Tjong A Fie Tokoh Multikulturalisme Kota Medan

Tjong A Fie tokoh multikulturalisme kota Medan Cetak E-mail
Sunday, 07 December 2008 17:01 WIB
WASPADA ONLINE

MEDAN – Tjong A Fie yang pernah hidup di abad ke-19 Masehi di Kota Medan, selain sebagai milyarder dan dermawan, juga dikenal sebagai tokoh multikulturalisme karena jasa-jasanya dalam usaha kerukunan pada masa membangun Kota Medan dan sekitarnya.

Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, Dr. Phil Ichwan Azhari, MS, di Medan, Minggu, mengatakan, begitu banyak kontribusi nyata yang diberikan Tjong A Fie dalam kerukunan masyarakat dan pembangunan kota Medan.

Beberapa peninggalannya yang masih dapat dilihat hingga kini di antarananya Masjid Raya Almashun, Istana Maimoon, Kereta Api Deli (DSM), Masjid Bengkok, Gereja di Jalan Uskup Agung Sugiopranoto, Balaikota Lama, kuil Budha China di Brayan, Kuil Hindu dan Jembatan Kebajikan Zainul Arifin.

Disamping itu, pengusaha asal Tionghoa itu juga tercatat kepeloporannya dalam dewan kota (geemente raad), pembangunan masjid di Tapanuli Selatan, perkebunan di Riau dan perkebunan di Deli (Sumatra Timur).

Ia juga pendiri Rumah Sakit China pertama di Medan, pendiri Batavia Bank dan Deli Bank.

Perkebunan yang dipimpinnya memiliki lebih dari 10.000 tenaga kerja dan luas kebunnya mengalahkan luas perkebunan milik Deli Matschapaij yang dirintis oleh Jacobus Nienhuys yang dikenal dengan Peletak Dasar Budaya Perkebunan di Sumatra Utara.

Beberapa peninggalan yang dibangun Tjong A Fie itu sangat penting artinya untuk dilindungi. Disamping sebagai bukti peninggalan sejarah Kota Medan, sekaligus menunjukkan kota ini yang berkarakter khas dan sejak dulu terkenal dengan kerukunannya.

“Semuanya itu bisa dikelola dan dikemas sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya Kota Medan,”katanya.

Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, salah satu peninggalan Tjong A Fie yakni Tjong A Fie Mansion sudah menjadi Benda Cagar Budaya yang dilindungi dan telah mendapat perhatian dari badan dunia Unesco sebagai peninggalan yang wajib dilindungi.
(wir/ann)

1 Comment (+add yours?)

  1. nbasis
    Nov 21, 2010 @ 18:42:16

    rasanya amat susah menerima predikat “multikulturalisme” ini.seseorang dalam kapasitas seperti dia yang menjadi kaya raya dan menduduki posisi lebih dari sekadar local big boss,di tengah penjajahan, entahlah.

    kini banyak juga orang memerankan diri seperti itu, tetapi tetap saja white collar crime, tergantung cara melihatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: