Perang Paderi Bukan Perang Agama

Perang Paderi Bukan Perang Agama

Rabu, 15 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Medan, Kompas – Perang Paderi dinilai sebagian akademisi bukanlah perang agama. Perang yang melahirkan tokoh Imam Bonjol ini terjadi semata-mata karena persoalan ekonomi. Dugaan ini juga berlaku pada penyerangan kaum Paderi ke tanah Batak yang terjadi karena kekurangan logistik.

Demikian disampaikan antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed) Usman Pelly, Selasa (14/10) di Medan, dalam bedah buku berjudul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi karya Christine Dobbin.

”Dia berhasil mengangkat kehidupan masyarakat Minangkabau dalam bidang ekonomi, agama, dan politik, tidak saja di kalangan orang Minangkabau, tetapi dalam pergumulannya dengan berbagai bangsa dan kelompok etnis lainnya,” tutur Usman.

Membaca buku ini, tutur Usman, orang dapat memahami sikap dan bagaimana orang Minangkabau menjadi Minangkabau dalam kurun waktu itu secara proporsional. Pada masa itu, kaum Paderi mendapat sambutan positif dari kalangan petani Minang. Kalangan petani sudah ada jauh sebelum kemunculan kaum Paderi. Petani Minang berpindah-pindah dari komoditas satu ke yang lain.

”Ketika emas mulai langka di perbukitan, mereka pindah ke lembah-lembah menanam lada, kapas, dan akasia. Ketika pasaran lada mulai jenuh, mereka beralih ke tanaman kopi,” kata Usman.

Gerakan Paderi merupakan gerakan Wahabi yang saat itu berkembang di Timur Tengah. Gerakan ini merupakan gerakan puritan untuk memurnikan agama Islam. Pada saat kaum Paderi berkembang di Minang, kondisi sosial masyarakat sangat rentan. Komoditas petani di pedalaman tidak terlindungi. Kerajaan Adityawarman yang berkuasa di Minang saat itu tidak mampu mengayomi petani.

”Gerakan radikal yang ditawarkan Paderi tidak hanya mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial yang terjadi, tetapi juga menjanjikan perlindungan dan pengayoman kehidupan ekonomi baru yang mulai berkembang saat itu,” kata Usman.

Keharusan sejarah

Oleh karena itu, gerakan puritanisme kaum Paderi di kalangan Minangkabau seperti keharusan sejarah. Hal ini ditangkap para pemimpin kaum Paderi. Mereka merasa mendapat tugas sejarah untuk memulai sebuah perubahan radikal dari bawah. Gerakan Paderi kemudian membuat gerakan radikal dengan menolak pengakuan kekuasaan Istana Pagaruyung dan perangkatnya.

”Selanjutnya kaum Paderi menempakan seluruh kekuasaan kepada tokoh Paderi. Mereka bertindak sebagai imam dan pemimpin perjuangan,” katanya.

Di tempat yang sama, guru besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Nur Ahmad Fadhil Lubis mengatakan, buku Dobbin mencoba menguraikan hubungan antara agama dan ekonomi.

Buku setebal 416 halaman ini mengungkap dasar geografis kebudayaan Sumatera tengah. Sayangnya, buku ini tidak menampilkan peta yang relevan dengan obyek bahasan.

Hanya saja, Fadhil mengkritik kurangnya pemahaman Dobbin tentang Islam.

Dugaan Perang Paderi bukanlah perang agama diperkuat antropolog Unimed Bungaran Antonius Simanjuntak.

”Dari penelitian saya, Paderi menyerang Tapanuli Selatan karena logistik di Sumatera Barat habis,” katanya. (NDY)

Diposting dari KOMPAS.COM

untuk keperluan Publikasi PUSSIS-UNIMED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: