KOMERSIALISI WARISAN SEJARAH

KOMERSIALISASI WARISAN SEJARAH

Oleh: Dirk A. Buiskool, MA

Teks untuk seminar
“Upaya Menyelamatkan Gedung Bersejarah di Kota Medan Dari Kehancuran”
Universitas Negeri Medan
31 Maret 2008

Introduksi
Medan masih memiliki banyak sisa-sisa masa lalu. Jangan diabaikan semua ini, jangan biarkan generasi mendatang tidak dapat menyaksikan apa yang terjadi di masa lalu. Apabila ini terus terjadi, Medan akan kehilangan suasananya yang unik, dan akan kehilangan juga jiwanya.

Perkembangan kota Medan dan gedung-gedung bersejarah
Dalam beberapa tahun terakhir kota Medan telah banyak berubah dengan munculnya berbagai gedung-gedung baru yang mengesankan, tetapi dengan mengorbankan gedung-gedung tua yang bersejarah. Untuk proyek-proyek pembangunan yang baru seperti Palm Plaza dan Cambridge Condominium, bangunan bersejarah telah dihancurkan. Gedung Mega Eltra di Jalan Katamso yang dulunya adalah kantor dagang perusahaan Belanda bernama Lindeteves-Stokvis dihancurkan pada tahun 2002 untuk pembangunan Palm Plaza. Kompleks perkantoran perusahaan perkebunan Sipef atau PT. Tolan Tiga di sudut antara Jalan S. Parman dan Jl. Zainul Arifin diratakan pada Oktober 2004 untuk memberi jalan bagi pembangunan Cambridge Condominium. Mengapa kedua gedung bersejarah tersebut harus dihancurkan? Sedangkan berdasarkan UU no. 5 tahun 1992, keduanya adalah benda cagar budaya yang harus dilindungi karena telah berusia lebih dari 50 tahun. Mengapa setidaknya tampak atau fasade bangunannya saja yang dipertahankan dan struktur bangunan baru didirikan di belakangnya seperti yang biasanya dilakukan di seluruh dunia? Di Malaysia dan Singapura bangunan bersejarah dilindungi. Tampak depan atau fasade bangunan tetap dipertahankan, lalu struktur bangunan yang baru dan lebih modern didirikan di belakangnya. Mengapa hal ini tidak dilakukan terhadap gedung Mega Eltra? Ironisnya, konstruksi proyek Palm Plaza saat ini sedang dihentikan. Gedung Mega Eltra seharusnya dapat diselamatkan, tetapi tidak ada kemauan politis (political will) dari pemerintah kota. Kompleks perkantoran Sipef adalah bagian dari area perkebunan di tengah kota Medan yang telah ada sejak tahun 1920. Gedung ini adalah bukti sejarah yang sangat jelas bahwa dulunya Medan adalah kota perkebunan. Ada banyak lokasi lain yang dapat menampung proyek kondominium. Di jalan S. Parman hanya memiliki sedikit gedung bersejarah yang menarik dan sekarang harus kehilangan kompleks Sipef yang bersejarah.

Burung walet
Perkembangan akibat bisnis burung walet adalah berdirinya bangunan gigantis empat atau lima lantai yang merusakkan lingkungan arsitektur binaan. Beberapa kali pemilik mengubah bangunan ruko tradisional Tionghoa mereka dan mendirikan ruang beton diatasnya, yang betul-betul tidak seimbang dengan bangunan sekeliling. Walaupun resminya hanya diperbolehkan bangunan ketinggian dua lantai, tiba-tiba berdiri empat lantai. Bagaimana ini dapat terjadi?

Kesawan
Di tahun 1998 diajukan proposal ke Pemda untuk menjadikan Kesawan kawasan dilindungi (dilestarikan) dikarenakan 70% bangunan memiliki karakter wujud arsitektur sebelum tahun 1940-an. Meskipun tertutup oleh papan iklan (billboards), masih banyak bangunan yang memiliki tampak aslinya di Kesawan. Sesungguhnya papan reklame tidak terlalu dibutuhkan, masih banyak cara menata menempatkan iklan dengan baik. Di Amsterdam contohnya, kita hampir tidak terlihat ada papan reklame karena ini mengganggu tampak asli bangunan. Pengunjung tertarik ke toko oleh penampilan yang lain. Kesawan memiliki arsitektur yang sangat bernilai sehingga perlu dilindungi selain karena Kesawan adalah jalan tertua dan berkarakter di Medan.

Masih banyak bangunan arsitektur sebelum 1940-an
Kenyataannya masih terjadi penghancuran bangunan arsitektur sebelum 1940-an di Medan. Menyinggung bangunan-bangunan yang terkenal di Medan selain Istana Maimoon dan Mesjid Raya, disini terdaftar: Gedung beratap hijau ‘Avros’ sekarang Rispa di sudut Jalan Pemuda dan Jalan Palang Merah. Di Jalan Palang Merah ke kiri ada gedung Jiwasraya, dibangun tahun 1920-an oleh Nillmij (Nederlandsch Indische Levensverzekering Maatschappij) perusahaan asuransi jiwa. Ke kiri lagi ada ‘Landschapsgebouw’ dibangun oleh sultan-sultan untuk rapat-rapat dengan pemerintahan kolonial di Medan sampai tahun 1942 yang nampak mau diruntuhkan juga. Di depan gedung Avros adalah Bank Mandiri, dibangun tahun 1924 untuk Escompto Maatschappij, disamping itu gedung kantor pariwisata, dahulu percetakan Varekamp, dimana Sumatra Post dicetak. Rumah Tjong A Fie dari tahun 1900, Tip Top dari tahun 1934, beberapa bangunan-bangunan dari tahun 1920 dan 1930-an, eks toko Buku Deli, eks Bank Modern, fasade masih ada, dibangun dahulu oleh Stork Company, bangunan eks gudang di Jalan A. Yani VI, setelah kantor Depnaker. Kalau kita melihat disekitar lapangan Merdeka, ada bangunan Harrisons & Crosfield (London Sumatra), Jakarta Lloyd, Bank Mandiri (eks Nederlandsche Handel Maatschappij), Balai Kota, Bank Indonesia, Hotel Dharma Deli (Hotel De Boer), Kantor Pos dan titi kereta api.
Bangunan yang terkenal lainnya adalah kantor PTP IX (eks Deli Maatschappij) Jalan Tembakau Deli, dua rumah sakit di Jalan Puteri Hijau, eks kompleks perusahaan kereta api Deli (Deli Spoorweg Maatschapij atau DSM) dengan villa-villa bergaya Eropa, diantara Jalan Sutomo dan Jalan M. Yamin (Jalan Serdang) di dekat Universitas Nommensen. Kompleks villa tua lainnya yang sangat bernilai adalah eks kompleks DSM di Pulau Berayan, lokasi dimana selama masa pendudukan Jepang orang-orang Eropa ditaruh di kamp konsentrasi. Tipikal rumah Melayu kita jumpai di Jalan Amaliun, sayangnya sebagian besar rumah Melayu sudah tidak ada lagi sebab terbuat dari konstruksi kayu. Contoh-contoh menarik masi ada di Gang Mantri, Jalan Brigjen Katamso. Yang sangat bernilai juga, ruko-ruko China di dekat Jalan Kesawan seperti Jalan Perniagaan, Jalan Mesjid, Jalan Sutoyo dan lain-lain.

Promosi Medan
Jikalau Medan ingin untuk mempromosikan kotanya sebagai daerah wisata internasional maka hal pertama yang harus dilestarikan bangunan bergaya arsitektur sebelum than 1940-an. Kalau kita lihat di kota-kota seperti Roma, Paris, London dan Amsterdam, jutaan turis yang setiap tahun disana pergi ke tempat itu bukan untuk menginap di hotel tingkat-tingkat berkonstruksi baja dan kaca, mereka ke sana karena atmosfir sejarah yang unik dengan bangunan-bangunan tua berabad lamanya, untuk menghirup nafas sejarah, untuk masuk ke dunia lain. Singapura sekarang menghargai seluruh bangunan tuanya yang tinggal sedikit lagi dan menjadi pertunjukan turisme. Medan memiliki masih banyak lagi dan benar-benar mengabaikannya. Seperti kita baca pada panduan perjalan internasional, Medan memiliki gambaran kota yang tidak menarik penuh polusi dan kotor. Hanya Mesjid Raya dan Istana Maimoon yang disebut sebagai tempat yang menarik. Hanya Istana Maimoon dan Mesjid Raya tidak dalam kondisi mengkhawatirkan tetapi justru bangunan arsitektur lain yang juga telah memberi karakter dan atmosfir pada kota Medan. Medan harus melestarikan keindahan yang sudah dimiliki daripada membangun bangunan tinggi berkonstruksi baja dan kaca. Sejauh ini saya belum menyingung kawasan Polonia dengan keindahan vilanya, sekarang kita berkali-kali menyaksikan vila perkebunan yang harmonis dihancurkan dan berganti dengan istana imitasi Hollywood, yang tidak serasi dengan penataan struktur kebun kawasan Polonia. Perhatian juga harus diberikan pada arsitektur bangunan arsitek Han Groenewegen, yang mendirikan rumah sakit Elisabeth, sekolah Immanuel, villa-vila Polonia, gereja Kristus Raja, kolam renang Medan (Paradiso), museum perjuangan (eks Arnhem Insurance Company) dan banyak bangunan lain. Beberapa contoh eks rumah perkebunan yang menarik adalah empat vila di Jalan Diponegoro di depan gedung BCA. Di depan hotel Tiara adalah SMP I dari 1912 tetapi sayangnya sudah diruntuh sama dengan gedung Lindeteves Stokvis (Mega Eltra) die Jalan Katamso. Mengapa bangunan sebagai SMP I dan gedung Lindeteves Stokvis tidak dijaga dan dipergunakan untuk fungsi lain?

Gerakan populer
Bagaimana melestarikan arsitektur pre 1940-an? Di Eropa, bangunan bersejarah didaftar dan tidak boleh diubah eksteriornya. Ruang dalam diberi fungsi baru seperti kantor, toko, café, hotel dan lain-lain. Berkantor di bangunan bersejarah akan memberi status dan eksklusivitas. Kita punya contoh seperti ini di Medan dengan Standard Chartered Bank yang menempati eks kantor Residen, di sebelah hotel Danau Toba. Untuk kesadaran akan kegiatan pelestarian warisan budaya ini perlu suatu gerakan populer untuk meyakinkan kebijakan lokal dan nasional. Di seluruh dunia kita saksikan bahwa proyek-proyek konservasi dimulai oleh gerakan populer, orang-orang protes karena bangunan tertentu yang memiliki arti khusus bagi mereka dihancurkan seperti sekolah dan sebagainya. Setelah itu perundingan-perundingan dimulai, melalui partai politik yang menempatkan konservasi dalam agenda politiknya, melalui media suratkabar, televisi dan radio. Contoh terbaik adalah organisasi yang terkenal di seluruh dunia Greenpeace yang menggunakan aksi luarbiasa untuk menarik perhatian dan dukungan politik. Di Medan di tahun 1998 telah berdiri Badan Warisan Sumatra (BWS) untuk melindungi warisan di pulaunya. Satu dari tujuan utamanya adalah melestarikan bangunan arsitektur sebelum 1940-an. Masyarakat harus mendukung BWS agar BWS memperoleh lobby politik yang lebih kuat.
Kota Medan sedang berpacu membangun beberapa fasilitas modern seperti hypermarket, pusat perbelanjaan dan kondominium. Bisa dimengerti niat Pemko Medan membangun Medan menjadi kota metropolitan dengan menghadirkan pusat-pusat perbelanjaan modern dan gedung-gedung pencakar langit. Tetapi mengapa dengan mengorbankan keberadaan bangunan-bangunan bersejarah? Salah satu contoh gedung tua yang unik adalah eks Medan Warenhuis, eks kantor Dinas Tenaga Kerja di Jalan Ahmad Yani VII. Bangunan bekas gudang yang diresmikan oleh walikota Medan yang pertama, Baron Mackay, pada tahun 1918 ini, memiliki plafon dan jendela-jendela besar dengan kaca patri atau stained glass yang indah. Tangga kayu yang unik masih bisa dijumpai di dalamnya. Gedung tua ini setelah diperbaiki dan direnovasi ke wujud aslinya bisa dialih fungsikan menjadi restoran, pertokoan eksklusif dan bahkan sebuah hotel.

Nilai komersial
Intinya adalah bahwa pelestarian warisan sejarah adalah mempunyai nilai komersial. Bangunan bersejarah dapat menghasilkan uang. Di Eropa, gedung perkantoran, restoran dan pertokoan yang paling eksklusif selalu dijumpai menempati gedung-gedung bersejarah. Berbagai studi mengenai komersialisasi gedung-gedung tua di inti kota Medan berdasarkan prinsip konservasi telah dilakukan oleh BWS bekerja sama dengan konsultan dari Jepang dan Belanda. Hasil studi tersebut telah pula dipresentasikan kepada Pemko Medan. Tetapi sayang, belum ada tindak lanjutnya. Jika saja ada kemauan politis dari pemerintah kota, tentu usaha konservasi warisan sejarah di Medan dapat berjalan lancar. Jika saja ada kemauan politis dari pemerintah kota, bantuan teknis dari dunia internasional, seperti dari UNESCO tentu akan mudah diperoleh. UNESCO telah memberikan penghargaan kepada kota Medan atas pelestarian Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin, dan mereka sedang menunggu gebrakan lainnya dari kota Medan untuk bidang pelestarian warisan sejarah ini. Masalah utamanya adalah minimnya kemauan politis dari pemerintah kota. Di samping itu, pengusaha kota Medan harus mampu melihat nilai komersial dari pelestarian warisan sejarah kota, harus mampu memandangnya sebagai bisnis property yang menguntungkan.
(Ekstrakt artikel-artikel D.A. Buiskool di koran Analisa, 24 Nopember 1999 dan 13 Juni 2005)

Pendapat Sumatra Post di tahun 1912
Sebagai perbandingan atas situasi pengambilan keputusan menyangkut pembangunan kota, ada baiknya kita menilik ke belakang ke masa-masa awal pertumbuhan kota Medan, yaitu pada tahun 1912, tahun pertama berdirinya Dewan Kota, semacam DPRD Kota masa kini. Kebetulan, pada tahun 1912, rencana-rencana sedang dibuat terkait pengembangan tata ruang kota Medan.
“Demi kepentingan lalu lintas, kesehatan masyarakat, kesejahteraan umum, dan keindahan kota, adalah penting untuk membuat sekarang sebuah garis panduan umum dan standar umum untuk perluasan kota, yang dapat digunakan utnuk beberapa tahun ke depan. Jika kita tidak melakukannya sekarang dan jika kita hanya bertindak menurut kepentingan jangka pendek sesaat tanpa mempertimbangkan konsekuensinya bagi masa depan, maka Median akan kehilangan reputasinya sebagai kota yang indah, segar dan nyaman dihuni… Oleh sebab itu, dalam hal pemberian izin membangun atau IMB untuk bangunan baru, maka bukan saja peraturan terkait garis sempadan bangunan dan aturan-aturan bangunan lainnya yang harus diperhatikan, tetapi yang harus juga dipertimbangkan dengan cermat adalah keterkaitan antara keberadaan bangunan baru ini dengan perkembangan kota di masa depan.

Sejak awal, kita harus tahu bagian kota yang mana yang harus disisakan sebagai lapangan hijau atau taman. Pusat kota Medan memiliki dua lapangan hijau yang indah, yang berfungsi sebagai paru-paru kota, yaitu Lapangan Merdaka dan Lapangan Benteng. Seiring pertumbuhan fisik kota, kehadiran taman hijau terbuka seindah itu semakin dibutuhkan. Yang menjadi pertanyaan adalah dari mana lahan untuk itu akan diperoleh? Haruskah semua lahan yang tersedia diperuntukkan hanya untuk bangunan? Seandainya lahan bekas arena pacuan kuda yang sekarang telah menjadi Pusat Pasar Medan, sebagian lahannya dialokasikan untuk taman atau ruang terbuka hijau, betapa nyamannya kawasan itu sekarang.

Kebutuhan akan lalu lintas yang lancar, sehingga bagian-bagian utama kota dihubungkan dengan banyaknya jalan-jalan secara langsung, adalah factor yang lain. Sehingga disadari bahwa kawasan seperti Labuhan membutuhkan jalan-jalan penghubung yang lebih pendek ke kawasan Serdang dan ke Petisah. Selama konstruksi jalan-jalan ini, harus disadari bahwa ada kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan tram (kereta api kota) akan beroperasi melintasi kota. Penetapan garis sempadan bangunan oleh karenanya sangat langsung terkait.

Perencanaan tata ruang seperti itu menjadi penting karena otoritas atau pemerintah local dan anggota Dewan Kota selalu berubah. Tanpa panduan seperti itu, pendatang baru akan selalu mempertanyakan pembangunan kota dan tidak mengetahui kebutuhan khusus dan tuntutan khusus dari sebuah kota, dan bagaimana mengadakan aksi yang terbaik.” (Sumatra Post 29-1-1912)

Membaca dan mengetahui hal di atas, kita mempunyai kesan bahwa penduduk Medan adalah sangat benar dalam menganalisa permasalahan perencanaan tata ruang kota. Kebutuhan akan ruang terbuka dan lapangan hijau lebih dirasakan sekarang dibandingkan 90 tahun lalu. Kota membutuhkan ruang terbuka untuk membuatnya menjadi tempat hunian yang lebih baik. Jika kita memperhatikan lahan bekas kebun binatang di jalan Katamso, mengapa tidak menjadikannya sebuah taman? Mengapa membangun setiap lahan penuh dengan bangunan? Mungkin berguna bagi anggota Dewan Kota yang sekarang untuk memperhatikan pendapat dari penduduk Medan yang dulu. Sangat menarik untuk diketahui bahwa telah ada rencana untuk membuat jalur tram melalui seluruh bagian kota. Bayangkan, ada tram di Medan, bisa menjadi sangat praktis dalam bidang transportasi.

Conclusie
Sangat diharapkan agar para pengusaha di kota Medan sudi membuka matanya dan berhenti menghancurkan gedung-gedung tua yang bersejarah. Marilah kita mencoba merawat, memperbaiki, dan merenovasinya. Marilah kita menjadikannya lebih indah dan lebih menguntungkan secara komersial tanpa harus menghancurkannya. Marilah kita berhenti menghancurkan ruko-ruko kuno yang khas Tionghoa, vila-vila dan gedung-gedung bersejarah peninggalan zaman kolonial, dan juga yang tidak boleh dilupakan adalah rumah-rumah panggung khas suku Melayu. Marilah berhenti menghancurkan bangunan-bangunan yang unik tersebut, yang mewakili jiwa dan karakter kota Medan. Pada akhirnya, kita akan menyesali kepunahannya. Melestarikan mereka dan mewariskannya kepada anak-cucu kita adalah tanggung jawab kita bersama.

Dirk A. Buiskool
(Sejarahwan, investor asing dan penasihat Badan Warisan Sumatra)

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

3 Comments (+add yours?)

  1. Anonymous
    Jun 21, 2009 @ 16:50:00

    Artikel nya sangat bagus semoga bisa membuka mata para bpk-bpk pejabat di dpr dan saya sangat menyesali tentang di hancur kan nya gedung mega eltera yg menurut saya memiliki keunikan dan kini semua telah menjadi kenangan bagi saya karna saya di besarkan persis di lingkungan gedung tersebut saya berharap semoga tidak ada lagi bangunan2 tua yg d hancurkan

  2. maratua
    Feb 08, 2010 @ 18:40:44

    Gedung bersejarah harusnya kita jaga bersama. karena memiliki nilai arsitektur dan historis. Nilai ini sangat berguna sekali untuk anak cucu kita nantinya. Agar mereka tidak lupa pengetahuan dan nilai heritage dapat dipelajari dan akan selalu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

  3. MarioG
    Feb 09, 2010 @ 15:04:42

    Oh kota ku Medan, betapa malang nasibmu, Wahai Bapak-Ibu wakil rakyat, sebelum semuanya sirna dalam ke-“edanan” jaman ini, buatlah sesuatu sikap yang dapat meninggalkan sejarah. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah dan menghargai pahlawannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: