Perkosaan Putri Hijau

Perkosaan Putri Hijau

Penghancuran Benteng Putri Hijau di Namu Rambe

Ironis sekali bahwa pada ‘Visit Indonesia Year 2008’, saat indonesia membangkitkan kesadaran tentang nilai benda budaya agar Nusantara menjadi tujuan wisat istimewa di Asia Tenggara, Perumnas justru melakukan perusakan benda budaya. Sebulan lalu, situs purbakala Benteng Putri Hijau di Namu Rambe (Kab. Deli Serdang) masih utuh, dapat diusulkan kepada UNESCO untuk menjadi Word Heritage Site (warisan budaya dunia). Sekarang, sebagian dari situs telah dibuldozer oleh pemborong Perumnas dan sebagian tanahnya menjadi tapak rumah-rumah sederhana. Kemungkinan besar, peluang kerjasama dengan UNESCO dan upaya peningkatan kemakmuran rakyat di wilayah bersejarah ini, sebagai objek wisata istimewa, telah hilang.

Mengapa masyarakat karo harus peduli terhadap kerusakan benteng kuno ini? BP3 Aceh dan Sumut, instalasi yang seharusnya melindungi situs-situs purbakala, nampaiknya tidak tahu atau tidak peduli adanya benteng unik ini. Mengapa kami harus sibuk untuk kelestarian benteng kuno ini? Benteng Puteri Hijau merupakan asset budaya unik masyarakat kuno. Kompleks benteng ini didirikan oleh masyarakat kerajaan Aru beberapa abad lalu, sebelum kedatangan orang-orang Aceh pada abad 16, dan jauh sebelum kedatangan orang-orang Belanda mengembangkan perkebunan tembakau di pertengahan abad 19.

Benteng Putri Hijau dibangun oleh suatu masyarakat yang memiliki local genius dalam ilmu pertahanan militer zaman dahulu. Mereka memanfaatkan topografi lingkungan dan memperkuat ciri-ciri wilayahnya. Pemukiman di dalam benteng sulit diterobos dan tidak dapat ditaklukan oleh musuh yang mengelilinginya. Menurut legenda, keberadaan Aru ditaklukan oleh durhaka.

Boleh dikatakan, penelitian Arkeologi maupun Ilmu Budaya belum dilakukan di wilayah Benteng Puteri Hijau. Walaupun begitu, sumber-sumber Belanda tahun 1872 menyatakan, di benteng ini, masyarakat setempat menemukan sebuah lela kuno (senapang locok, Red) dhiasi prasasti bertulis huruf Jawi dan kata-kata Karo maupun Melayu yang berbunyi ‘Sanah 1004 alamat balon Haruh’.

Menurut Alm.T.H. Lah Husni, lela ini dibuat tahun 1591 Masehi, sekitar 20 tahun sebelum Aru dimusnahkan oleh Aceh. Di samping itu, sampah-sampah tua seperti beling keramik dan tembikar yang ada di situs purbakala ini membuktikan benteng telah dihuni sejak abad ke 13.

Benteng Putri Hijau terletak di lokasi strategis. Sebelum ada jalan raya lelalui Pancurbatu ke Berastagi, rute-rute ke Dataran Tinggi Karo adalah jalan setapak melalui 5 jalur. Salah satunya adalah rute khusus untuk kuda dan kerbau melewati Deli Tua (Yaitu Benteng Putri Hijau), Liumau Munkur, Bukum dan Cingkam. Rute-rute lainnya hanya untuk pejalan kaki seperti pelanja sira.

Sebelum orang Belanda datang pada pertengahan abad 19, wilayah dusun Deli-Serdang maupun Langkat telah dihuni oleh masyarakat Karo. Mayarakat Melayu hanya menghuni wilayah Deli bagian intinya, yaitu sedikit wilayahnya sekitar Labuan Deli dan Percut. Wilayah-wilayah lainnya, temasuk Hamparan Perak, Sunggal maupun Senembah diduduki oleh suku Karo. Pendeta Neumann menyatakan bahwa eilayah yang dikuasai oleh Sultan Deli sebelum Belanda masuk hanya meripakan jalur Sungai Deli dan kiri-kanan sejauh dapat menembak dengan sebuah lela, ± 100 m saja.

Situs Benteng Putri Hijau berkaitan dengan permukiman kuno lainnya, terutama Kota Cina (Medan Marelan) dan Kota Rentang (Hamparan Perak). Situs yang terakhir ini merupakan pemukiman Islam tertua di Sumut, dengan adanya nisan-nisan batu Aceh yang berasal dari abad 14. Kota Cina, bersama dengan lokasi Pasir Si Ombak merupakan situs pelabuhan kuno yang pernah diduduki kelompok saudagar Keling, anggota dari persatuan pedagang Nanadesi atau Ainnurruvar, pedangan dari India Selatan atau Sri Lanka di abad 11 hingga abad 13 atau 14. Kelompok ini terkenal sebagai ‘Kaum lima ratus dari seribu arah’ yang berarti terdiri dar banyak pedagang yang berasal dari berbagai wilayah.

Situs Benteng Puteri Hijau, maupun Kota Cina dan Kota Rentang sangat penting bagi sejarah suku Karo maupun Suku Melayu yang pada zaman dahulu berhubungan dengan pedagang dari India. Kalau warisan budaya Benteng Puteri Hijau ini hancur dan hilang, sebagian sejarah Karo turut punah. Penghancuran sengaja situs benteng ini sama halnya dengan pemerkosaan sebuah situs unik bagi sejarah Deli Serdang dan Tanah Karo maupun tempat tinggal seorang pahlawan suku Karo, Puteri Hijau.

Sayangnya, tidak ada tindakan sama sekali dari yang berwajib untuk menyelamatkan situs unik ini. Apakah mereka tidak mengerti nilai warisan budaya daerah Sumatera Utara atau sama sekali tidak peduli?

Penulis: Dr. E. Edward McKinnon (Cultural Heritage Management Specialist and National University of Singapore)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: