PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU ˝DI NEGERI PENJAJAH: ORANG INDONESIA DI NEGERI BELANDA 1600-1950˝

PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU

DI NEGERI PENJAJAH : ORANG INDONESIA DI NEGERI BELANDA 1600-1950

Sabtu 16 Agustus 2008

Di VIP Room Serbaguna Universitas Negeri Medan

Tiga Dasawarsa pertama abad XX hanya menjadi saksi penentuan wilayah Indonesia yang baru dan suatu perancangan kebijakan penjajahan yang baru. Masalah-masalah dalam masyarakat Indonesia juga mengalami perubahan yang bgiru besar sehingga, dalam masalah-masalah politik, budaya, dan agama, rakyat Indonesia menempuh jalan baru. Perubahan yang cepat terjadi si semua wilayah yang baru saja ditaklukkan Belanda. Akan tetapi, dalam hal gerakan-gerakan anti-penjajahan dan pembaharuan yang mula-mula muncul pada masa ini. Perkembangan-perkembangan pokok pada masa ini adalah munculnya ide-ide baru mengenai organisasi dan dikenalnya defenisi-defenisi baru dan lebih canggih tentang identitas. Ide baru tentang organisasi meliputi bentuk-bentuk kepemimpinan yang baru, sedangkan defenisi yang baru dan lebih canggih mengenai identitas meliputi analisis yang lebih mendalam tentang lingkungan agama, sosial, politik, dan ekonomi.

Kalangan priyayi jawa yang ‘baru’ atau yang lebih rendah, pejabat-pejabat yang maju dan yang memandang pendidikan sebagai kunci menuju kemajuan adalah kelompok pertama yang mengambil prakarsa. Pada awal abad XX, pendidikan Barat tampaknya akan memberikan kepada kalangan atas pemerintahan (priyayi) dari lingkungan kaum abangan suatu kunci menuju perpaduan baru yang mereka anggap sebagai dasar bagi peremajaan kembali kebudayaan, kelas, dan masyarakat mereka.

Gagasan pembaruan juga tidak terlepas dari orang-orang yang turut belajar ke Belanda. Mereka belajar ke Belanda dengan banyak tujuan khususnya untuk kepentiangan studi. Disini mereka mengenal alam pikiran Nietzhe, dialektika Hegel, subyektivisme Kant dan antirasionalisme Berson. Ide-ide ini mereka serap untuk diaplikasikan. Gagasan pembebasan bangsa Indonesia lewat pendidikan kaum priyayi didorong sejak awal oleh jurnal Bintang Hindia, diterbitkan pertama kali di Belanda pada tahun 1902. Jurnal ini dipimpin oleh seorang Minangkabau, sarjana keluaran sekolah Dokter-Jawa (sesudah tahun 1900 bernama STOVIA) di Weltev-reden, pada saat itu suatu bagian pinggir kota Batavia, bernama Abdul Rivai (l 1871). Bintang Hindia diedarkan di Indonesia dan dibaca amat luas oleh kalangan elite Indonesia sebelum penerbitannya terhenti pada tahun 1906.

Bahkan menurut Dr. Asvi Warman Adam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), perkumpulan Indische Vereninging di Belanda merupakan salah satu organisasi nasionalis Indonesia, bahkan Asia yang paling awal menuntut kemerdekaan yang segera dan tidak bersyarat yang berkembang di Negeri Belanda yang dijalankan oleh pelajar-pelajar Indonesia yang ada di sana. Organisasi ini pada perkembangannya lalu berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Dalam perjuangannya, PI berlandaskan pada prinsip unity, equality dan liberty. Lebih jauh Asvi menguraikan, “Persatuan tidak ada artinya bila tidak ada kesetaraan. Demikian pula persatuan dan kesetaraan itu hanya bisa terlaksana bila kita sudah merdeka atau dalam suasana bebas”.

Rekaman kisah orang Indonesia sudah dibukukan dan di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam Buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, karya Dr. Harry A. Poeze  yang diterbitkan oleh KITLV bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) adalah buku yang memuat banyak ilustrasi itu menceritakan kehidupan sejumlah orang Indonesia, baik yang termasyhur maupun yang kurang terkenal, yang pernah tinggal di Belanda selama masa kolonial. Mereka berada disana di negeri penjajah terutama untuk alasan studi. Bedah buku ini akan memberi presentasi, disertai diskusi yang juga akan membahas relevansi bagi keadaan Indonesia pada masa kini.

Penyelenggaraan peluncuran dan bedah buku ini sudah dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2008 dengan menghadirkan pengarangnya langsung yakni Dr. Harry A Poeze, dia mengatakan bahwa “Kehadiran buku ini di tengah-tengah orang Indonesia, merupakan tahap akhir dari sebuah proses perjuangan yang cukup panjang selama 15 tahun”. Katanya Buku ini benar-benar merekam suka dan duka orang- orang Indonesia yang merantau ke negeri Belanda di saat bangsa mereka sedang berada dalam kolonialisme Belanda. Orang-orang Indonesia yang terekam itu bukan saja dari kalangan bangsawan, melainkan juga pembantu.

Dengan dasar inilah Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed bekerjasama dengan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) juga akan mengadakan sebuah kegiatan untuk memperkenalkan karya ini berupa Peluncuran dan Bedah Buku ˝Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950˝ . Kegiatan ini diselenggarakan pada:

Hari/ Tanggal : Sabtu / 16 Agustus 2008
Waktu  : 09.00 WIB s/d Selesai
Tempat  : VIP Room Gedung Serbaguna UNIMED
Biaya  : Gratis

Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS)
Universitas Negeri Medan

Jl. Willem Iskandar, Pasar V – Kotak Pos No. 1589 Medan 20221 Telp(061) 77800690
Fahrizal Fahmi
Mobile Phone 081396029769

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: