tahun setelah kepulangan Nienhuys itu, telah terdapat sebanyak 40 saham kesertaan orang Eropa di perkebunan Deli serta terdapat 15 proposal yang menyatakan ikut bergabung. Komoditas yang mereka tanam tidak saja hanya Tembakau tetapi telah merembes ke sektor lain seperti Karet, Kopi dan Lada maupun Pala dan bahkan Kelapa Sawit. Pada tahun 1930, perusahaan perkebunan banyak yang mengalami kebangkrutan seiring dengan krisis keuangan (malaise) yang terjadi pada saat itu. Sehingga hal ini berdampak pada pemutusan hubungan kerja, dipulangkan ke negeri asal atau sebagian memilih bertahan dan menetap di Sumatra Timur.
Perkembangan Tembakau Deli yang sangat pesat, menjadi daya tarik tersendiri bagi pihak lain yang berkeinginan menanamkan modalnya di Deli. Jumlah pengusaha perkebunan di Deli tercatat pada tahun 1891 yakni sebanyak 169 perusahaan. Sedangkan pada tahun 1904 yang tersisa hanyalah 114 perusahaan. Adapun jumlah pengusaha perkebunan di Sumatra Timur hingga tahun 1904 adalah sebagaimana yang dicatat oleh Breman (1997:1), yakni:
Pasang Surut Jumlah Perkebunan di Sumatra Timur (1864-1904)
Tahun       Jumlah Perkebunan             Tahun     Jumlah Perkebunan
1864                        1                                      1887                114
1873                     13                                      1888                 141
1874                    23                                       1889                 153
1876                    40                                       1891                 169
1881                    67                                       1892                 135
1883                    74                                      1893                  124
1884                    76                                     1894                   111
1885                    88                                     1900                   139
1886                  104                                     1904                  114

Tidak salah apabila dalam bukunya, Tan Malaka (1937) yang pernah menjadi guru di perkebunan Senembah Tanjung Morawa pernah melukiskan keadaan Sumatra Timur yakni: “Goudland, tanah emas, surga buat kaum kapitalis. Tetapi tanah keringat air mata maut, neraka buat kaum proletar…Disana berlaku pertentangan yang tajam antara modal dan tenaga kerja, serta antara penjajah dan terjajah.. “.
Seperti yang telah disebut diawal bahwa Sumatra Timur merupakan lahan yang baik untuk perkebunan. Hal awal telah diingatkan oleh Anderson dalam buku setebal 416 halaman tersebut. Hal ini telah mengilhami pengusaha Eropa untuk merogoh keuntungan yang luar biasa besar di Sumatra Timur. Dampak dari pada pembukaan perkebunan tersebut adalah meningkatnya dan dibutuhkannya tenaga kerja yang luar biasa banyak. Diawal perintisannya, Nienhuys mencoba menarik kuli dari Singapura, Swatow maupun India Selatan. Sementara dari dalam negeri, diutamakan dari Bagelans, Semarang dan Surabaya. Anthony Reid (1987:81) mencatat bahwa perkebunan-perkebunan kopi yang dibuka pada tahun-tahun 1890-an, dan perkebunan-perkebunan karet, teh, kelapa sawit yang berkembang cepat sesudah tahun 1900, bergantung sepenuhnya pada pekerja-pekerja Jawa. Dibawah ini diperlihatkan jumlah pekerja (kuli kontrak di Sumatra Timur hingga kurun waktu 1929 yang diambil dari Anthony Reid (1987), yaitu:
Kuli Kontrak di Sumatra Timur
Tahun                       1884       1900            1916           1920          1925           1929
Cina                          21.136    58.516      43.689        23.900     26.800     25.934
Jawa                          1.771    25.224     150.392     212.400  168.400   239.281
India

dan lain-lain           1.528     2.460              –                 2.000           1.500       1.019

Laju pertambahan jumlah tersebut mempercepat proses peralihan daerah kasar dan rawan (Sumatra Timur) menjadi koloni Belanda, sebab dengan datangnya makin banyak orang Jawa melibatkan Pemerintah Hindia Belanda dalam masalah-masalah jaminan hukum dan peraturan bagi kuli, dan mencegah mereka yang tidak berdaya melakukan tindakan nekad.
Syarat-sysrat kerja sebagaimana yang telah dituangkan dalam Koeli Ordonansi 1880, yang menetapkan masa kontrak selama tiga tahun dan setelah masa kontrak tersebut si kuli harus dikembalikan ke tempat asalnya. Ketiadaan jaminan yang cukup dalam pelaksanaan prakteknya telah ditunjukkan secara dramatis sekali oleh Van den Brand dalam brosurnya de Millionen uit van Deli (Harta Jutaan dari Deli) pada tahun 1902. Apa yang membuat kuli kontrak tetap menjalankan tugas kerjanya adalah dengan keluarnya Poenale Sangtie, yankni suatu ketentuan yang menjadi bagian dari kuli ordonansi tahun 1880 yang mengikat kuli dalam kontrak. Isinya ialah bahwa setiap kuli kontrak yang meninggalkan pekerjaanya, yang lari dan yang mengabaikan kewajiban kerjanya bisa didenda atau dihukum penjara. Sidik jari kuli telah dibuat Belanda untuk mengejar pada saat kuli melarikan diri.

Dibawah ini adalah keadaan Kuli di Sumatra Timur sebagaimana yang disalin kembali oleh Reid (1987:83), yaitu:

Keadaan Tenaga Kerja Perkebunan di Sumatra Timur

Akhir Tahun-Kuli Kontrak dengan Poenale Sanctie Buruh -Bebas dibawah kontrak 1911 -Buruh Lepas- Jumlah
1928 –247.769 –30.909 –17.781 –296.456
1929 –266.234 –35.478 –18.790 –320.502
1930 –236.747– 40.304– 13.959 –294.010
1931 –137.083 –84.386 –17.005 –238.474
1932 –37.338 –140.259 –8.546 —176.143
1933– 11.699 –152.774– 6.125 –170.598
1934 –6.029 –152.080 –8.677 –166.766
1936– 6.396 –159.949– 15.136 –181.479
1938 –4.670 –185.360 –18.376– 208.406
Keadaan kehidupan Buruh di Perkebunan Deli tidaklah secerah reputasi Tembakau Deli di pasaran Eropa. Kehidupan para buruh kebun ini sangat memprihatinkan. Kemelaratan kuli yang bekerja dalam perkebunan ini merupakan bagian yang seringkali diangkat guna memberikan pandangan mengenai kekejaman sistem Poenale sanctie yang diterapkan kepada kuli kontrak tersebut. kehidupan yang serba melarat itu diakibatkan oleh tiga hal yakni: i) tingkat upah yang rendah, ii) fasilitas perumahan dan kesehatan yang minim dan iii) ketergantungan kepada kontrak.
Keadaan dimana buruh yang sangat melarat, seringkali memicu terjadinya penyerangan terhadap tuan kebun (planters). Anthony Reid (1987: 84) menuliskan penyerangan-penyerangan terhadap asisten Kebun Belanda oleh buruh di Sumatra Timur.
Serangan terhadap asisten Kebun Belanda oleh buruh di Sumatra Timur
Tahun 1924-1933
Tahun ——————–1924- 25 -26 -27- 28 -29- 30- 31- 32- 33

Penyerangan terhadap

asisten kebun ————–19 -28 -27 -17 -43 -68 -61- 17- 16- 8
Jumlah yang mati    ——-1 —3 —0– 1 —-2— 5 –2 – 0—0 -0


Erond L. Damanik, M. Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

5 Comments (+add yours?)

  1. Hendri
    Mar 09, 2009 @ 08:57:19

    thanks pak atas referensinya

  2. balandina
    Nov 26, 2009 @ 04:59:20

    pak….
    aq ambil y data2 na, buat tmbahan referensi tugas yg bapak kasih….

    peace…..

  3. ru...
    Dec 21, 2009 @ 07:31:15

    bang….tetap semangat ya… keren bgt tulisannya..

  4. Endy Ardhie
    Jun 10, 2010 @ 08:23:40

    Great post… Thanks for share😀

  5. Anonymous
    Sep 23, 2012 @ 15:10:23

    mas mana ne catatan pustakanya.. buat donkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: