Orang-orang yang membawa kontribusi yang positif terhadap Sumatera Timur, masa 1860-1942

Orang-orang yang membawa kontribusi yang positif terhadap Sumatera Timur, masa 1860-1942.

Dipresentasikan pada Seminar :

“Para Tokoh, Pejuang dan Pahlawan Sumatera Utara”

Diselenggarakan oleh Pusat Studi Sejarah dan Imu-ilmu Sosial (PUSSIS)

Negeri Universitas Medan, Medan, 10 Nopember 2007

Oleh Dirk A. Buiskool

Pendahuluan

Untuk pembicaraan ini saya mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang telah membawa kontribusi yang positif terhadap Sumatera Timur, pada masa kolonial. Sekarang ini adalah provinsi Sumatera Utara. Saya telah menemukan informasi dari sumber-sumber berbeda misalnya: Laporan-laporan pegawai negeri yang dikirim ke pemerintah kolonial, koran-koran, hasil rapat   dari dewan kota, dan sastra yang ada. Walaupun daftar masih bisa berubah-ubah kita bisa mengatakan bahwa orang-orang ini telah membantu untuk membangun daerah, masing masing dalam cara-cara mereka sendiri.

Wirtschaftswunder

Sejarah kolonial Sumatera Utara agak pendek, sebelum tahun 1860-an ketika itu sebenarnya belum ada orang Belanda. Alasan untuk perkembangan cepat dari Deli adalah industri perkebunan. Atas undangan Sultan Mahmoed Perkasa Alam Shah dari Deli, Jacob Nienhuys datang dengan maksud menanam tembaco dan setelah beperapa tahun suatu Wirtschaftswunder (ke ajaiban ekononomi) mulai. Di tahun 1870 ada terdapat 13 perkebunan, dua puluh tahun kemudian di tahun 1890 ada terdapat 170 perkebunan tembakau. (De Jong 2000: 303). Nienhuys merekrut kuli kuli untuk perkebunan dari Cina. Pertama mereka datang dari Penang dan Singapore kemudian mereka langsung dari dari Cina. Kuli berasal dari India juga di rekrut. Dari tahun 1890 banyak pekerja dari Jawa datang ke Deli untuk bekerja di perkebunan. Kwalitas tembakau dari Deli amat tinggi kwalitasnya, pertama di dunia sebagai pembungkus daun luar. Tidak ada dari negara lain juga bukan dari Amerika kwalitas daun tembakau yang sebaik dari Deli.

Terima kasih untuk tuntutan tinggi untuk prosedur kerja dari  penanam Belanda yang menanam tembakau. Di tahun 1910 ada produk baru yaitu karet. Sumatra Timur mengalami masa rubber boom (permintaan produk karet yang luar biasa) karena permintaan dunia, disebabkan mulainya industri mobil pada saat yang sama. Dari tahun 1915, sawit dan kurang berkemang tanaman teh,  juga membawa keuntungan di daerah Deli adalah sawit.

De millioenen uit Deli

Ada sisi lain dari Wirtschaftswunder. Kondisi pekerja atau kuli-kuli sering buruk khususnya sampai awal abad ke dua puluh. Satu faktor yang berkontribusi terhadap itu  biasa di panggil koelie ordinantie dengan poenale sanctie dari  tahun 1880, dengan ini para pekerja dilarang meninggalkan perkebunan selama tiga tahun. Poenale sanctie atau sanksi hukum artinya bahwa kalau ada kuli lari dari perkebunan maka dianggap kuli melanggar hukum dan bisa ditangkap oleh polisi.  Koelie Ordinantie (undang undang untuk kaum buruh/kuli) ini ditegakkan karena pada tahun tahun sebelumnya banyak pekerja keluar dari perkebunan mereka selama masih periode kontrak mereka. Walaupun dalam kontrak tidak begitu buruk, jika dibandingkan dengan kontrak pekerja di Malaysia, disitu banyak kelewatan perilaku buruk. Pada tahun 1902 pengacara Medan J. van den Brand mempublikasikan brosur De millioenen uit Deli (Juta-jutaan dari Deli) tentang perlakuan buruk planter planter terhadap kuli. Selanjutnya suatu sistem pemeriksaan tenaga kerja telah dibuat dan pada tahun berikutnya kondisi tenaga kerja di perkebunan meningkat. Walaupun kuli ordinansi baru berhenti di tahun 1934.

Sisi positif dan negatif

Pertanyaan perkembangan ekonomi sering menjadi bahan diskusi sebab ada sisi positif dan negatif. Untuk membangun kota yang indah St. Petersburg di abad ke-17 Russia oleh Czar Peter the Great ratusan ribu orang kerja paksa meninggal. Jadi kita harus berterima kasih kepada Peter the Great untuk St. Petersburg yang indah? Atau kita harus mengadili dia untuk ribuan orang yang meninggal sebagai harga yang harus ia bayar untuk karya yang indah itu?

Revolusi industri di Eropa Barat dan Amerika Utara terjadi atas pengorbanan satu proletariat pekerja yang telah di eksploitasi oleh satu ’elite kapital borjuis’, demikian kutipan Karl Marx. Marx dan Engels menggaris bawahi  atas pertanyaan ini dari eksploitasi kelas buruh, dan mempersiapkan jalan untuk revolusi kommunis di Russia di tahun 1917. Dari akhir abad ke 19, partai buruh di Eropa – dan juga partai Kristen dan Liberal – telah mencoba dan memperbaiki kondisi kerja untuk kaum buruh melalui cara parlementer. Dan benar kondisi kondisi menjadi lebih baik ditahun selanjutnya, waktu undang undang telah diberlakukan dan kaum buru mendapat suara politik.

Waktu yang sama, di Sumatra Timor adalah suatu perkembangan luar biasa didalam ekonomi perkebunan dan, juga, dalam kondisi kerja kaum buruh. Tetapi di Sumatra telah berlaku kuli ordinansi. Ordinansi ini adalah suatu sumber diskussi berkepanjangan dalam koran koran dan badan politik, terima kasih untuk pers yang bebas.

Untuk mengulang: bagaimana kita menilai investor-investor yang memulai industri, perkebunan besar dan pabrik yang memberikan kerja kepada banyak orang, menyalahkan atau memuji mereka? Yang penting kepada topik ini adalah berapa banyak penduduk setempat memperoleh keuntungan oleh investment ini. Apakah  perkembangan  memberikan kemakmuran kepada daerah atau investor-investor hanya mencari keuntungan sendiri dalam harga orang-orang yang menderita? Berapa jauh mereka membangun infrastruktur dan rumah sakit, keperluan medis dan pendidikan para pekerja, dan menambah kemakmuran orang-orang dikeseluruhan? Apakah orang-orang menikmati atau menderita karena inisiatif kapitalis ini? Dan bagaimana kondisi pekerja?

Kita melihat di kasus Deli Sultan-lah yang telah mengundang Nienhuys untuk memberi kemajuan perkebunan dalam satu kali percobaan, dan Nienhuys berhasil mengembangkan tanaman tembakau jauh diatas dugaan. Perusahaan tembakau tersebut menjadi sangat kaya, dan ribuan hektar hutan di tebang. Kota Medan adalah hasil dari industri perkebunan. Apakah ini bagus atau buruk? Pasti ada sisi posif-nya, seluruh daerah yang dulunya hanya ada beberapa penduduk setempat menjadi lokasi perkebunan baru dengan banyak kegiatan. Kota baru telah dibangun dengan infrastruktur baru, jalan, rel kereta api, dan semua fasilitas publik.

Sisi negatif-nya adalah kondisi pekerja perkebunan untuk kuli. Sejauh mana kuli-kuli ini mendapat keuntungan? Ternyata banyak kuli yang kewarganegaraan-nya Tionghoa yang menyimpan uang, untuk di kirim ke China untuk mendapatkan hidup yang lebih bagus di masa depan. Beberapa tetap tinggal di Sumatera dan memulai bisnis. Banyak pekerja India, dan kemudian orang Jawa yang di rekrut dalam jumlah yang besar, memiliki sukses yang sama. Kenyataan-nya adalah banyak sekali orang Tionghoa dan Jawa yang mau melakukan migrasi biasanya karena kondisi miskin yang mereka tinggalkan, dan tidak begitu banyak masa depan yang cerah.

Di tahun 1924 Sumatera timur yang diperintah lain dari yang pernah di perintah pada tahun 1870. Dimana-mana ada perusahaan orang Eropa, pribumi dan China. Dengan Penang dan Singapore ada hubungan pelayaran yang sangat intensif. (Clemens –  Lindblad, 1989: 25) Koran De Sumatra Post yang berbahasa Belanda menggaris bawahi tentang terlibatnya orang Eropah dan menulis di tahun 1926: ”Deli adalah sangat berbeda dari Java, dimana pertanian disesuaikan dengan penduduk lokal dan kebudayaan lokal. Deli adalah sama sekali daerah barat tanpa pengaruh Indonesia dan tanpa tradisi Indonesia, tanpa populasi asli lokal dan tanpa populasi Indo Eropa. Deli adalah suatu kreasi hebat, dibuat oleh beberapa orang barat bersama dengan orang China dan Java.” (De Sumatra Post (SP) 30-12-1926)

Perkebunan dinamai Leviathan (raksasa) daerah, sebab semua tergantung pada mereka. Infrastruktur lengkap, pelabuhan, jalan, sistem rel kereta api, perbankan, semua dibangun untuk perkebunan. Di 1938 Sumatera Timur, dengan 1.7%  dari total daerah dan hanya 2.5%  dari total populasi dari Hindia Belanda, dapat mengekspor 21%  dari ekspor total.

Dengan itu Sumatera Timur adalah daerah perkebunan yang paling penting di pulau-pulau luar. (Thee Kian-wie 1977: 43)

Drainage theory

Seberapa jauh industri perkebunan benar-benar memberikan kemakmuran kepada daerah dan orang-orang? Industri perkebunan di Sumatra Timur memberikan potensi yang terbatas karena ke tergantungan akan industri perkebunan. Tidak ada kegiatan ekonomi yang lain atau kegiatan industri sebagai contoh industri manufakturing. Walaupun demikian gaji gaji masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah Hindia Belanda lainnya. Import untuk barang barang konsumsi masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan pulau Jawa dan Sumatra Barat. Ada teori yang mengatakan bahwa perkebunan

membocorkan ekonomi (drainage theory) dan memiskinkan daerah. Jadi investmen asing membawa pengaruh negatif karena ia mengurangi kemakmuran di daerah itu. Berlawan dengan teori ini terori lain mengatakan bahwa investment asing menaikkan produksi dan daerah yang tidak berkembang akan mengalami pertumbuhan dan membawa kemakmuran bagi daerah itu. Sebagai akibatnya daerah akan lebih kaya dari pada miskin oleh investment asing. (Thee Kian-wie 1977: 49,69)

Walaupun keadaan kuli di Sumatra Timur berat tapi ada perbaikan lama kelamaan. Keadaan kerja dan kesehatan lebih baik di tahun 1920 dari pada di tahun 1910. Juga di achir tahun 1920 kekerasan terhadap kuli oleh asistent tuan kebun berkurang. Di tahun 1904 (waktu ini pemeriksaan terhadap buruh dimulai) pemeriksaan terhadap kuli hanya memfocuskan mengenai kekejaman terhadap kuli. Dua puluh tahun kemudian pemeriksa buruh langsung diikut campuri didalam kondisi buruh. (Houben – Lindblad, 1999:72)

Rumah sakit dan sekolah sekolah untuk anak anak kuli mulai dibangun di tahun 1906 sebagai akibat dari politik etis yang achirnya mencapai masyarakat perkebunan. Pada umumnya ada perbaikan kondisi buruh setelah dijalan inspeksi buruh. Tetapi keadaan yang milteristik dan rasistis tetap ada. (Naudin 1905: 41; Andalas 15-3-1917; De Jong  2000: 405)

Pemerintah kolonial mempunyai peran yang patut di pertanyakan tentang masalah kuli, sebab mereka harus membalans antara kepentingan ekonomi industri perkebunan dan kemakmuran kaum buruh. Industri perkebunan hanya dilihat sebagai kepentingan vital buat pemerintah kolonial, dengan eksport yang hebat dan pemasukan pajak. Dari sisi lain keputusan etis dan kesadaraan sosial membuat planter planter harus mempertanggung  jawab atas kemakmuran kuli kuli. Contoh pertama dari keprihatinan itu adalah dimulainya pemeriksa buruh. (Houben – Lindblad 1999: 235)

Koran koran dan laporan laporan pemerintah menulis positif dan negatif tentang pegawai negeri. Dalam Sumatra Post tanggal 8 Februari 1905 ada suatu berita yang ngeri tentang seorang district officer yang menerima kedatangan resident (pejabat yang tinggi) di Belawan: ”Tiba tiba se orang pribumi jalan didepan district officer, officer ini menolak dia akibatnya orang pribumi jatuh didalam sungai dengan banyak buaya. District officer menerima resident seperti tidak terjadi apa apa.” (SP 8-2-1905). Cerita macam ini refleksi ketidakmanusiaan beberapa individu individu dan jelas adalah suatu contoh pemerintahan yang jelek. Syukurlah juga ada banyak cerita yang positif tentang pegawai negeri yang mau bekerja dengan maksud yang baik untuk rakyat sebagai kita melihat dibawah ini. Sebagai contoh district officer Obdeyn yang membuat pengobatan massal  untuk penduduk Kampong Kling. (SP 30-7-1915)

Dewan kota

Pada tahun 1909 Medan menjadi suatu kotamadya dan dewan kota telah dibentuk. Disini hidup Afdeelingsraad atau Negorijraad (Dewan Daerah), yang mewakili keseluruhan daerah Deli (bagian atas dan bagian bawah Deli). Sebagai tambahan, dibentuk suatu tingkatan regional Plaatselijke Raad van het Cultuurgebied ter Oostkust van Sumatra (Dewan Lokal Area Kultur pada Sumatra bagian Timur) disebut Cultuurraad (Dewan Kultur). Nama dewan kultur menunjukan perkebunan di mana ‘produk kultur’ seperti tembakau dan karet telah tumbuh. Cultuurraad pertama mengurus jalan, jembatan dan kanal kanal di Sumatra Timor. Dewan itu mempunyai 25 anggota, 13 dipanggil oleh pemerintah (assistent resident, district officers, Sultan-sultan dan kepala suku orang Tionghoa) dan 12 anggota non pemerintah dari perkebunan. (SP 8-3-1909). Cultuurraad diketuai oleh resident dan kemudian gubernur Sumatra Timor.

Dalam paper ini saya akan memfokuskan mengenai dewan kota. Lima belas anggota awalnya tidak dipilih tetapi ditunjuk oleh pemerintah. Di tahun 1909 ketua dewan kota adalah assistant resident Maier dan anggotanya Tjong A Fie, Toengkoe Besar, Polis, Djaksa, Lusink, Roest, Bool, Stecher, Vriens, Arends, Schneider dan Brink. Kumpulan pertama topik topik adalah balai kota, pemadam kebakaran, got got dan drainase, syarat syarat air dan tempat publik mandi umum. (SP 9-6-1909)

Pada tahun 1912 demokrasi di Medan mulai dengan cara terbatas. Hanya pria Eropa dan yang ‘sederajat’ saja yang mempunyai hak untuk memilih; mereka ini harus lebih dulu mempunyai pendapatan minimum tertentu. Hal itu sama seperti di Belanda. Tetapi pada tahun 1917, seperti juga di Belanda, hak pilih umum mulai di masukkan dalam undang undang. Walaupun hanya untuk pria yang mempunyai batas pendapatan minimum. 16 Juli 1918 adalah hari yang besar ketika pemilihan untuk dewan kota boleh diikuti oleh pribumi dan oriental asing (orang orang Tionghoa, Arab dan India). Di tahun 1918 juga  di tunjuk seorang walikota.

Ada banyak orang yang tinggal di kota Medan, dan banyak, dari pegawai negeri biasa, sampai anggota dewan kota yang mulia, berkontribusi dalam satu cara atau yang lain untuk perkembangan kota Medan dan penduduknya. Ada sisi positif dan negatif seperti di masa kolonial dimana mana dibelahan dunia lain. Didalam dewan kota di dominasi oleh orang orang Belanda tetapi seperti yang dapat kita lihat mereka kerja sama erat dengan teman sekerja orang Indonesia dan orang Tionghoa.

Membaca hasil rapat dari waktu ke waktu dalam koran waktu bertahun tahun dan pembangunan di tahun 1912 sampai 1941, kesan umum adalah kemauan besar anggota untuk mengembangkan kota Medan dengan Belanda dan kaum pribumi dan Tionghoa.

Pertemuan diadakan dengan suasana sangat bersahabat  walaupun ada juga conflik dalam perbedaan pendapat. Bagaimanapun kesan adalah amat positif  jelas dan bukan kekerasan penjajahan dengan mengambil keuntungan dari penduduk setempat. Sebetulnya setiap agenda dewan kota termasuk dalam mengambil keputusan untuk project sosial seperti perkembangan kampung, pembangunan pasar pasar umum dan rumah potong, perumahan sosial, pendidikan buat penduduk setempat.

Orang Indonesia dan Tionghoa berbicara atas nama suku masing masing dan memperjuangkan kepentingan buat suku masing masing. Walaupun pembuat keputusan di dominasi oleh Belanda, tapi orang Indonesia dan Tionghoa selalu terlibat dan termasuk sebagai anggota komisi.

Setelah pembangunan dewan kota di tahun 1912 dua group politik di mulai. Program group politik Kiesvereeniging Gemeentebelang (organisasi pemilih untuk kepentingan kotamadya) di didirikan oleh seorang pengacara yang terkenal J. van den Brand telah dikenal baik sebagai penulis buku berjudul De millioenen uit Deli. Kumpulan ini membuat suatu program politik kota Medan yang independen dan mementingkan program kesehatan untuk seluruh penduduk, pendidikan dan pensiun untuk seluruh pegawai negeri dari setiap etnik group. Perkumpulan ini ingin menurunkan pajak, mengurangi pelacuran dan menghapuskan profesi rickshaw. (SP 19-4-1912)

Algemeene Medansche Kiesvereniging (Perkumpulan Pemilihan umum kota Medan) adalah kelompok politik yang kedua tetapi kira kira mempunyai tujuan yang sama. (SP 16-2-1912)

Medan di tahun 1912 adalah kota yang modern. Perusahan Air Bersih telah berdiri di tahun 1905 dan sejak tahun 1897 perusahan listrik negara. Perusahaan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) atau Maskapai Kereta Api Deli memelihara disamping jalan kereta api juga kabel telegraf dan telephone. Pasar pasar masih di tangan swasta. Sistem riol sebagian kota Medan selesai tahun 1921. Perkembangan kampung mulai di tahun 1918 ketika itu Sultan Deli memberikan tanah ke kotamadya Medan.  Daerah Polonia belum ada dan Glugur sebagai daerah industri baru mulai.

Suatu topik menarik adalah ricksjaws atau hongkong (becak yang ditarik dengan tenaga manusia). Pada bulan Mei tahun 1916, anggota dewan Tjong A Fie dan van den Brand, yang diusulkan dewan kota perlu ditetapkan suatu komisi pengawas khusus untuk mempelajari larangan terhadap ricksjaws. Orang Tionghoa melihat professi ricksjaw sebagai profesi hina dan semua tukang ricksjaw adalah Tionghoa.  (SP, 4-5, 9-5, 10-5, 11-5, 16-5-1916). Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1926, ricksjaws belum dihapuskan. (Gemeenteblad 16-11-1927)

Jika kita melompat ke tahun 1930, agenda topik dewan kota menjadi di desentralisasi dan pinjaman dari pusat pemerintah untuk pembangunan pasar baru. Kemudian agenda tentang terciptanya pemdam kebakaran secara suka rela dan perumahan. Dewan memutuskan bahwa 67 rumah akan di bangun di kota Matsum (SP 23-1-1930) Hal yang lain adalah perkembangan pelabuhan udara yang membuat hubungan antara Hindia Belanda dan Belanda telah dimulai. Di tahun 1924 pesawat dari Belanda mendarat di Medan untuk pertama kalinya di atas tanah Indonesia. (Loderichs – Buiskool 1997: 29)

Setahun sebelum penjajahan Jepang keadaan di kota Medan sudah menakutkan. Sebagai anggota dewan kota Tionghoa, Jap Gim Sek bertanya, apakah diperlukan ruangan khusus  untuk persembunyian di bawah tanah pada rumah sakit umum kotamadya. Tapi dewan kota merasa itu belum perlu. Hal yang lain dibicarakan adalah menyelesaikan pembangunan pusat pasar dan mendirikan pusat kesehatan kotamadya. Anggota yang hadir dalam kumpulan adala Klevant, van der Schaaf, Meyer, Emmels, Jap Gim Sek, Soeleiman, Soegondo, Baharoedin, Tan Boen An, Djamaloeddin, Romme dan van den Bergh. Ketua adalah walikota Kuntze. (SP 18-4-1941). Sampai disini kita melihat agenda peninjauan luas dari tahun 1912 sampai 1941.

Orang-orang

Dengan ini kita melihat daftar orang orang yang telah berkontribusi dalam satu cara atau yang lain untuk perkembangan Sumatra Timor. Orang orang ini sering dapat dilihat dalam koran koran dan laporan untuk alasan yang berbeda. Orang orang ini berasal dari anggota dewan kota, pegawai negeri, penulis, pengusaha atau missionaris. Sebab topik utama penelitian saya orang Tionghoa, saya mempunyai paling banyak informasi tentang orang Tionghoa. Itu tidak berarti kelompok lain kurang penting, hanya saja saya tidak  memfokuskan untuk kelompok etnis yang lain. Karena itu saya mempunyai lebih banyak informasi tentang orang Tionghoa daripada orang Indonesia. Saya telah mengkolleksi data data tanggal lahir dan meninggal dari orang orang dibawah ini; walaupun dalam banyak kasus saya belum memiliki semuanya. Tentang beberapa orang saya mempunyai banyak informasi, tentang yang lain sedikit sekali.

Diatas saya telah menyebutkan dua pihak mengenai perkembangan industri perkebunan. Menurut pendapat saya kita harus menyimpulkan bahwa pertimbangan kedua aspect adalah positif. Perkembangan bagus untuk daerah Sumatra Timur dan dalam contekst ini kita harus mengucapkan terima kasih karena Sultan Mahmoed Al Rasjid telah mengundang Nienhuys untuk memulai industri perkebunan. Selanjutnya kita akan melihat ke figur Cremer yang mengembangkan perusahan perkebunan ke jumlah yang amat besar. Walaupun saya menyadari bahagian yang negatif tapi menurut pendapat saya pertimbangan yang terachir adalah positif.

Tidak terhitung jumlah orang orang yang telah memberikan kontribusinya untuk mengemangkan daerah daerah Sumatra Timur. Kita juga tidak boleh memfocuskan ke satu etnis group atau sebagai contoh ”mencari orang orang yang melindungi kaum pribumi yang miskin untuk melawan penjajahan Belanda” ; di banyak cara penjajahan Belanda adalah memerintah dengan maksud baik dan benar benar mencoba untuk menaikkan penduduk lokal dalam tradisi politik etis. Amat sering pegawai tinggi Belanda harus melindungi penduduk lokal melawan eksplotasi oleh kepala suku lokal. (Indische Gids 1914, I: 435; Coolhaas Wikipedia) Walaupun Deli menjadi amat kontroversial karena kuli ordinansi, waktu yang sama pemerintahan sering banyak perhatian sama penduduk dan kemanusiaan.

Satu sumber menarik untuk informasi tentang orang orang yang telah berkontribusi untuk perkembangan Sumatra sebelum perang adalah nama nama jalan! Sebelum 1942, banyak jalan di Medan di namakan nama orang orang yang telah melakukan fungsi publik dan membedakan dalam satu cara atau cara yang lain. Oleh karena itu di tahun 1920 sudah ada Jalan Kartini dan juga Jalan Multatuli. Walaupun Multatuli telah mengkritik regime kolonial masih nama jalan di pakai sebagai nama dia. Jalan lain di namakan nama walikota yang telah menjabat seperi Mackay, nama jalan lain adalah Jalan Sultan Mahmoed Al Rasyid dan kepala suku Tionghoa Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie.

Orang-orang Tionghoa

Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie

Mungkin profile orang yang tertinggi untuk masyarakat Medan adalah pengusaha kaya raya Tjong A Fie, membedakan dirinya dengan pekerjaan filantropi. Bersaudara Tjong (1860 – 1921) dan Tjong Yong Hian (1850 – 1911) datang dari Mei Hsien, Guangdong, China. Walaupun industri perkebunan di kuasai oleh Belanda, pengaruh Tjong A Fie jangan di salah tafsirkan. Setelah Tjong Yong Hian meninggal di tahun 1911, Tjong A Fie adalah pengganti abangnya sebagai Major dan ia menjadi representatief tertinggi buat masyarakat Tionghoa di Sumatra Timur.

Bersama dengan ditunjuknya Tjong A Fie sebagai opsir Tionghoa ia mendapatkan hak istimewa dalam perdagangan. Di sekitar tahun 1900 menurut beberapa sumbur, Tjong A Fie memiliki kira kira 75% dari perumahan yang tumbuh pesat di kota Medan. Hampir seluruh kota Tebing Tinggi yang baru di bangun adalah milik Tjong A Fie. (SP 13-9-1916; Deli Courant (DC) 4-2-1921; Kühr 1921: 3-5;  De Bruin 1918: 45, 109, 111; Bool 1903: 6; Buiskool 1999: 23-28, 32, 68, 74, 76). Bersaudara Tjong pernah menduduki jabatan sebagai opsir Tionghoa, jabatan ini adalah resmi mewakili golongan Tionghoa di daerah Deli . Pemerintahan Hindia Belanda menunjuk opsir dari pangkat letnan sampai major. Mereka dipilih karena mereka adalah orang orang yang sukses dan mendapat penghormatan dan status didalam kommunitas mereka. Terima kasih untuk fasilitas yang diberikan pemerintah, bersaudara Tjong telah berhasil membangun keuntungan yang amat besar dalam usaha real estate, hotels, bank dan perkebunan sawit dan pabrik gula. Bahkan mereka mempunyai  rel kereta api di Cina Selatan.

Sampai di tahun 1918 pemerintah Hindia Belanda menjual monopoli kepada orang orang yang menawar paling tinggi. Kebanyakan kepada orang Tionghoa pengusaha kaya.

Tjong A Fie mendapatkan monopoli opium yang membawa banyak keuntungan.

Sebagai opsir Tionghoa mereka tau sebelumnya rencana tentang pengembangan kota Medan. Dan mereka membeli tanah dan membangun ruko ruko ala Tionghoa. Di tahun 1886 mereka membangun pasar daging dan setahun kemudian tahun 1887 membangun pasar ikan. Dan tahun 1906 mereka membangun pasar menjual sayur sayur an.

Keuntungan dari pasar pasar ini disimpan di yayasan Tjie On Djie Jan. Dari yayasan ini bersaudara Tjong membiayai pembanguna rumah sakit Tionghoa Tjie On Djie Jan di Medan. (M.v.O. Mackay 1933: 106-109; SP 10-9-1918, 25-9-1918)

Di tahun 1908 Tjong A Fie membeli perkebunan yang pertama. Di tahun 1919 ia hampir memiliki dua puluh perkebunan. Untuk urusan administrasi perkebunannya ia memakai seorang Belanda yang bernama Kamerlingh Onnes. Tjong A Fie membedakan dirinya sebagai seorang filantropi. Ia membiayai sekolah, jembatan, kelenteng, mesjid dan rumah sakit di Sumatra, Malaysia dan China. Jam dan menara yang ada di atas gedung Balai Kota adalah pemberian Tjong A Fie di tahun 1912. Menurut sumber sumber ia membiayai sepertiga dari jumlah biaya dalam pembangunan Mesjid Raya di Medan. (M.v.O. Mackay 1933: 145,179; Chang 1984: 62, 65; Lim 1964: 146-152; Khoo 1993: 105; Andalas 1-8, 5-10, 16-11-1918) Dari kekayaan nya yang luar biasa dan kegiatan philantropi, Tjong A Fie menjadi figur legenda semasa hidupnya.

Pendapat mengenai Tjong A Fie dan pendapat dari etnis lain adalah berbeda beda. Di tahun 1904 van den Brand menyelenggarakan pertemuan pribadi dengan menteri kolonial, Idenburg, di Den Haag, Belanda tentang masalah penyiksaan kuli kuli di Deli.

Ia menulis amat positif mengenai bersaudara Tjong dan juga mengenai  orang Tionghoa yang lain Khoe Tjin Tek. Van den Brand berpendapat bahwa mereka ini adalah orang orang yang pandai dan mempunyai moral yang baik. Sedangkan mengenai opsir Tionghoa lainnya, ia berpendapat tidak competent. Ia menulis ini berdasarkan pengalamannya selama perkara dengan kuli dan opsir Tionghoa dipanggil untuk mendengarkan pendapat mereka. (Letter van den Brand 29-3-1904)

Di tahun 1915 misionaris Amerika W.T. Ward mempublikasikan bukunya yang berjudul Sunlight and shadow of missionary life (Terang Matahari dan bayangan hidup misionaris). Bapak Ward membangun sekolah Methodist. Ia berterima kasih karena major Tjong A Fie dan mr. van den Brand kedua duanya telah membantunya untuk mendirikan sekolah. (Ward 1915)

Gubernur van der Plas dari Sumatra Timur menulis pesan rahasia untuk memohon penghargaan dari kerajaan Belanda dari Gubernur Jenderal di Bogor: ”Sesuai yang diketahui yang Mulia, saya menganggap Tjong A Fie sebagai seseorang yang luar biasa diantara nama nama yang penting di seluruh Hindia Belanda. Dengan kapasitas yang ada dalam pikiran dan hatinya dan kemampuannya yang istimewa, jika ia seorang Belanda, setiap posisi dan fungsi akan dapat ia capai.”(Mailrapport van der Plas)

Surat khabar China Sin Po menggambarkan Tjong A Fie sebagai orang yang sangat sederhana dan sangat tidak pantas dibandingkan dengan kondisi keuangan yang dimilikinya yang berasal dari judi dan opium. Sin Po: “Wilayah perkebunan juga berasal dari uang dari judi dan opium, yang berkaitan dengan kehidupan para kuli perkebunan. Apakah uang itu bersumber dari yang tidak baik? Atau Tjong A Fie merasa kurang dibandingkan dengan pemerintah Hindia Belanda yang memperoleh jutaan gulden dari hasil perkebunan,  diluar dari perjudian dan perdagangan opium yang dimonopoili oleh Tjong A Fie. Perbedaanya ialah Tjong A Fie tidak memandang sisi moral sebagai mana  orang Eropah, yang bersifat munafik, dimana Tjong A Fie secara jujur tidak menganggap kegiatan yang dilakukannya melanggar etika bisnis. Orang Eropah mengenal moral akan tetapi mengabaikanya dan bersifat munafik! Bila mana ada membutuhkannya, ia memberi bantuan. Ia juga membangun rumah sakit bagi orang tua yang miskin dan sakit sakitan. Ia juga penyandang dana bagi pembangunan rumah sakit lepra dan juga membantu orang orang Cina yang membutuhkan bantuan. Bialamana masyarakat Tionghoa membutuhkan sekolah Tjong A Fie bersedia membantu. Seperti yang telah dilakukannya dalam pembangunan rumah yatim piatu bagi orang orang Eropah yang miskin. Dananya semua berasal dari Tjong A Fie. Ia senantiasa berifat pemurah. Ketika pemerintahan kota, membutuhkan jembatan, ia juga membiayainya. Sifat yang dimiliknya sangat berbeda dengan sifat sifat yang dimiliki oleh orang orang kaya yang ada diperkotaan.“ (Andalas 14-8-1917)

Pada bulan Desember tahun 1919 anggota volksraad (dewan masyarakat) di Batavia (Jakarta) Tionghoa, Bapak Kan, menyampaikan pidato yang berisi kritik terhadap perjudian, penggunaan opium, dan pelacuran di perkebunan yang berakibat penghancuran generasi muda, dan rusaknya mental para pekerja perkebunan. Ia mengatakan dalam limapuluh tahun, penghasilan terbesar di Sumatera Timur bersal dari industri perkebunan. Ada satu sisi negatifnya. Dan ini bukanlah kasus pertama yang dialami oleh kuli perkebunan yang harus memperoleh sanksi hukum, atau yang mereka sebut dengan perbudakan tersembunyi. Menurut Kan ada beberapa alasan dari kuli ordinansi, yang berakibat banyak kuli berhenti bekerja karena tidak adanya insentif. Ketiadaan musim dingin yang membuat pekerja berleha leha. Kritiknya yang paling utama ialah mengenai kemunduran generasi dan praktek pelacuran. Begitu seringnya, suami suami bertindak sebagai pelaku yang menjual isteri isteri mereka kepada kuli kuli yang lain. Pemerintah harus merubah sistem pembayaran dengan perjudian dan opium. Kan menyatakan bahwa Tjong A Fie untuk dapat lebih memberikan sesuatu yang bersifat hiburan dari pada perjudian. Disamping itu Kan juga memperlihatkan contoh yang baik dari Tjong A Fie dimana gaji pekerja diperkebunannya dibayar lebih baik. Mengapa perusahaan perkebunan yang lain tidak meniru hal yan baik ini? (SP 4-12-1919)

Karena kedudukannya yang berseberangan dengan poenale sanctie (sanksi hukum), Tjong A Fie tidak diundang untuk pembentukan komisi bagi sanksi hukum, walaupun ia memiliki sesuatu yang sangat istimewa (sebagai pemegang saham terbesar) di duapuluh tiga perusahaan perkebunan di Panati Timur Sumatera. Majalah De Indische Gids menulis:  “Apakah yang menyebabkan superintendentnya, Tuan Kamerlingh Onnes, berusaha mencoba pada salah satu perkebunannya untuk memberikan kepada semua kuli sebanyak 5 persen dari keuntungan, yang sama jumlah yang diterima oleh para asisten dan manager? Kamerlingh juga mencoba para asisten dari Ambon, yang tidak memperoleh pengasilan yang sama dengan orang Eropah, tapi masih memperoleh bahagian sebanyak sepuluh kali lipat. Hal ini mengakibat Kamerlingh Onnes dan Tjong A Fie menjadi tidak popular dengan pemilik perkebunan yang berkaitan dengan sanksi hukum.” Penulis mengakhiri artikelnya dengan: “Lanjutkan terus Tuan K.O.! Kamulah yang akan memperoleh kemenangan, dan bukan lawanmu!” (Indische Gids 1919 I: 648)

A.G. De Bruin, seorang penasehat pemerintah yang mengurusi masyarakat Tionghoa di Sumatera Timur menulis tentang Tjong A Fie bahwa suatu saat sejarah mengenai Tanah Deli yang ditulis secara keseluruhan dimana peranan Tjong A Fie tidak dapat diremehkan (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 12-12-1920). Pada jaman sebelum perang Jalan Bogor diberi nama Tjong Yong Hian straat dan Jalan Cakra diberi nama Jalan Tjong A Fie. (Loderichs-Buiskool 1997:101, 102)

Khoe Tjin Tek

Sebagai orang awam,dan bukan sebagai anggota dewan kota yang menjadi terkenal sebagai major Khoe Tjin Tek (1876-1969), sebagai penerus Tjong A Fie. Ia juga aktif berkecimpung dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan bagi masyarakat Tionghoa secara umum, dan turutmembantu Kamar Dagang Tionghoa. Meskipun profilnya tidak sepopuler Tjong A Fie, tapi pada kedudukannya sebagai major pada saat itu, ia telah memperoleh keberuntungan dengan memiliki  perusaaan perdagangan kayu dan pembanguan perumahan. Bank dari Khoe Tin Tek bernama Chung  Hwa Shang Yeh bank dan menjadi salah bank terkemuka di pusat kota. Seperti halnya Tjong bersaudara, Khoe Tjin Tek juga juga berinvestasi dalam monopoli semacam perdagangan yang bersifat perjudian. Khoe Tjin Tek sebagai major yang terakhir; yang fungsinya berakhir setelah invasi Jepang pada tahun 1942. (Vleming 1926: 230; Lim 1964: 146-152; Wright  1909: 581; Persoonlijkheden 1938)

Tan Tang Ho dan Tan Boen An

Tan Tang Ho (1860-1918) sebagai pengusaha Tionghoa adalah pemilik department store Seng Hap, yang menjadi terkenal di Pantai Timur Sumatera. Tan Tang Ho adalah anggota kamar dagang Tionghoa bersama Khoe Tjin Tek. Kemudian ia juga aktif dalam perkumpulan Tionghoa yang bernama Tiong Hoa Hwe Koan yang mengurusi masalah pendidikan di Indoesia. Perusahaan Seng Hap didirikan pada tahun 1881 yang ciri bangunannya seperti pilar pilar jaman Romawi yang masih eksis di daerah Kesawan (Jalan A. Yani) dibangun di tahun 1900. Pada tahun 1918 Tan Tang Ho meninggal dunia dan dilanjutkan oleh anak lelakinya yang bernama Tan Boen An (1890-1946) sebagai direktur yang baru. Tan Boen An juga mulai aktif dalam bidang politik di tahun 1918 setelah pengunduran diri Tjong A Fie, dan terpilih sebagai anggota dewan kota yang mewakili masyarakat Tionghoa. (SP 16-7-1918) Tan Boen An kemudian melakukan lobi bagi penghapusan ricksjaw di Medan. (Wright 1909: 581,582; DC 24-3-1900)

Chang Pu Ching

Seorang konsul republik China dan merupakan putera dari Tjong Yong Hian, generasi kedua dari keluarga Tjong. Ia menjadi tokoh utama dalam di masyarakat kota Medan. Chang Pu Ching menjabat sebagai direktur umum yang membawahi perusahaan kereta Api Swatow, kepala di sekolah Ching Shi, dan salah seorang pendiri sekolah menengah pertama Su Tung. Ia juga terlibat dalam bidang  perumahan dan perkebunan melalui perusahaannya yang bernama, Chong Lee & Co. Ia diangkat sebagai konsul untuk republik China di tahun 1915 hingga tahun 1930. (SP 11-12-1915, 26-2-1930; Feldwick 1917: 1196)

Hiu Ngi Fen

Juga berasal dari generasi yang lebih muda ialah Hiu Ngi Fen (1902-1977), yang tiba di Medan dari China ketika masih berusia empat belas tahun. Ia mendirikan perusahaan dagang sendiri bernama Hiu Ngi Fen Trading Company. Usahanya berkembang dengan baik; pada saat yang sama ia juga memproduksi anggur obat dengan merek Anggur Obat Cap Bulan. Pada tahun 1939 Hiu Ngi Fen mendirikan usaha farmasi yaitu Apotik Moon. Melalui kontak bisnisya yang banyak,di tahun tigapuluhan Hiu Ngi Fen bertemu dengan ketua dari Chinese Benevolent Association Asia Tenggara (Organisasi Kebajikan bagi Masyarakat China Asia Tenggara), yang bergelar raja karet bernama Tan Kah Kee dari Singapura. Ia juga bertemu dengan konglomerat besar China, Aw Boon Haw dari Singapura pemilik usaha Tiger Balm (Balsem Cap Harimau). (The Tiger Balm King ialah nama gelaran Aw Boon Haw ang dikaitkan dengan usaha bisnisnya yang meluas yaitu Tiger Balm Industry). Rubber king ( Raja karet) nama gelaran untuk Tan Kah Kee ini berkaitan dengan perusahaan karetnya yang besar di British Malaya (sekarang Malaysia). (Yong 1992: 63) Selaku perwakilan dari Benevolent Organization (Organisasi Kebajikan) di Pantai Timur Sumatera Tan Kah Kee mengangkat Hiu Ngi Fen sebagai ketua di tahun 1935 yang ia jalani sampai datang invasi Jepang di tahun 1942. Organisasi yang terakhir ini berhubungan dengan Kamar Dagang Tionghoa Medan. Selama kepemimpinan Hiu Ngi Fen, pada tahun 1938 dibangun sebuah rumah jompo untuk orang Chia miskin yang tidak memiliki rumah. Sebahagian dananya berasal dari Aw Boon Haw dan saudaranya  Aw Boon Par. Dari tahun 1935-1942 Hiu Ngi Fen menjadi ketua Asosiasi Kebajikan China Perantauan (Tolong Menolong Untuk Dana Hari Depan) di Sumatera Utara, Sekolah Menengah Soe Tong (1935-1941) dan juga ketua bagi Asosiasi Pengumpulan Dana China Perantauan untuk membantu Republik China semasa perang antara China dan Jepang. (Sumatra Bin Pho 18-1-1941).

Thio Siong Soe

Seorang pebisnis Tionghoa yang juga turut memberikan kontribusinya bagi kota Medan ialah Thio Siong Soe, (1890-1967). Bersama sama dengan Lee Khong Chian, ia mendirikan pabrik getah Hocklee yang masih berjalan sampai sekarang. Ia juga aktif berkecimpung dalam Kamar Dagang Tionghoa Medan, dan juga sebagai anggota dewan pengurus dari Sekolah Menengah Su Tung (Lim 1964: 146-152)

Anggota-anggota dewan kota Tionghoa

Bersama sama dengan Tjong A Fie, yang menjadi anggota dewan kota ialah Tan Boen An, Gan Hoat Soei, Jap Soen Tjai, Liem King Hie dan Jap Gim Sek.

Orang-orang Indonesia

Sultan Mahmoed Perkasa Alam Shah dari Deli

Sultan Mahmoed Perkasa Alam Shah dari Deli mengundang Jacob Nienuys datang ke tanah Deli untuk menanam tembakau. Sultan menyediakan yang terletak dekat muara sungai Deli di sebelah selatan Labuhan Deli. Sebelum masa perang Jalan Surik Menari diberi nama Jalan Sultan Mahmoed. (Loderichs – Buiskool 1997: 9, 101,102)

Mansoer

Dr.Tengku Mansoer (1897-1953), memperoleh pendidikan di Belanda yang bertugas sebagai dokter di rumah sakit Katholik Elizabeth, dan juga sebagai anggota dewan kota di tahun tiga puluhan. (SP 27-2, 19-12-1933). Ia sangat dihargai dimata orang Indonesia, Tionghoa dan Belanda atas prestasinya di bidang kedokteran. Pada tahun 1938 ia mendirikan Persatoan Sumatera Timur yang memperoleh dukungan kuat dari penduduk Melayu dan Batak. Pada tahun 1948, ia menjadi president pertama republik federal Sumatera Timur yang kemudian dileburkan pada tahun 1950. (Loderichs – Buiskool  1997:  84, 85) Seusai perang sebuah jalan di Medan diberi nama Jalan Dr. Mansoer yang terdapat sampai sekarang ini.

Pirngadi

Ia adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit pemerintah. Pada harian Sumatra Post yang terbit pada bulan April 1933, sebuah surat yang ditulis oleh L.H. van den Ende menyatakan terima kasihnya kepada Pirngadi, seorang doker pemerintah yang telah merawat isterinya sewaktu menderita sakit keras dengan penuh perhatian dan sangat profesional dalam menjalankan tugasnya. (SP 18-4-1933)

Radja Goenoeng

Seorang Indonesia yang menjadi anggota dewan kota mulai tahun 1918 dan seterusnya. (Andalas, 4-7-1918; Gemeenteblad 18-11-1920, no.2))

Moehammad Syaaf

Dr. Moehamad Sjaaf juga seorang Indonesia yang terpilih menjadi anggota dewan kota dari tahun 1918 dan seterusnya (Andalas, 4-7-1918)

Abdullah Loebis

Ia juga orang Indonesia yang terpilih menjadi anggota dewan kota pada tahun dua puluhan. Ia sangat gigih dalam membela kepentingan penduduk Indonesia. Pada tahun 1922 Abdullah Loebis dan Raja Goenoeng menyampaikan keluhannya atas diskriminasi yang diterima penduduk Indonesia. (Gemeenteblad 18-11-1920, no. 20; 31-10-1922). Seusai perang sebuah jalan ditabalkan dengan nama Jalan Abdulah Loebis.

Nainggolan

Dr. F.J. Nainggolan anggota dewan kota yang sangat istimewa karena kepedulian sosialnya. Pada suatu rapat dewan kota pada tanggal 18 Juli, 1935 ia menyampaikan permohonannya untuk menurunkan harga sewa bagi para pedagang kecil yang berniaga di pusat pasar. (SP 18-7-1935)

Sitompoel, Abdul Hakim, Parapat dan Djamaloeddin

Mereka adalah orang orang Indonesia yang pernah duduk sebagai anggota dewan kota. (SP 1-6-1933, 21-4-1933, 8-12-1934, 3-2-1936)

Orang-orang Belanda

Nienhuys

Akibat pesatnya perkembangan di Tanah Deli juga seiring dengan pesatnya kemajuan industri perkebunan. Jacob Nienhuys (1836-1928), putera seorang pedagang tembakau tiba di Sumatera pada taun 1863. Ia diminta oleh seorang Arab yang bernama Said Abdullah Bilsagih yang berusaha menarik para investor Belanda untuk datang ke Deli. Ia menjelaskan kepada Nienhuys penduduk setempat menanam lada dan tembakau, dan para investor juga dapat menanam tembakau.(Schadee 1918, I: 171) Nienhuys yang tiba di Laboehan tahun 1863 memperoleh izin dari Sultan Mahmoed Perkasa Alam Shah untuk memulai penanaman tembakau, persis di muara sungai Deli yang terletak di sebelah selatan Laboehan. Panen perdana yang dikirim ke Belanda hasilnya sangat menjanjikan sebagai produk tembakau yang berkualitas tinggi. Selanjutnya Nienhuys mendapatkan lampu hijau untuk menanamkan modalnya lebih banyak lagi. Tanaman tembakau tumbuh dengan subur dan sangat cepat memperoleh keberhasilan yang memacu semakin banyaknya perkebunan yang muncul. Pada tahun 1869 Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij (Deli Maskapai), bersama sama dengan G. Clemen dan P.W. Janssen. Nienhuys kembali ke negerinya di tahun 1871. (Volker: 39) Sebelum masa perang Jalan Pulau Pinang  diberi nama Jalan Nienhuys. (Loderichs – Buiskool 1997: 101,102)

Cremer

Pada tahun 1871 Jacob Theodoor Cremer (1847-1923) yang bekerja di Nederlandsche Handel Maatschappij (Maskapai Pedagang Belanda) menggantikan Nienhuys yang pulang ke Eropah. Cremer masih berusia 24 tahun pada saat ia memperluas perusahaannya. Sebagai manager Deli Maskapai, Cremer juga  melakukan kerjasama yang erat dengan perusahaan perkebunan lainnya. Kantor pusat Deli Maskapai yang baru, dibangun dikawasan kampung yang kecil dipertemuan antara Sungai Babura dan Sungai Deli. Di tempat inilah awal dari perkembangan kota Medan. Sebuah rumah sakit dibangun dekat kantor Deli Maskapai pada tahun l870. Rumah sakit ini sangat begitu penting karena kuli asal China yang memasuki tanah Deli sebanyak 900 orang di tahun 1869, jumlah yang meninggal dunaia pada bulan July 1870 mencapai 213 orang. (Schadee 1918, I: 183) Cremer mempercepat pendirian perkebunan yang lainnya. Ia memandang mereka sebagai partner dalam mengembangkan pasar untuk tembakau Deli. Cremer juga membuat Deli Planters Vereeniging (Asosiasi Perkebunan Tanah Deli) untuk memudahkan koordinasi dan kerjasama dengan seluruh perusahaan lainnya. Asosiasi Perkebunan Tanah Deli juga terlibat dengan masalah masalah kependudukan kota Medan dan distrik Tanah Deli. Pada tahun 1882 Asosiasi Perkebunan Tanah Deli menghubungi kebun botani di Buitenzorg (Bogor) Pulau Jawa untuk melakukan penelitian terhadap bibit tembakau yang terserang penyakit. Dan hasilnya sebuah stasiun penelitian dibangun bagi keperluan tembakau di Tanah Deli (Schadee 1918, II: 225, 226). Pada tahun 1924 Asosiasi Perkebunan Tanah Deli membuka kantornya yang baru pada tahun 1924 di Boolweg (sekarang Jalan Puteri Hijau) berikut patung dari J.Th. Cremer yang terletak di depan kantor. Patungnya dibongkar pada tahun lima puluhan. Disamping menjalankan usaha perkebunan, Cremer juga mendirikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) atau Jawatan Kereta Api Tanah Deli degan membangun jalan kereta api Belawan dan Medan pada tahun 1883. Cremer juga sebagai salah satu arsitek dari yang membuat poenale sanctie (sanksi hukum). Ia adalah seorang organisator besar dan manager terbaik bagi Deli Maatschappij yang memulai dengan cepat pembangunan industri perkebunan. Semua ini memicu bagi lajunya perkembangan Tanah Deli, pembangunan kota Medan, dan sarana pendukungnya-secara umum inilah sejarah daerah Pantai Sumatera dan perkebunannya. Sebaliknya hal itu juga mendatangkan kesewenang wenangan terhadap para kuli. Dan gambaran negatif Tanah Deli diterangkan dalam brosur van den Brand De millioenen uit Deli. Sejauh mana kita menilai sumbangihnya yang bernilai positif? Selalu ada dua sisi pada dirinya, disamping sebagai seorang organisator yang hebat, ia juga bertindak sangat keras. Yang sangat menarik dalam kontek ini adalah sebuah artikel yang ditulisnya tahun 1906 ketika ia dan isterinya berkendara di jalan raya yang baru dibuka, dan sebahagiannya masih dalam taraf pembangunan yaitu jalan menuju dataran tinggi Karo, dan Toba. Cremer menulis: “Jalan dibangun oleh tenaga buruh paksa yang tidak dibayar. Meskipun pembukaan jalan memberikan hal positif bagi daerah itu dan penduduknya..alangkah baiknya jika para buruh yang membangun jalan di bayar upahnya dengan pantas.., bekerja tanpa upah adalah sangat wajar.” (Cremer, 1906) Sebelum masa perang  Jalan Balai Kota diberi nama Jalan Cremer. (Loderichs- Buiskool 1997: 101,102)

Kuenen

Dr. Kuenen yang bertugas sebagai dokter pada bahagian laboratorium pathology. Ia menjadi anggota dewan kota  tahun 1912. (Sp 3-8-1912) Yang sangat menarik dimana pada ahun 1912 banyak penduduk Straits Settlements (Malaysia) datang ke Medan untuk mendapatkan perobatan, yang mana pelayanan yang diberikan sangat superior seperti yang terdapat pada harian Straits Settlements (SP 9-1-1912). Sebelum perang Jalan KH Dahlan memiliki nama Jalan Dr. Kuenen. (Loderichs – Buiskool 1997: 101,102; De Bruin 1918: 83)

Hallermann

Orang Jerman Jozeph Hallermann adalah seorang planter di Sumatra. Di tahun 1890-an ia tinggal di Medan dan tahun 1898 mendirikan koran De Sumatra Post yang menjadi suatu koran tiap hari. Koran yang lain, De Deli Courant, telah dimulai tahun 1885 dan terbit dua kali per minggu. De Sumatra Post adalah terkenal sebagai koran yang independen dan lebih progressif daripada De Deli Courant. Editor pertama dari De Sumatra Post adalah pengacara van den Brand dan diikuti oleh K. Wybrands. Di tahun 1914 Hallermann pulang ke Jerman. Perusahan penerbitnya dengan De Sumatra Post telah dibeli oleh A.P. Varekamp. (De Sumatra Post 1898-1923)

Wybrands

Journalis K. Wybrands mengikuti van den Brand sebagai kepala editor dari De Sumatra Post. Dalam kontribusinya yang pertama di tahun 1899 ia menulis : ”Saya akan selalu sejauh saya bisa selalu akan berjuang untuk yang bagus, benar dan indah, tanpa membedakan orang orang.” (SP 3-8-1899)

Walikota- walikota berbangsaan Belanda dari Medan

Dari tahun 1918 sampai 1942 ada terdapat empat walikota kebangsaan Belanda di Medan. Kesan umum tentang walikota walikota ini adalah kecakapan mereka dan dedikasi. Saya tidak menjumpai kasus korupsi atau cerita negatif di sumber sumber.

Mackay

Daniel Baron Mackay (1878–1962) adalah walikota dari Medan dari tahun 1918 sampai  1931. Dari laporan dewan dan sumber sumber lain kita mendapatkan kesan yang positif tentang ia. Ia selalu menekankan bahwa dewan kota harus berjuang untuk kerjasama yang optimal diantar semua anggota. (Gemeenteblad 31-10-1962). Sebelum perang Jl. Walikota disebut Jalan Mackay (Loderichs – Buiskool 1997: 101, 102)

Wesselink

J.M. Wesselink pengganti Mackay sebagai walikota di tahun 1931. Ia menjabat hanya empat tahun sampai tahun 1935. Karena di tahun yang sama ia di tunjuk menjadi walikota Bandung. Dari dewan kota kita mendapat kesan bahwa ia berlaku profesionalis selama menjadi ketua dewan kota. (SP 21-4-1933, 27-7-1933; Loderichs – Buiskool  1997: 24)

Pitlo

G. Pitlo adalah walikota Medan selama periode 1935-1938. Seperti Wesselink hasil karya dia di laporan dewan kota adalah sangat kompeten. (SP 28-3-1935; 23-10-1938;  Loderichs – Buiskool 1997: 24)

Kuntze

Walikota berkebangsaan Belanda di Medan yang terachir adalah C.E.E. Kuntze periode 1938-1941. Seperti pendahulunya ia juga mencoba untuk memerintah kotamadya dengan cara bekerja sama dan setia. Kita juga mendapatkan kesan yang positif di berbagai sumber. (SP 23-10-1938;  Loderichs – Buiskool 1997: 24)

Gubernur- gubernur Sumatra Timur

Van der Plas

Pada 4 Juli 1917 gubernur van der Plas dan instrinya meninggalkan Medan. Banyak perhatian dari berbagai media cetak dengan banyak kata kata pujian akan perginya Pak Gubernur. Ini ditulis oleh koran Andalas berbahasa Tionghoa/Melayu. (Andalas 5-7-1917) Sebelum perang Jl. Kalingga di sebut Jl. Van der Plas. (Loderichs – Buiskool 1997: 101, 102)

Westenenk

Gubernur Louis Constant Westenenk (1872-1930) ditunjuk menjadi Gubernur Sumatra Timur di tahun 1920. Setelah kuliahnya mengenai Indologie selesai di Delft, di tahun 1892 ia memulai karirnya sebagai pejabat negara di Borneo. Disamping karirnya sebagai pejabat negara, ia mempelajari mengenai adat lokal. Di tahun 1894 ia menerbitkan uku mengenai suku Dayak dan di tahun 1922 ia menerbitkan buku yang berjudul Bahasa Rencong dari orang Kerinci. Bukunya yang paling terkenal adalah bernama Waar Mensch en Tijger Buren zijn (Dimana Manusia dan Harimau adalah Bertetangga). Publikasi buku ini menceritakan mengenai kesan yang amat menkajubkan mengenai legenda dan kepercayaan orang orang dari Sumatra. Untuk memberikan kutipan pendek dari buku ini: ”Juga yang paling besar, dia di dalam rimba yang tidak pernah menybutkan namanya, karena hal ini dapat membuat dia marah: sebab orang orang harus menghormati yang Paling Tua, yang ada dimuka bumi karena ada hubungan yang dekat diantara jiwa manusia dan Dia, Bapak yang Besar, Nenek Moyang, Yang Bergaris Loreng, Yang Berbintik Bintik….”  (Westenenk 1928: 54). Publikasi Westenenk yang lain berjudul Het Rijk van Bittertong (Kerajaan Lidahpahit) SP (7-1-1933) Sebelum perang Jl. Candi Borobudur disebut Jl. Westenenk. (Loderichs – Buiskool 1997: 101, 102)

Ezerman

H.E.K. Ezerman, (1844-1967) adalah seorang asisten residen di Pematang Siantar dan gubernur Sumatra Timur dari tahun 1930 sampai di 1933. Pada saat Gubernur Ezerman meninggalkan Sumatra, ribuan orang dari berbagai suku memberikan ucapan selamat jalan kepadanya. Pemerintahannya dipuji bukan saja oleh pemerinta Belanda tetapi juga dari pimpinan orang Indonesia, seperti Sibajak dari Lingga (SP 19-8-1930, 26-6-1933,  5-7-1933). Ezerman adalah seorang yang rendah hati dengan kecakan yang tinggi. Dia mempunyai reputasi yang bagus sebagai asisten resident dan terakhir sebagai seorang gubernur. (Coolhaas 1985: 189, 217; Buiskool 1999: 243)

Anggota – anggota dewan kota Belanda

Van den Brand (18..-1921)

Pengacara J. van den Brand adalah seorang profil tinggi di masyarakat kota Medan. Dia adalah salah satu dari beberapa pengacara di kota Medan pada masa itu, dia juga kepala editor dari surat khabar Sumatra Post yang baru didirikan tahun 1898. Beberapa tahun kemudian menjadi anggota dewan kota dari partai politiknya sendiri dan dari tahun 1918 menjadi anggota dari dewan rakyat di Batavia. Jika dia pergi atau kembali dari luar kota, maka beritanya akan dipublikasikan disetiap surat khabar seperti yang terjadi pada tanggal 10 February 1899 pada saat dia baru kembali dari Singapore. (SP 10-2-1899, 21-6-1899). Buku tahunan untuk Deli diterbitkan oleh van den Brand. Buku ini diperuntukkan untuk setiap orang yang tinggal di Sumatra Timur atau yang tertarik dengan daerah ini. Pada saat itu bisa dipesan melalui penerbit J. Hallermann dari Sumatra Post (SP 24-5-1899). Van den Brand menulis banyak artiket tentang persoalan – persoalan yang berbeda. Sebagai contoh, dia menulis tentang kunjungannya ke Malacca dan berkurangnya pengaruh Belanda disana (SP 21-7-1899). Di artikel yang lain dia menulis tentang hak setiap orang untuk mendapatkan pemakaman yang layak sesuai dengan keinginan dan agamanya. Van den Brand menunjukkan tentang keputusan pemerintah lokal yang mana tiap buruh harus dapat pemakaman yang layak. Karena itu tidak dilakukan oleh setiap perkebunan ia menulis tentang hal itu. (SP 22-6-1899). Di tahun 1902 van den Brand menjadi seorang tokoh nasional setelah terbit bukunya De millioenen uit Deli tentang penganiayaan kuli kuli di Deli. Setahun kemudian dia mengadakan pertemuan pribadi dengan menteri koloni Idenburg tentang hal ini. (surat van den Brand). Di tahun 1912 van den Brand dipilih sebagai anggota dari dewan kota dan mendirikan grup politik Gemeentebelangen (Kepentingan kotamadya). Van den Brand mempunyai banyak pandangan publik, seperti contoh di Kamar Dagang dan Industri Medan, berbicara tentang kebijkan pangan (SP 30-3-1915). Di tahun 1915 di dalam dewan dia diskusi tentang pajak dan untuk apa sebagian besar penduduk Indonesia membayar pajak. Sejak tidak ada catatan sipil dan informasi populasi, itu tidak mungkin untuk meminta pajak dari orang lokal (SP 2-9-1915). Di tahun 1919 van den Brand pindah ke Batavia (Jakarta) dimana dia terpilih sebagai anggota dari Volksraad (dewan rakyat). Dua tahun kemudian dia meninggal di Batavia (Jakarta). Banyak artikel-artikel dalam kolom dalam kenangan yang terbit di korang – koran pada saat dia meninggal.

De Waard

Kami juga mendapat banyak kesan positif dari wethouder (anggota dewan yang sehari hari menyusun undang undang) di bidang keuangan de Waard, seorang anggota dewan untuk partai sosialis sejak tahun 1920. Dia selalu menekan proyek-proyek sosial dari kotamadya, tetapi masalahnya adalah minimnya dana dari kotamadya. Dia berhenti dari anggota keuangan kotapraja dan dewan kota pada tahun 1933 (Gemeenteblad 31-10-1922, 21-4-1933).

Groenewegen

Arsitek Groenewegen, seorang anggota dewan kota yang lain. Dia selalu menekankan pentingnya kerjasama dan atmosfir yang baik dalam dewan kota, sehingga dengan begitu akan akan lebih berhasil (SP 21-4-1933). Groenewegen merancang banyak gedung-gedung kepentingan umum di Medan. Dia merancang rumah sakit Saint Elisabeth, sekolah Princes Beatrix (sekarang sekolah Immanuel), sekolah Tionghoa – Belanda di jalan Hakka (sekarang Jl. Nusantara) dan juga kolam renang. Setelah perang dia bekerjasama dengan arsitek Indonesia Silaban dan merancang gedung-gedung yang lain, seperti Mesjid Istiqlal di Jakarta. (Segaar-Höweler 1998: 82)

Eylander

J. Eylander dari tahun 1916 sampai di 1933 adalah pimpinan dari departemen bangunan dan rumah di Kotamadya. Dia bekerja keras untuk perkembangan kampung-kampung dan mengawasi rumah-rumah dan bangunan. Ketika dia berhenti ditahun 1933, dia banyak mendapat banyak pujian dari seluruh orang Eropa dan warga pribumi di departemennya. (SP 10-3, 1-6-, 9-6-1933)

Van den Bergh

Ketika seorang wethouder di bidang keuangan yaitu van den Bergh meninggalkan Medan berangkat ke Batavia (Jakarta) ditahun 1941, dia banyak mendapat pujian dari anggota dewan kota yang lain. Van den Bergh menjadi anggota kotapraja sejak 1937 sampai di 1941, sebelumnya dia adalah seorang editor dan kepala editor dari koran Deli Courant. Dia bekerja untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat agar proyek umum seperti pusat pasar bisa dibayar dan biaya pembangun instalasi riol. Anggota dewan Klevant berbicara penuh pujian untuk van den Bergh dan anggota Soeleiman dalam bahasa Malayu, juga memuji van den Bergh. Juga anggota van der Lee dan Jap Gim Sek berbicara positief  mengenai dia. Setelah itu van den Bergh berbicara dan dia mengatakan setelah 1918 baru adalah memulai arah ke demokrasi sebab ada anggota dewan kota terpilih dari beberapa suku etnis. Dia memuji anggota kollega pendahulu De Waard dan Schoorl dan mengatakan selalu ada kerja sama yang baik didalam dewan. Dia memuji anggota dewan Romme dan Djamaloeddin dan pendahulunya Dr. Gindo Siregar menjadi temannya. Van den Bergh mengatakan bahwa wethouders (anggota dewan yang sehari hari menyusun undang undang) adalah orang orang yang harus mendapatkan kepercayaan dari dewan, karena itu suatu hubungan adalah penting. Mereka tidak bisa berbicara atas nama satu kelompok saja tetapi harus mewakili seluruh dewan. (SP 20-6-1941)

Penulis-penulis dan ilmuwan

Madelon Szekely Lulofs

Madelon Szekely Lulofs (1899-1958) mungkin adalah seorang pengarang paling terkenal yang menulis tentang Deli ditahun 1930-an. Setelah terbit novelnya Rubber (1933), banyak perhatian tertuju ke Deli. Novel-novel lainnya adalah Koelie, De Hongertocht, Tjoet Nja Din dan Rimboe. (Loderichs-Buiskool 1997: 33)

Ladiszlasz Szekely

Suami dari Madelon Szekely Lulofs yaitu Ladiszlasz Szekely (sekitar 1890-1946), tidak begitu terkenal, meskipun bukunya Tropic Fever (1935) lebih banyak mengulas keadaan Medan dan Deli dari buku istrinya Rubber.

Jansen

Gerard Jansen, kepala dari departemen pertanahan dari kota Medan, sangat tertarik dengan budaya dan sejarah sesama manusia, yang dia terbitkan dua buku tentang orang Indonesia, Tionghoa dan India di kota Medan. Kedua bukunya dipublikasi sekitar tahun 1940. Buku pertamanya yang berjudul Vreemde Oosterlingen (Oriental Asing), dan buku keduanya De Andere Helft. Geloof en Gebruiken van onze Oostersche Stadgenooten (Pihak yang Lain. Agama dan Budaya dari Penduduk Timur kota Medan).

De Bruin

A.G. de Bruin adalah seorang penasehat pemerintah untuk orang- orang Tionghoa di Sumatra Timur. Di tahun 1918 dia menerbitkan bukunya  De Chineezen ter Oostkust van Sumatra (Orang-orang Tionghoa di Sumatra Timur) dengan deskripsi yang luas tentang perbedaan-perbedaan etnik Tionghoa di Sumatra.

Schadee

W.H.M. Schadee adalah seorang administrator Deli Spoorweg Maatschappij atau DSM (Perusahaan Kereta Api Deli) (SP 2-10-1912). Dia terbitkan dua  jilid buku sejarah dari Sumatra Timur dengan judul Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust (Sejarah dari Sumatra Timur).

Coolhaas

W. Ph. Coolhaas (1899-1981) selesaikan studi Indology di tahun 1920 dan setelah itu berangkat ke Indonesia, dimana dia menjadi controleur (district officer) di Maluku. Dalam menulis tentang itu: ”Saya muda sekali dan tanpa pengalam tetapi saya mempunyai rasa tanggung jawab yang besar.” (Coolhaas 1985: 9) Controleur mempunyai banyak tugas; dia adalah hakim di pengadilan lokal dan langsung berhubungan dengan kepala kampung; Sultan sultan dan Radja radja. Controleur harus lapor sama assistent resident dan dia terakhir lapor sama resident. Pejabat pejabat ini telah mempersiapkan diri dengan baik dapat berbahasa lokal, mengerti hukum adat dan sistem hukum. Tahun 1921 Coolhaas pindah ke Ternate dan setelah itu ke Batjan dimana dia mendapat pertangungjawab penuh atas pemerintah kolonial. Dia paling senang disini dia menulis didalam buku kenangan, sebab paling dekat sama penduduk lokal. Publikasi publikasi pertama dia adalah tentang Batjan. Tahun 1925 dia pindah ke Semarang dan setelah itu ke Flores. Bulan Nopember 1933 dia menjadi assistent resident di Sumatra, tanah Toba dan Langkat. Sebagai ketua dewan lokal dan banyak tugas administratif dia sekarang kurang kontakt langsung dengan rakyat, akibatnya dia tidak bisa melindungi mereka dari  exploitasi oleh kepala kepala suku lokal, dia menulis dalam buku kenangan. Tentang orang Batak dia menulis: “Saya merasa perjalanan, waktu saya harus tidur di kampung kampung, paling penting untuk belajar lebih banyak tentang penduduk didalam lingkungan mereka sendiri. Waktu sudah malam tiba, semua laki laki dan diatas sepuluh tahun, datang duduk dan berbicara. Perempuan perempuan nampak tidak begitu penting. Orang orang Batak tidak begitu gembira, atau ramah, tetapi mereka suka sekali berbicara. Tentang tiap tema (topik) kami berbicara, pada umumnya tentang hal hal kepentingan untuk orang orang kampung pertanian, dan berdiskusi sampai dalam. Hampir semua, tua dan muda, memberikan pendapat dengan suara kuat dan jelas ..”. (Coolhaas 1985: 166) Waktu dia pulang untuk kedua kali ke Belanda dari 1934 sampai 1936 dia mengambil Phd (S3) dari universitas Utrecht dengan dissertasinya Het Regeerings Reglement van 1827. Het werk van 1818 aan de ervaring getoetst. (Undang undang pemerintah 1827. Pekerjaan dari 1818 diperiksa oleh pengalaman). Tahun 1939 dia kembali ke Belanda. Waktu perang dunia ke dua dia menerbitkan buku tentang Indonesia dan tahun 1945 dia kembali ke Indonesia ke Batavia (Jakarta). Satu tahun kemudian dia telah ditunjuk sebagai guru besar bahagian sejarah kolonial di Universitas Indonesia yang baru selesai di bangun. Di tahun 1947 dia menjadi penanggung jawab arsip nasional. Disini muncul pertanyaan apakah materi arsip harus dibawa ke Belanda atau tinggal di Indonesia. Menurut Coolhaas jika materi arsip akan di bawa ke Belanda harus dengan persetujuan penguasa Indonesia. Coolhaas menjadi penanggung jawab arsip nasional sampai tahun 1950. Di tahun 1965 ia menjadi professor bagian sejarah di Universitas Utrecht,  dengan thema hubungan Belanda dengan negara negara jauh. Ia meninggal di tahun 1981. Coolhaas mengenal pembatasan pegawai negeri Eropa mengenai ilmu pengetahuan, namun ia berpendapat bahwa kegiatan mereka dan keberadaaan mereka adalah sebuah anugerah untuk Indonesia. Ia adalah seorang wakil politik etis ia menjadi ilmuwan yang mempunyai nama di dunia. Ia mengharap di masa depan fakta fakta ilmu yang lebih baik akan membawa keseimbangan dalam perpendapat. Oleh karena itu ia menekankan penerbitan sumber sumber tentang Asia Tenggara. (Wikepedia Coolhaas)

Kesimpulan

Orang orang yang memberikan kontribusi yang positif buat Sumatra Timur (sekarang propinsi Sumatera Utara) jumlahnya banyak. Dari tahun 1864  Sumatra Timur berkembang amat pesat karena industri perkebunan. Ber-ribu ribu pekerja dari Cina, India dan kemudian dari Jawa di rekrut untuk bekerja di perkebuan. Akibat dari ini infrastruktur  yang lengkap dan baru di bangun seperti jembatan, jalan jalan dan jalan kereta api. Kampung kecil Medan menjadi kota yang makmur. Di penulisan sejarah bagaimana pun anggapan mengenai Tanah Deli negatif. Karena kondisi yang amat miskin dimana pekerja kebun bekerja terjadi sampai di awal abad 20. Tetapi sebagai pertimbangan untuk alasan yang telah di diskusikan seperti di atas kita mengambil kesimpulan bahwa akibat dari industri perkebunan lebih positif daripada negatif. Jika akibatnya positif seperti yang telah kita sebutkan, kita harus mengucapkan banyak terima kasih kepada kepada orang orang yang berkontribusi dari Tionghoa, Indonesia dan Belanda.

Sumber-sumber

-          Bool, H.J. De Chineesche Immigratie naar Deli, 1903

-          Breman, J. Koelies, planters en koloniale politiek. Dordrecht, 1987

-          Bruin A.G. de De Chineezen ter Oostkust van Sumatra Oostkust van Sumatra Instituut, Leiden, 1918

-          Buiskool, D.A. De Reis van Harm Kamerlingh Onnes, brieven uit de Oost 1922-1923, Hilversum, Verloren, 1999

-          Chang, Queeny Memories of a nonya Singapore, 1984

-          Coolhaas, W.Ph. Controleur Binnenlands Bestuur. Herinneringen van een jong bestuursambtenaar in Nederlandsch Indië, Utrecht 1985

-          Clemens, A.H.P., Lindblad, J.Th. Het Belang van de Buitengewesten. Economische expansie en koloniale staatsvorming in de Buitengewesten van Nederlands Indië. 1870-1942. Amsterdam, 1989

-          Cremer, J.Th. in : Eigen Haard Uitgeverij der Naamlooze Vennootschap “Het Tijdschrift Eigen Haard” te Amsterdam. 33e jaargang, 20 april 1907, no. 16)

-          Feldwick, W. and W.H. Morton-Cameron Present day impressions of the Far East and prominent and progressive Chinese at home and abroad; The history, people, commerce, industries and resources of China Hongkong, Indo-China, Malaya and Netherlands India. London: The Globe Encyclopedia Company, 1917

-          Gedenkschrift van de Tabak Maatschappij Arendsburg Ter gelegenheid van haar vijftigjarig bestaan 1877 – 1927 Samengesteld door A. Hoynck van Papendrecht Rotterdam, 1927

-          Houben, V.J.H., Lindblad, J.T. and others Coolie Labor in Colonial Indonesia. A Study of Labor Relations in the Outer Islands, c. 1900-1940. 1999 Harrassowitz Verlag – Wiesbaden

-          Jong de, J.J.P. De Waaier van het Fortuin. De Nederlanders in Azië en de Indonesische archipel 1595-1950. SDU Uitgevers, Den Haag, derde druk, oktober 2000

-          Jansen, G. Vreemde Oosterlingen, (Foreign Easterners) Uitgeverij W. van Hoeve, Deventer 1940

-          Jansen, G. De Andere Helft Geloof en Gebruiken van onze Oostersche Stadgenooten Medan 1941.

-          Khoo Su Nin, Streets of Georgetown, Penang, 1993

-          Kühr, E. Nederlandsch-Indië Oud & Nieuw. Article Tjong A Fie, 1921

-          Lim Ren Huan Tun Pun School, the earliest overseas Chinese school in Medan 1964 (translated by Hiu Kian Jin)

-          Loderichs, M.A., Buiskool, D.A. and others, Medan, beeld van een stad Asia Major, Purmerend 1997

-          Persoonlijkheden in het Koninkrijk der Nederlanden in Woord en Beeld. Nederlanders en hun werk. Amsterdam, 1938

-          Schadee W.H.M. Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust, deel I en II. Oostkust van Sumatra Instituut, Amsterdam, 1918

-          Segaar – Höweler, D.C. J.M. Groenewegen (188-1980) Een Hagenaar als Indonesisch architect Bibliografiën en oeuvrelijsten van Nederlandse architecten en stedebouwkundigen (BONAS), Rotterdam, 1998

-          Székely Ladiszlasz Tropic Fever The Adventures of a Planter in Sumatra Translated by Marion Saunders, First published by Harper & Brothers 1937. With an introduction by Anthony Reid Oxford University Press 1979

-          Székely – Lulofs, Madelon H. Rubber 16e druk, 1989 – Amber – Amsterdam

-          Thee Kian-wie Plantation Agriculture and Export Growth An economic history of East Sumatra, 1863-1942, Jakarta, July 1977

-         Thee Kian Wie “The development of Sumatra, 1820-1940″. In: Maddison, A., Prince, G. Economic growth in Indonesia, 1820-1940. Dordrecht, 1989

-          Vleming, J.L. Het Chineesche Zakenleven in Nederlandsch Indië door den Belasting Accountants Dienst onder leiding van J.L. Vleming Landsdrukkerij – Weltevreden 1926

-          Ward, W.T. Sunlight And Shadow of Missionary Life Printed by J. Hallermann, Medan – Tebing Tinggi 1915

-          Westenenk, L.C. Waar Mensch en Tijger Buren Zijn ‘s Gravenhage 1928

-          Wikipedia, Westenenk L.C.

-          Wikipedia, Coolhaas, W. Ph.

-          Wright, Arnold and Oliver T. Breakspear Twentieth century impressions of Netherlands India; It’s history, people, commerce, industries and resources. London, Singapore: Lloyd’s Greater Britain Publishing Company, 1909

-          Yong, C.F. Chinese Leadership and Power in Colonial Singapore Times Academic Press, Singapore, 1992

Koran-koran

Andalas 1918

Deli Courant 1900

Indische Gids 1919

Sumatra Post 1899 -1941

Sumatra Bin Pho 1941

Gemeenteblad 1921-1928

Bahan-bahan arsip

-          Letter of J. van den Brand to the Minister of Colonies in Den Haag. Rijswijk, 29-3-1904. Ministerie van Koloniën, 1905-1963, doosnr. 290, 28-1-1905, Nationaal Archief, Den Haag.

-          Mailrapport no. 93/17, Governor van der Plas, 6 December 1916) (Ministerie van Koloniën 1900-1963. Alg. Verbalen, doosnr. 1719, Nationaal Archief, Den Haag.

-          Memorie van overgave (M.v.O.) (Memorandum of transfer) mayor Mackay of Medan, 1933, 106-109, KITLV, Leiden.

Permesta Bukan Pemberontak

Setelah Pemboman oleh Pemerintah Pusat lewat AURI atas kota Manado 22 Februari 1958, maka dikeluarkan pemberintahuan oleh Mayor W. Najoan dari penerangan angkatan darat KDM SUT untuk kepada siapa saja yang ingin membela PERMESTA untuk sukarela melapor dan dijadikan militer PERMESTA, beserta itu juga diberitahukan bahwa Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah yang secara struktur organisasi militer berada di bawah Teritorium VII Wirabuana dinyatakan dalam keadaan darurat perang-Staat Oorlog en Behleg (S.O.B).

Maka secara spontanitas pelajar, mahasiswa, pemuda, dan orang dewasa yang sanggup memanggul senjata di seluruh Sulawesi Utara datang melapor untuk siap dipersenjatai menjadi militer PERMESTA, dan tidak terkecuali ex-KNIL sesuai dengan ketentuan militer professional mereka harus melapor untuk siap kembali bertugas jika negara dalam keadaan darurat perang, hal ini telah ditegaskan sebelum mereka meninggalkan KNIL atau pada saat terakhir ketika KNIL di Indonesia dibubarkan tahun 1950 di Indonesia Timur, di Makassar oleh panglima TT-VII Wirabuana Kol.(TNI) A.E Kawilarang. Hampir 5000 ex-KNIL terkumpul kembali dengan usia sebagian besar mereka berada diatas 40-an dan 50-an, serta beberapa dari mereka ada yang mendekati 60 tahun. Beberapa ex-Marechausse (baca Marsose) melapor tetapi sudah tidak cukup memenuhi syarat karena berada pada usia 70 tahun, yang mana beberapa dari mereka pernah bertugas dibawah kesatuan 10th Marechausse Brigade yang terkenal (Marechausse dibuatkan museum tersendiri di negeri Belanda untuk mengenang kesatuan ini, Marechausse memiliki arti secara harafiah; “Abdi/Mengabdi ” atau Abdi Raja/Ratu bisa juga secara bebas disebut Imperial Guards-pengawal kerajaan koloni, marechausse sendiri berfungsi sebagai pasukan ringan/mobilitas tinggi tetapi punya penetrasi/kemampuan gempur yang efektif terhadap pertahanan gerilya lawan, dan konon Mobile Brigade milik POLRI didirikan karena terinspirasi oleh unit ini).

Ke-5000 ex-KNIL tersebut lebih banyak di alih tugaskan ke bagian senjata berat; Arteleri Medan/awak meriam lapangan dan Penangkis Serangan Udara (Anti-Airassult/Aircraft) mengingat usia mereka, tetapi yang tetap memiliki syarat dan kualifikasi untuk tugas di unit Infanteri tetap diberi tugas sebagai komandan komandan kompi baik kompi otonom maupun kompi dalam battalion, dan diakui setelah perang PERMESTA usai, ex-KNIL tersebut banyak membantu terutama dari segi pengalaman sebagai militer professional, banyak kompi-kompi campuran ex-KNIL dan TNI di Batalion-Batalion pasukan PERMESTA mendatangkan kesulitan luar biasa bagi tentara Pusat di medan tempur.

Awal Juni 1958 setelah AUREV-angkatan udara revolusioner/Permesta ditarik dari mapanget, karena pilot AUREV kebangsaan Amerika; Kapten pilot (Aurev)Allan Pope pesawatnya tertembak jatuh dan tertangkap bersama navigatornya Letnan (Aurev) Jan Harry Rantung, menguak keterlibatan Amerika di PERMESTA TROOPS. Maka AUREV praktis tidak bisa beroperasi leluasa menggunakan lapangan udara PERMESTA di Mapanget (Sam Ratulangi Airport sekarang). Sebuah Operasi dari tentara Pusat, melalui RPKAD (sekarang KOPASSUS) di gelar untuk merebut lapangan udara Mapanget dari Permesta, dengan komandan operasi Lettu. B. Moerdani, dikemudian hari diketahui Moerdani hanya di Pos Komando operasi dipinggiran pantai Wori, tidak menyertai pasukannya masuk ke Mapanget. Pasukan PERMESTA di Mapanget tidak siap menghadapi serbuan dadakan RPKAD ini memilih mundur ke pinggiran lapangan Mapanget arah kota Manado sebagian mereka yang tidak sempat mundur tertangkap dan persenjataan dilucuti , dan setelah mendapat konfirmasi kekuatan pasukan tentara pusat yang menyerbu Mapanget, maka Overstee (Permesta) Wim Joseph sebagai komandan pertahanan pangkalan mengerahkan 3 kompi pasukan Permesta untuk menyerang balik ke Mapanget, diantaranya Kompi CTP Jimmy Boys(Komando Reserve Umum), Kompi Togas (belakangan menjadi Batalion T) dan Kompi KMKB-kope2 Manado, ditambah satu peleton kawal dari Batalion X ditambah 2 Panzer ringan dari Kaveleri PERMESTA (Panzer ini buatan Inggris). Sergapan pasukan Pasukan PERMESTA pimpinan Overstee (Permesta) W. Joseph membuahkan hasil, setelah musuh mencoba penyerangan senyap dimalam hari dimana akhirnya pergerakan mereka terdeteksi dan tejadi pertempuran terbuka, pertempuran singkat itu menewaskan Sersan (RPKAD)Tugiman, Sersan (RPKAD) Tugiman ditewaskan oleh peleton kawal dari Batalion X ketika dia dan beberapa RPKAD lainnya berusaha menyerang posisi peleton kawal dari Batalion X dimana Overstee (permesta) W. Joseph juga berada disitu. Dini hari sebelum fajar RPKAD menghilang atau mundur dari Mapanget membawa rekan-rekan mereka yg luka-luka kemungkinan termasuk beberapa mayat rekan mereka yang tewas. Dua hari setelah pertempuran pasukan PERMESTA melakukan penyisiran perimeter sekeliling lapangan Udara Mapanget yang dilakukan Kompi-CTP Jimmy Boys dimana mereka menemukan seorang Kopral (RPKAD) Taher (orang Tegal)* di semak belukar di pinggiran Mapanget, ia terluka berat oleh peluru dari Browning Machine Gun .30 Cal., lukanya hampir membusuk, kemudian Kopral (RPKAD) Taher dibawa ke Rumah Sakit PERMESTA. Rumah Sakit PERMESTA tersebut dikepalai seorang Major (medis) keturunan China asal Manado sekaligus sebagai Komandan Detasemen Medis pasukan Permesta. (*Taher setelah sembuh dari luka-lukanya dia bergabung dengan tentara Permesta mengingat di tentara Permesta ada juga RPKAD yg bergabung, di perkirakan 40 personil RPKAD bergabung sebelum pecah perang. Dan setelah perang Permesta usai Taher pulang ke Jawa melapor kembali kesatuan-nya di RPKAD, dimana dia sendiri sudah dinyatakan tewas dalam tugas dan Jasadnya tidak diketahui, apalagi mengingat Tentara Pusat/TNI-Brawijaya memberi provokasi-pemberitaan bahwa PERMESTA adalah pasukan gerombolan dan barbar, tetapi Kopral (RPKAD) Taher memberi kesaksiannya atas apa yang dialami-nya selama dia dirawat karena lukanya dan sebagai tahanan, dan menerangkan ke atasannya bahwa setelah sembuh dia akhirnya memilih bergabung dengan tentara Permesta dan ikut bertempur melawan Tentara Pusat/TNI-Brawijaya, Kopral (RPKAD) Taher akhirnya mendapat penghargaan kenaikan pangkat ke Sersan Major RPKAD-TNI dan mendapat bintang Jasa).

Tidak berapa lama setelah kegagalan RPKAD di Mapanget, AURI datang menyerang Mapanget dengan kekuatan pesawat pesawat pemburu P-51 mustang, dimana mereka praktis beroperasi leluasa dan datang dari Morotai yang telah direbut TNI dari Pasukan PERMESTA di kep. Halmahera, dimana sekalipun TNI menyerbu ke Maluku Utara dan berhasil menguasai lapangan Udara Morotai milik PERMESTA, TNI tidak sanggup mengalahkan pasukan PERMESTA yang bertahan di kep. Halmahera atau KDP I Tentara Permesta. Pesawat-pesawat AURI sendiri sebelum RPKAD mencoba menyerang Mapanget, telah berhasil dirontokan oleh pertahanan lapangan udara PERMESTA di Mapanget yang notabene mereka adalah ex-KNIL yang mengawaki kanon-kanon anti serangan udara, dan sampai pada saat itu mereka atau ex-KNIL tersebut telah merontokan 3 pesawat AURI dimana sebuah pesawatnya jatuh di tanjung merah-Girian dan menewaskan Pilotnya, 2 lainnya jatuh ke laut tetapi Pilot-pilotnya berhasil meloncat keluar pesawat dan mendarat dengan parasut dilaut, kemudian di evakuasi oleh ALRI. Dan sejauh itu merupakan kemenangan Angkatan Darat Revolusioner-PERMESTA terhadap AURI setelah AUREV-PERMESTA praktis tidak leluasa beroperasi. Kembali seperti biasa AURI menyerang Mapanget dan seluruh awak kanon anti serangan Udara PERMESTA kembali menembak beruntun serempak ke Udara dari mana datangnya pesawat-pesawat AURI; sebut saja salah seorang ex-KNIL; Oom Pandey menjadi awak Kanon Anti Serangan Udara sudah berkacamata dan berusia diatas 50-an dengan tenang tanpa menunjukan airmuka gugup masih sanggup menembakan kanon anti serangan Udara ke arah pesawat pemburu AURI, dimana pesawat pemburu AURI tersebut sedang mengincar posisi kanon dari Oom pandey sambil menembakan roket serta mitraliur, dan roket pesawat pemburu AURI tersebut menerpa pinggiran kanon anti serangan Udara dan membuat Oom pandey tersebut terlempar keluar posisinya untung saja Oom Pandey tersebut tidak terluka, dia bergeming dan bergegas kembali duduk dibelakang kanon dan kembali memutar posisi kanonnya ke arah pesawat pemburu AURI dan menembak. Kanon-kanon anti serangan Udara PERMESTA lainnya menembak dan menebar peluru seperti jala di Udara Mapanget…sampai akhirnya pesawat-pesawat AURI menghilang dari wilayah Udara Mapanget. Pertahanan Udara PERMESTA di Mapanget merupakan pertahanan Udara terkuat yang diakui pernah dihadapi AURI sepanjang sejarah AURI berdiri dan terlibat diberbagai penugasan operasi udara.
Beberapa eks-KNIL juga mengawaki meriam lapangan seperti meriam berkaliber 155mm meriam pertahanan pantai digaris pantai Kota Manado, Recoilles Gun cal. 75 atau mortar 81 dalam memberikan tembakan bantuan kepada gerak maju Infanteri PERMESTA, atau membuyarkan serangan atau posisi musuh.

Di Infanteri PERMESTA eks-KNIL terlibat juga di garis depan, sebut saja Major (Permesta) Sem Lepar eks-KNIL juga, jauh sebelum menjabat kepala staf brigade Pancasila/Wehrkrise III di KDP II tentara Permesta, Major Lepar ini pernah memimpin Kompi KMKB –Manado (Garnizun) menahan gerak maju pasukan Tentara Pusat dari arah Tuminting ke kota Manado, dan menjadi pasukan terakhir yang meninggalkan kota Manado sebelum Manado di kuasai Tentara Pusat. Sementara itu di awal perang PERMESTA, tentara PERMESTA melancarkan “offensive operation” ke Sulawesi Tengah dan banyak eks-KNIL diikutkan dioperasi itu beserta dengan Brigade 999 dan eks Batalion 719-TNI(belakangan sebagian menjadi Batalion Q) dibawah komando panglima operasi Kolonel (Permesta) D.J Somba mereka sukses menguasai SulTeng, Tapi tidak berapa lama sebagian besar pasukan yang merebut SulTeng (Brigade 999) balik ke Minahasa melalui darat lewat hutan belantara, dimana eks-KNIL itu kebanyakan mati diperjalanan balik atau ketika mereka long march melintasi hutan belantara dari Sulawesi Tengah ke Minahasa, kebanyakan eks-KNIL tidak sanggup meneruskan perjalanan lagi karena usia dan habisnya perbekalan, mereka hanya menulis surat dan menitipkan pesan untuk keluarga mereka melalui tentara-tentara Permesta yang lebih muda yang masih sanggup melanjutkan perjalanan kembali ke Minahasa.

Ada juga Major (Permesta) David Pantow eks-KNIL yg pernah menjadi tawanan perang Jepang di Perang Pasifik, ditawan Jepang di Rabaul (kamp interniran), pada awal perang Permesta di Gorontalo, didesa Telaga, Kompinya terjebak ditengah-tengah satu Batalion TNI, dalam keadaan dikepung dan diserbu oleh tembakan jarak dekat dan bayonet oleh tentara Pusat ke posisi Kompinya, Major (Permesta) David Pantow dan seorang perwira peleton lainnya juga eks-KNIL dengan pistol ditangan kiri dan kelewang KNIL ditangan kanan mereka berdua memotong-motong ratusan TNI yg datang menyerbu dengan bayonet sampai akhirnya kompi Major (Permesta) David Pantow mendapat celah untuk keluar dari kepungan. Dan Major (Permesta) David Pantow ini kemudian menjadi Komandan Batalion O/Pinaesaan dan ikut membawa Batalionnya tersebut dalam operasi serangan umum di Kawangkoan. Setelah Kotamobagu jatuh ke tangan Tentara Pusat sept. 1959, di tahun 1960 di daerah dumoga Batalion O/Pinaesaan pernah memukul mundur telak Batalion 521/Brawijaya TNI meninggalkan ratusan personilnya tewas. Major David Pantow sendiri setelah perang Permesta berhenti lewat penyelesaian 4 April 1961, ketika ditugaskan dengan beberapa perwira menengah tentara Permesta yg akan meng-sosialisasikan ke Tentara Permesta yg masih dikantong-kantong pertahanan di daerah Brigade 999 untuk diberi himbauan supaya turun dari daerah kantong gerilya sesuai kesepakatan 14 April 1961 dengan Pemerintah Pusat, dia dijebak diperjalanan oleh Tentara Pusat yang juga bersama dengan mereka, dihutan sebelum area Tompaso Baru dan dibunuh oleh Tentara Pusat/TNI-Brawijaya (dendam peristiwa telaga) termasuk perwira menengah Permesta yg ikut dengannya. Kemudian dilaporkan Tentara Pusat bahwa Major (Permesta) David Pantow beserta beberapa perwira menengah Tentara Permesta yang ikut dengannya disergap dan di bunuh oleh Tentara Permesta yang tidak mau menerima penyelesaian perang Permesta.
Banyak lagi kisah kisah para eks-KNIL di PERMESTA TROOPS lainnya yang menunjukan loyalitas dan profesionalitas mereka sebagai militer. Sekalipun dalam usia yang dinyatakan sudah hampir tidak memenuhi syarat di medan tempur, setidaknya eks-KNIL atau “the Oldcrack” atau tentara tua yang berpengalaman telah memberikan contoh moril dan moral dalam pertempuran bagaimana seharusnya untuk menghadapi pertempuran itu sendiri. Dengan disiplin tentara yang “Cadaver” atau disiplin mati, mereka tidak pernah melibatkan dan dilibatkan dalam bentuk apapun yang berbau politik, militer yang benar-benar bertugas untuk perang saja, dan dalam pertempuran sering kali para KNIL menghunus kelewang KNIL mereka untuk bertempur dalam jarak dekat sambil berteriak dengan lantangnya “KNIL nooit retraite!” (KNIL pantang mundur). Dan sangat pantaslah dengan badge atau lambang KNIL; seekor singa jantan yang berdiri mengaum sambil mengangkat pedang dan memegang perisai khas cakalele dengan warna keseluruhan orange bright (KNIL-Koninglijke Nederland Oost Indische Leger-Legiun Kerajaan Hindia Timur Belanda).

Tidak ada salahnya juga terima kasih dan penghormatan disematkan kepada orang-orang tua bekas-bekas KNIL yang telah mendedikasikan sisa hidupnya dan mati dalam pertempuran untuk membela panji-panji PERMESTA pada perang PERMESTA 1958-1961. KNIL-“ Singa-singa dari Hindia Timur.”

SEJARAH KESULTANAN ASAHAN DARI ABAD XVI

Asahan adalah sebuah daerah (kabupaten) dalam wilayah (Provinsi) Sumatera Utara. Pusat pentadbiran Kabupaten Asahan adalah Tanjung Balai yang berjarak ± 130 KM dari Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara.

Sampai tahun 1946, Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka pada masa itu. Namun pada tahun 1946, sistem kerajaan di Asahan telah digulingkan oleh sebuah pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera Timur seperti Deli, Langkat, Serdang, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasip serupa.

Sejarah Awal

Mengikut tradisi setempat, Kesultanan Asahan bermula kira-kira pada abad XVI, yaitu ada saat Sultan Abdul Jalil ditabalkan sebagai Sultan Asahan yang pertama dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Ayahnya ialah Sultan Alaiddin Mahkota Alam Johan Berdaulat (Sultan Alaiddin Riayat Syah “Al Qahhar”), Sultan Aceh ke XIII yang memerintah sejak tahun 1537 – 1568, sementara ibunya adalah Siti Ungu Selendang Bulan, anak dari Raja Pinang Awan yang bergelar “Marhum Mangkat di Jambu”. (Pinang Awan terletak di Kabupaten Labuhan Batu). Sebelumnya, Aceh telah menaklukkan negeri-neeri kecil di pesisir Sumatera Utara dan di dalam salah satu pertempuran inilah Raja Pinang Awan terbunuh dan anaknya Siti Ungu dibawa ke Aceh dan menikah dengan Sultan Alaiddin.

Sultan-sultan Asahan berikutnya adalah Sultan Saidisyah, Sultan Muhammad Rumsyah, Sultan Abdul Jalil Syah II (mangkat 1765), Sultan Dewa Syah (1756 – 1805) dan Sultan Musa Syah (1805 – 1808) masing-masing memindahkan pusat pemerintahan negeri Asahan dari satu tempat ke tempat lain.

Setelah kemangkatan Sultan Asahan VII, Sultan Muhammad Ali Syah (1808 – 1813), terjadi perebutan kuasa di antara anaknya, Raja Hussein dengan pihak anak saudaranya, Raja Muhammad Ishak. Sebagai penyelesaian , Raja Muhammad Ishak diangkat menjadi Yang Dipertuan Negeri Kualuh yang sebelum ini adalah sebagian dari wilayah Asahan. Raja Hussein sendiri diangkat menjadi Sultan Asahan dengan gelar Sultan Muhammad Hussein Syah.

Perluasan Kekuasan Belanda

Di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Hussein Syah (1813 – 1854) dan anaknya, Sultan Ahmad Syah, Asahan merupakan kerajaan yang disegani di daerah antara Serdang dan Siak dan mempunyai pengaruh besar di Batu Bara, Bilah dan Panai. Di masa inilah terjadi pertembungan antara Belanda, Inggris dan Aceh di Asahan karena Belanda dan Inggris masing-masing bersaing untuk meluaskan kekuasaan penjajahan dan perdagangan mereka di pesisir timur Sumtera sementara Aceh pun berkeras mempertahankan kedaulatannya di Asahan.

Tuntutan Belanda terhadap negeri-negeri di Pesisir Timur termasuk Asahan adalah berdasarkan Perjanjian Siak yang ditandatangani oleh Belanda dengan Kesultanan Siak pada 1 Februari 1858. Berdasarkan perjanjian itu, Siak diserahkan kepada Belanda termasuk daerah taklukannya seperti Asahan, Batu Bara, Serdang, Deli, Langkat dan Tamiang. Berdasar sejarah, hak Siak atas kerajaan-kerajaan ini adalah berdasarkan penyerangannya pada tahun 1791. Tetapi kenyataannya adalah kekuasaan Siak hanya sebatas nama saja dan tidak diakui oleh banyak pihak. Di masa yang sama, negeri-negeri ini mempunyai hubungan perdagangan yang erat dengan Pelabuhan Inggris di Pulau Pinang di mana nilai ekspor lada, rotan dan barang lain dari Sumatera bernilai 150.000 Poundsterling pertahun.

Pada saat Elisa Netscher dilantik sebagai Residen Belanda di Riau pada tahun 1861, Beliau menghantar seorang pembesar Minangkabau, Raja Burhanuddin, ke negeri-negeri ini untuk menilai keadaan. Beliau melaporkan kepada Netscher bahwa tidak ada kerajaan yang mau mengakui kedaulatan Siak. Deli, Serdang dan Langkat masih di bawah pengaruh Aceh tetapi bersedia menerima perlindungan Belanda. Hanya Asahan dan negeri di bawah pengaruhnya: Batu Bara, Panai dan Bilah, yang tidak mau berhubungan dengan Siak dan Belanda.

Pada Agustus 1862, Netscher dan Pembantu Residen Belanda di Siak, Arnold, diiringi oleh pembesar-pembesar Siak mengunjungi negeri-negeri yang terlibat. Walaupun mengalami beberapa kesulitan, Netscher berhasil menundukkan Panai, Bilah, Kota Pinang, Serdang, Deli dan Langkat di bawah kekuasaan Belanda. Hanya Asahan saja yang tidak bersedia tunduk, bahkan di pantai Asahan dikibarkan bendera Inggris.

Tindakan Belanda ini mendapat tantangan yang keras dari pedagang-pedagang Inggris di Pulau Pinang karena ia menggugat hubungan perdagangan di antara Pulau Pinang dengan negeri-negeri tersebut. Sebelumnya Sultan Asahan dan Raja Muda Asahan telah memberitahu Gubernur negeri-negeri Selat, yaitu Kolonel Cavenagh, perihal niat Belanda. Major Man, Resident Councillor di Pulau Pinang, kemudian dikirim ke Deli, Serdang dan Langkat untuk mengawasi keadaan

Sultan Ibrahim, Aceh, turut menentang tindakan Belanda ini. Dari kacamata Aceh, seluruh pesisir timur Sumatera sampai ke Panai dan Bilah adalah daerah takluknya. Justru itu, angkatan perang Aceh dikirim ke Tamiang, Langkat, Deli, Serdang, Batu Bara dan Asahan. Di Asahan dan Serdang angkatan perang Aceh disambut dengan baik. Sebagai balasan, pada tahun 1865, Belanda mengiri angkatan perangnya untuk menyerang Asahan, Serdang, Tamiang dan Batu Bara. Saat pasukan Belanda tiba di Asahan, Sultan Ahmadsyah dan adik-adiknya, Tengku Muhammad Adil dan Tengku Pengeran Besar Muda, mundur ke daerah pedalaman.

Netscher kemudian mengangkat Tengku Naamal Allah, Yang Dipertuan Negeri Kualuh, menjadi pemangku Sultan Asahan dan melantik seorang Contoleur Belanda sebagai penasehat. Sultan Ahmadsyah kemudian menyerah namun kaum Batak di pedalaman meneruskan perjuangan menentang Belanda. Pada tahun itu juga, Sultan Ahmadsyah diasingkan Belanda ke Riau bersama adiknya, Tengku Muhammad Adil. Tengku Pengeran Besar Muda di asingkan ke Ambon. Pada tahun 1868, Tengku Naamal Allah dilantik menjadi Pemangku Sultan karena kaum Batak tidak mau menokong pemerintahannya dan menuntut kepulangan Sultan Ahmad Syah.

Pak Netak, Raja Bandar Pulau di Hulu Asahan, mati semasa menentang Belanda pada tahun  1870. Perjuangan secara gerilya diteruskan, terutama pada tahun 1879 dan 1883. Dari tahun 1868 sampai dengan 1886 Asahan diletakkan Netscher di bawah pentadbiran empat orang pembesar Melayu. Akhirnya, pada tahun 1885, Belanda mengizinkan Sultan Ahmadsyah pulang ke Asahan dengan syarat Beliau tidak boleh campur tangan mengenai politik. Beliau menandatangani perjanjian politik dengan Belanda (Akte Van Verband) pada 25 Maret 1886 di Bengkalis dan kembali memerintah Asahan pada 25 Maret 1886 sampai kemangkatannya pada 27 Juni 1888.

Di pihak Inggris, tantangan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di Pesisir Timur semakin lama semakin berkurang karena munculnya kekuatan-kekuatan besar yang baru seperti Perancis, Amerika Serikat, Jerman an Itali yang masing-masing tertarik pula dengan Asia Tenggara. Inggris memandang lebih baik bekerjasama dengan Belanda. Lagipula Belanda tengah melonggarkan dasar perdagangannya di Sumatera dan ini mendatangkan keuntungan kepada pedagang-pedagang Inggris di Pulau Pinang dan Singapura. Pada 2 Nopember 1871, Inggris menandatangani Perjanjian Sumatera dengan Belanda di mana antara lain Inggris membatalkan semua perlawanan terhadap Belanda di mana-mana daerah di Sumatera dan rakyat Inggris mempunyai hak berdagang yang sama dengan rakyat Belanda di Sumatera.

Dari Pemerintahan Sultan Muhammad Hussein Rahmat Syah II Hingga Pendudukan Jepang 1942 – 1945

Pada 6 Oktober 1888, Tengku Ngah Tanjung ditabalkan menjadi Sultan Asahan X dengan gelar Sultan Muhammad Hussein Rahmat Syah II. Pelantikan ini dibuat berdasarkan wasiat saudara ayahnya, Sultan Ahmad Syah yang mangkat tanpa meninggalkan keturunan. Residen Belanda, G. Scherer juga memberi persetujuan terhadap pelantikan ini. Di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Hussein II, langkah-langkah diambil untuk memajukan Asahan seperti menggalakkan Syarikat Eropa membuka perusahaan di Asahan untuk memberi peluang pekerjaan bagi penduduknya. Pada tahun 1908, Beliau bersama dengan adik-adiknya, Tengku Alang Yahya dan Tengku Musa, berkunjung ke Belanda untuk menerima gelar “Ridder der Orde van den Nederlanschen Leeuw” dari Ratu Wilhelmina.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Muhammad Hussein II melantik Tengku Alang Yahya sebagai Bendahara dan mengangkat anak sulungnya, Tengku Amir, sebagai Tengku Besar Asahan atau calon Sultan. Tetapi Tengku Amir mangkat tahun 1913 dan diangkatlah Tengku Saibun sebagai gantinya pada 7 Juli 1915.

Sultan Muhammad Hussein II mangkat pada usia 53 tahun, oleh karena Tengku Saibun masih kanak-kanak, Tengku Alang Yahya (Bendahara) dilantik menjadi pemangku sultan dengan gelar Tengku Regent Negeri Asahan. Semasa ia menjadi Tengku Regent ini, Beliau menerima dua anugerah, yaitu “Officier der Orde van Oranje Nassau” dan “Ridder der Orde van den Nederlanschen Leeuw”.

Pada 15 Juni 1933, Tengku Saibun ditabalkan menjadi Sultan Asahan XI dengan gelar Sultan Saibun Abdul Jalil Rahmat Syah di Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai. Isteri Beliau, Tengku Nurul Asikin binti Tengku Al Haji Rahmad Bedagai, ditabalkan sebagai Tengku Suri (Tengku Permaisuri) Negeri Asahan, pada 17 Juni 1933.

Pendudukan Jepang di Indonesia sejak Maret 1942 hingga 1945 mengakibatkan keadaan yang semakin carut-marut. Tiga hari setelah jatuhnya bom di Hiroshima, Soekarno meproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Di saat yang sama pula, diumumkanlah pemerintah Republik Indonesia dengan Soekarno sebagai Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakilnya. Dengan demikian, dimulailah revolusi republik di seluruh wilayah Indonesia.

Pemimpin-pemimpin pergerakan di Indonesia, mendaulat Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin tertinggi mereka, tetapi pada umumnya perkembangan revolusi di kebanyakan daerah di Sumatera Utara terlepas dari pergerakan di Jawa. Revolusi di Sumatera bermula pada Oktober 1945 pada saat tentara sekutu tiba di Sumatera untuk melucuti tentara Jepang.

Aktivis-aktivis pergerakan pada mulanya berperang dengan tentara Jepang yang sedang mundur untuk merebut senjata dan dengan tentara Inggris yang menduduki sebagian Kota Medan, Padang dan Palembang dan akhirnya dengan Belanda yang mengambil alih dari Tentara Inggris pada akhir tahun 1945

Revolusi Sosial 1946 dan berakhirnya Kesultanan Asahan

Di dalam kemelut ini, keganasan dialihkan pula kepada golongan tradisional (Tengku dan Raja) yang selama ini dianggap oleh golongan petani sebagai pro Belanda dan pro kolonial. Kebencian rakyat semakin meluap karena kebanyakan raja-raja itu tidak memberikan sokongan kepada pergerakan pro Republik (kecuali Sultan Siak), ditambah lagi tersebar pula kabar bahwa raja-raja itu telah menghubungi Belanda dengan harapan dapat memulihkan kembali kedudukan mereka.

Pergerakan anti kaum bangsawan kian merebak dan pemimpin republik tidak berkuasa menahannya. Dalam pada itu, beberapa pemimpin politik yang opportunis, dua diantaranya adalah Karim Marah Sutan dan Luat Siregar dari Partai Komunis Indonesia, menggunakan pergerakan anti kaum bangsawan ini sebagai landasan untuk memperkuat landasan kekuatan politik mereka. Untuk mencapai tujuan ini, mereka membangkitkan sentimen rakyat sampai akhirnya tercetuslah Revolusi Sosial di mana Raja-raja dan keluarganya dibunuh beramai-ramai dengan kejam dan hartanya dirampas. Selain dari para bangsawan, para perusuh juga membunuh kalangan profesional yang berpendidikan barat, terutama mereka yang hidup mengkuti gaya hidup barat. Oleh karena itu, beberapa orang pro nasionalis dan keluarganya juga turut dibunuh.

Keluarga Kesultanan Deli dan Serdang terselamatkan berkat penjagaan tentara Sekutu yang sedang bertugas di Medan untuk menerima penyerahan dari Jepang. Sementara di Serdang, beberapa orang keluarga raja sedari awal telah mendukung rakyat menentang Belanda. Namun di Langkat, Istana Sultan dan rumah-rumah kerabat diserang dan rajanya dibunuh bersama keluarganya termasuklah penyair besar Indonesia, Tengku Amir Hamzah yang dipancung di Kuala Begumit.

Keganasan yang paling dahsyat terjadi pada bulan Maret 1946 di Asahan dan di kerajaan-kerajaan Melayu di Labuhan Batu seperti Kualuh, Panai dan Kota Pinang. Di Labuhan Batu, daerah yang paling jauh dengan Kota Medan sehingga tidak dapat dilindungi oleh pasukan sekutu. Istana raja dikepung dan raja-rajanya pun dibunuh seperti Yang Dipertuan Tengku Al Haji Muhammad Syah (Kualuh), Sultan Bidar Alam Syah IV (Bilah), Sultan Mahmud Aman Gagar Alam Syah (Panai) da Tengku Mustafa gelar Yang Dipertuan Besar Makmur Perkasa Alam Syah (Kota Pinang).

Di Asahan, sebagian besar keluarga Raja dibunuh, namun Sultan Saibun selamat dan menyerahkan diri kepada Pemerintah Republik Indonesia di Pematang Siantar. Beliau mangkat di Medan pada 6 April 1980.

RINGKASAN SEJARAH KESULTANAN ASAHAN

Asahan adalah sebuah daerah (kabupaten) dalam wilayah (Provinsi) Sumatera Utara. Pusat pentadbiran Kabupaten Asahan adalah Tanjung Balai yang berjarak ± 130 KM dari Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara.

Sampai tahun 1946, Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka pada masa itu. Namun pada tahun 1946, sistem kerajaan di Asahan telah digulingkan oleh sebuah pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera Timur seperti Deli, Langkat, Serdang, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasib serupa.

Sejarah Awal

Mengikut tradisi setempat, Kesultanan Asahan bermula kira-kira pada abad XVI, yaitu ada saat Sultan Abdul Jalil ditabalkan sebagai Sultan Asahan yang pertama dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Ayahnya ialah Sultan Aladdin Mahkota Alam Johan Berdaulat (Sultan Alaiddin Riayat Syah “Al Qahhar”), Sultan Aceh ke XIII yang memerintah sejak tahun 1537 – 1568, sementara ibunya adalah Siti Ungu Selendang Bulan, anak dari Raja Pinang Awan yang bergelar “Marhum Mangkat di Jambu”. (Pinang Awan terletak di Kabupaten Labuhan Batu). Sebelumnya, Aceh telah menaklukkan negeri-negeri kecil di pesisir Sumatera Utara dan di dalam salah satu pertempuran inilah Raja Pinang Awan terbunuh dan anaknya Siti Ungu dibawa ke Aceh dan menikah dengan Sultan Alaiddin.

Sampai dengan saat ini Kerajaan Asahan telah memiliki 12 orang Sultan yang dihitung menurut Silsilah dan keturunan Raja – raja Asahan, antara lain :

1. Sultan Abdul Jalil

2. Sultan Saidisyah

3. Sultan Muhammad Rumsyah

4. Sultan Abdul Jalil Syah II (mangkat 1765)

5. Sultan Dewa Syah (1756 – 1805)

6. Sultan Musa Syah (1805 – 1808) 7. Sultan Muhammad Ali Syah (1808 – 1813)

8. Sultan Muhammad Hussein Syah.

9. Sultan Ahmad Syah

10. Sultan Muhammad Husein Syah II

11. Sultan Saibun Abdul Jalil Rahmatsyah

12. Sultan Kamal Abraham Abdul Jalil Rahmatsyah

KOMUNITAS TAMIL DALAM KEMAJEMUKAN MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

KOMUNITAS TAMIL DALAM KEMAJEMUKAN MASYARAKAT

DI SUMATERA UTARA[1]

Zulkifli B. Lubis[2]

Pengantar

Komunitas India Tamil telah hadir dan menjadi bagian yang signifikan dalam perkembangan kebudayaan di Nusantara sejak beberapa abad yang lalu, terutama di sebagian masyarakat yang ada di Pulau Sumatera. Interaksi mereka yang sudah panjang dalam bilangan sejarah dengan komunitas lokal di Nusantara, sudah barang tentu, menjadikan pembahasan tentang komunitas ini bisa dibuat dari beragam aspek, lokus, perspektif dan kurun waktu. Pengenalan saya tentang komunitas Tamil dan kebudayaan mereka, harus saya akui, masih sangat dangkal sehingga bahan yang disampaikan di sini boleh jadi baru mengulas selembar kulit ari dari lapis-lapis kebudayaan mereka yang sangat kompleks. Saya baru mulai menaruh perhatian dan mencoba mengumpulkan bahan-bahan informasi tentang komunitas Tamil dan kebudayaannya ketika saya menulis sebuah makalah tentang adaptasi dan jaringan sosial komunitas Tamil dan Punjabi di Medan, yang saya sampaikan dalam sebuah konferensi di Pulau Penang pada 2003 lalu[3]. Paparan yang saya sampaikan dalam forum ini, karenanya, sebagian besar masih mengacu kepada tulisan tersebut.

Penduduk imigran dalam kemajemukan masyarakat di Sumatera Utara

Kita seringkali terjebak oleh terminologi penduduk asli dan pendatang sehingga seakan-akan kita bisa dengan mudah mengkategorisasikan orang atau suatu kelompok tertentu sebagai bagian dari kita atau bukan. Dari perspektif sejarah peradaban manusia dan perpindahannya dari suatu tempat ke tempat lain dalam berbagai kurun waktu, yang lebih tepat barangkali adalah kategori pendatang awal dan pendatang kemudian. Memanng, sejarah peradaban manusia selalu dipenuhi oleh peristiwa perpindahan massif dari satu tempat ke tempat lain, baik yang berlangsung secara alamiah maupun karena terpaksa. Dengan perpindahan manusia yang massif tersebut terjadilah proses difusi kebudayaan, akulturasi dan assimilasi. Kisah-kisah kehadiran satu kaum di tengah-tengah kaum yang lain sebagai akibat dari gerak migrasi penduduk sudah lama menjadi perhatian dan bahan kajian kalangan ilmuwan sosial. Berkembangnya kota-kota besar dunia yang juga disesaki oleh migran dari pedesaan maupun dari luar negeri bahkan telah lama menjadi arena para ilmuwan, khususnya antropolog, untuk mempelajari proses-proses adaptasi kaum migran terhadap kehidupan di perkotaan, gejala etnisitas dan kelas-kelas sosial di kota, urbanisme, dan juga masalah-masalah kaum miskin di perkotaan (lihat George Gmelch & Walter P. Zerner, 1980).

Potret kemajemukan budaya karena adanya perpindahan penduduk secara massif tersebut dapat kita temukan salah satunya di kota Medan. Kota Medan, ibukota Propinsi Sumatera Utara, adalah sebuah kota yang tumbuh pesat sejak pertengahan abad ke-19 sebagai sebuah kota berpenduduk majemuk baik dari kalangan penduduk pribumi maupun imigran dari kawasan Asia seperti Cina, India, Arab dan imigran dari kawasan Asia Tenggara[4]. Gerak perpindahan kaum migran ke kota Medan tidak lepas dari tarikan magnit pertumbuhan kota ini sebagai sentra kemajuan ekonomi sehingga dijadikan sebagai tempat tujuan baru yang menjanjikan harapan untuk perbaikan hidup. Sudah luas diketahui bahwa kota Medan dan Tanah Deli (Sumatera Timur) pada umumnya yang pernah dijuluki sebagai “Het Dollar Land” berkembang sangat cepat sejak pertengahan abad ke-19 seiring dengan perkembangan industri perkebunan (mulanya perkebunan tembakau) yang dirintis oleh Jacobus Nienhys sejak 1863. Buruh-buruh dari Cina, India dan Pulau Jawa ketika itu didatangkan dalam jumlah besar oleh pengusaha-pengusaha perkebunan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Selain mereka yang didatangkan sebagai kuli, migran lain pun terus berdatangan ke kota ini untuk tujuan berdagang dan mengisi berbagai lowongan pekerjaan yang tersedia.

Fenomena kota Medan sebagai sebuah kota berpenduduk majemuk yang dihuni oleh migran lokal dan regional pernah menjadi bahan kajian antropolog Edward Bruner, yang antara lain memfokuskan kajiannya pada proses-proses adaptasi migran Batak Toba (lihat Bruner, 1961)[5]. Demikian juga antropolog Usman Pelly (1994) pernah melakukan kajian tentang proses urbanisasi dan adaptasi migran Minangkabau dan Mandailing di kota Medan, yang menurut beliau sangat ditentukan oleh misi budaya yang dimiliki oleh masing-masing kelompok etnik. Sementara itu, kajian-kajian tentang migran asing seperti orang Cina, India dan Arab yang juga telah sejak lama hidup di kota Medan sejauh ini belum banyak mendapat perhatian dari para ilmuwan. Khusus tentang orang India, memang sudah ada tulisan dari A. Mani (1980) yang berusaha memotret gambaran kaum migran India di Sumatera Utara, sebagai bagian dari tulisan yang dimuat dalam Indian Communities in Southeast Asia (K.S.Shandu & A. Mani, 1980).

Ketertarikan saya pada masalah migran asal India ini bermula dari pengamatan tentang fenomena adaptasi dengan penduduk pribumi yang relatif kontras antara migran India maupun Arab dengan migran asal Cina. Dalam pandangan kalangan awam, warga keturunan Cina di Medan cenderung eksklusif dan relatif kurang bergaul dengan penduduk pribumi, sementara orang Arab misalnya hampir melebur menjadi bagian yang nyaris sama dengan komunitas tempatan. Sementara itu, terhadap warga keturunan India pandangan dan streotip negatif tidak sekuat terhadap orang Cina, dan dalam pandangan kaum awam mereka lebih mampu beradaptasi dengan penduduk pribumi. Menarik juga untuk dicatat bahwa, orang-orang  Cina yang pada awalnya datang ke Medan sebagai kuli perkebunan kemudian telah berkembang menjadi satu kelompok yang menguasai ekonomi, sementara migran keturunan India yang juga datang dalam kurun waktu yang sama dan untuk sebagian dengan status yang sama, tampaknya tidak memperlihatkan kemajuan penguasaan ekonomi semaju orang Cina. Tulisan ini tidak bermaksud memberikan jawaban terhadap perbedaan perkembangan yang dialami oleh migran keturunan Cina dan India di kota Medan, tetapi lebih fokus pada upaya pemotretan secara garis besar keberadaan komunitas India, khususnya orang Tamil di kota Medan.

Kedatangan Orang India di Sumatera Utara

Bahwa pengaruh kebudayaan India sangat kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia sudah menjadi pengetahuan awam, dan proses penyerapan unsur-unsur budaya India oleh berbagai komunitas yang ada di negeri ini juga masih berlangsung hingga hari ini. Temuan-temuan arekologis di Sumatera maupun di Jawa mulai dari abad ke-7 M hingga abad ke-14 memperlihatkan kesinambungan kehadiran peradaban India di Kepulauan Nusantara (lihat Y.Subbarayalu, 2002a) Untuk konteks Sumatera Utara misalnya, kehadiran orang-orang India sudah terekam dalam sebuah prasasti bertarikh 1010 Saka atau 1088 M tentang perkumpulan pedagang Tamil di Barus yang ditemukan pada 1873 di situs Lobu Tua (Barus), sebuah kota purba di pinggir pantai Samudera Hindia.  Prof. K.A. Nilakanta Sastri (1932) seperti dikutip dari tulisan Y. Subbarayalu (2002) menulis tentang prasasti itu sebagai berikut :

“ Fragmen prasasti dari Loboe Toewa berharga untuk dijadikan sebagai bukti yang jelas bahwa aktivitas perdagangan mereka (yaitu perkumpulan pedagang Tamil) telah menyebar ke Sumatera. Mungkin tidak tepat menyimpulkan berdasarkan prasasti itu bahwa bahasa Tamil telah digunakan dalam dokumen-dokumen umum di Pulau Sumatera pada abad ke-11 Masehi; namun jelas bahwa sekumpulan orang Tamil telah tinggal di Sumatera secara permanen atau semi permanen, dan termasuk di antaranya tukang-tukang yang mahir mengukir prasasti di atas batu..”

Keberadaan kaum pedagang Tamil pada abad ke-11 di pantai barat Sumatera, kemudian dikaitkan oleh sejumlah penulis dengan migrasi yang mereka lakukan ke arah pedalaman Sumatera karena terdesak oleh kekuatan armada pedagang-pedagang dari Arab/Mesir (Brahma Putro, 1979). Brahma Putro, seorang warga suku Karo yang menulis buku “Karo dari Jaman ke Jaman” (1979) menyebutkan bahwa orang-orang Tamil yang terdesak dari Barus kemudian terasimilasi dengan suku Karo yang tinggal di Dataran Tinggi Tanah Karo (pedalaman Sumatera), dan mereka inilah di kemudian hari yang menjadi keturunan marga (klen) Sembiring (Maha, Meliala, Brahmana, Depari), Sinulingga, Pandia, Colia, Capah, dsb. Secara fisik warga Karo dari kelompok klen tersebut memiliki persamaan dengan orang-orang Tamil.

Kehadiran orang Tamil juga bisa diidentifikasi di beberapa tempat lain di Sumatera, antara lain di Suruaso Sumatera Barat berdasarkan temuan batu bertulis (banda bapahek) dalam dua bahasa, salah satunya dalam bahasa India Selatan. Di bagian lain Sumatera, seperti kata Hasan Muarif Ambari (2008), kehadiran etnis Tamil di Nanggroe Aceh Darussalam sudah menyatu dengan masyarakat Aceh. Hanya fisiknya saja yang menunjukkan mereka berasal dari etnis Tamil, selebihnya mereka sudah menyatu sebagai warga Aceh tulen, berbahasa dan beradat-istiadat Aceh. Pada umumnya ‘sisa’ masyarakat Tamil, kata Ambari, tinggal di daerah Pidie dan Aceh Utara. Di daerah Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan, kehadiran mereka diduga kuat terjadi pada abad ke-13 atau 14 yang bisa diidentifikasikan dari keberadaan peninggalan candi di daerah Portibi, Saba Biara, bahkan yang tertua (diduga abad ke-9 masehi) di Simangambat. Peninggalan dalam bahasa juga masih bisa dikenali dengan mudah, seperti dalam istilah ‘naraco holing’, ‘banua holing’, ‘tumbaga holing’, ‘pijor koling’, dan lain sebagainya.

Tetapi kedatangan orang-orang India dalam jumlah besar dan hingga sekarang menetap dan membentuk suatu komunitas di berbagai bagian wilayah Sumatera timur dan khususnya Medan baru terjadi sejak pertengahan abad ke-19, yaitu sejak dibukanya industri perkebunan di Tanah Deli. Menurut catatan T. Lukman Sinar (2001) di dalam tahun 1874 sudah dibuka 22 perkebunan dengan memakai kuli bangsa Cina 4.476 orang, kuli Tamil 459 orang dan orang Jawa 316 orang. Perkembangan jumlah kuli semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya, yang terbanyak adalah kuli Cina (53.806 orang pada 1890 dan 58.516 orang pada 1900) dan kuli Jawa (14.847 orang pada 1890 dan 25.224 orang pada 1900); sementara kuli Tamil bertambah menjadi 2.460 orang pada 1890 dan 3.270 orang pada 1900.

Selain mereka yang didatangkan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan sebagai kuli, migran orang Cina, India dan juga Arab mulai berdatangan ke Sumatera timur untuk berdagang dan menjadi pekerja di bidang-bidang lain. Migran dari India yang datang untuk berdagang antara lain adalah orang-orang dari India Selatan (Tamil Muslim) dan juga orang Bombay serta Punjabi. A. Mani (1980:58) menyebutkan bahwa di luar pekerja kontrak di perkebunan, orang-orang India yang lain juga banyak datang ke Medan untuk berpartisipasi memajukan berbagai sektor usaha yang sedang tumbuh di kota ini; seperti kaum Chettiars atau Chettis (yang berprofesi sebagai pembunga uang, pedagang dan pengusaha kecil); kaum Vellalars dan Mudaliars (kasta petani yang juga terlibat dalam usaha dagang); kaum Sikh dan orang-orang Uttar Pradesh. Selain itu juga terdapat orang-orang Sindi, Telegu, Bamen, Gujarati, Maratti (Maharasthra), dll. Tetapi orang-orang Indonesia pada umumnya tak mengenali perbedaan mereka dan secara sederhana menyebutnya sebagai orang Keling dan orang Benggali saja.

Di masa kolonial, buruh-buruh Tamil yang bekerja di perkebunan biasanya dipekerjakan sebagai tukang angkat air, membetulkan parit dan jalan (Lukman Sinar, 2001; Mahyuddin et.al; tt); sementara orang-orang Punjabi yang beragama Sikh biasanya bekerja sebagai penjaga keamanan, pengawal di istana dan kantor-kantor, penjaga toko, dan lain-lain. Orang Sikh yang bekerja di perkebunan juga bertugas sebagai penjaga malam dan pengantar surat; juga memelihara ternak sapi untuk memproduksi susu (Mani, 1980:58).

Pada masa sekarang tidak diperoleh angka yang pasti mengenai jumlah warga keturunan India di kota Medan, karena sensus penduduk setelah tahun 1930 tidak lagi menggunakan kategori etnik. Menurut A. Mani (1980) pada tahun 1930 terdapat sekitar 5000 orang Sikh di Sumatera Utara. Sementara itu A. Mani (1980) memperkirakan bahwa jumlah orang Tamil di Sumatera Utara adalah sekitar 18.000 jiwa; namun ada juga yang menyebut sekitar 30.000 jiwa pada tahun 1986 (Napitupulu,1992).

Karakteristik Sosial Budaya Komunitas Tamil

Pemukiman

Pada masa kolonial orang-orang Tamil bermukim di sekitar lokasi-lokasi perkebunan yang ada di sekitar kota Medan dan Sumatera Timur. Setelah masa kemerdekaan, mereka pada umumnya berdiam di sekitar kota, yang terbanyak di kota Medan, juga di Binjai, Lubuk Pakam dan Tebing Tinggi.  Pemukiman mereka yang tertua di kota Medan terdapat di suatu tempat yang dulu dikenal dengan nama Kampung Madras, yaitu di kawasan bisnis Jl. Zainul Arifin (dulu bernama Jalan Calcutta). Kawasan ini lazim juga dikenal dengan sebutan Kampung Keling, dan sekarang sudah dikembalikan namanya menjadi Kampung Madras. Lokasi perkampungan mereka terletak di pinggiran Sungai Babura, sebuah sungai yang membelah kota Medan dan menjadi jalur utama transportasi di masa lampau. Di kawasan ini hingga sekarang masih mudah ditemukan situs-situs yang menandakan keberadaan orang Tamil, misalnya tempat ibadah umat Hindu Shri Mariamman Kuil (sebagai kuil terbesar) yang dibangun tahun 1884 dan sejumlah kuil lainnya; juga pemukiman dan mesjid yang dibangun oleh orang Tamil Muslim sejak tahun 1887.

Pada masa sekarang ini pemukiman orang Tamil sudah menyebar di sejumlah tempat di seluruh Medan dan sekitarnya, seperti diuraikan dalam tabel berikut.

Tabel Konsentrasi Pemukiman Orang Tamil di Medan dan Sekitranya

No

NAMA LOKASI

MAYORITAS AGAMA

RUMAH IBADAH

1 Jl. Teratai, Jl.Dr. Cipto Hindu, Buddha Kuil Shri Mariamman
2 Kesawan Hindu, Islam Dulu ada kuil, tapi sudah dipindahkan ke Kuil kaliaman sekarang (jl Taruma/Kediri)
3 “Pondok Seng” (Jl. T. Cik di Tiro) Sudah digusur kira-kira 10 thn lalu, dulunya Kristen, Buddha, Hindu Kuil Muniandi

Di Jl. Muara Takus

“dianggap dewa yang berlaku jahat”

4 Kebun Bunga Hindu, Islam Kuil Subramaniam (digunakan oleh kaum Chetty yg tinggal di Jl, Mesjid); juga ada mesjid org Tamil
5 Kampung Keling/Desa Madras Hulu Hindu Kuil Shri Mariamman; kuil Sikh,
6 Kampung Kubur Hindu, Islam, Buddha, Kristen Mesjid org Tamil

(South Indian Moslem Muslim)

7 Jl. Taruma/Kediri Hindu Kuil Kaliamman
8 Komplek Jl. Kang-kung /

Jl. Darat/ Jl. Abdullah Lubis

Orang Telenggu, agama Hindu, Buddha, Islam, Katolik Kuil Mariamman
9 Kampung Anggrung/Jl. Polonia/Gang A,B,C,D, E/ Jl. Mongonsidi/Jl. Karya Kasih Buddha Ada vihara, ada kuil, ada gereja Tamil Indonesia
10 Pantai Burung, Kampung Aur, Sukaraja, Kebun Sayur/dekat Kowilhan; Jl. Mangkubumi Hindu, Buddha, kristen, Islam Ada kuil Shri Mariamman
11 Jl. Pasundan, Jl. PWS, Sikambing, Jl. Sekip, Jl. Karya Sei Agul,  Jl. Sei Sikambing Hindu, Buddha Ada kuil Guru Bakti, ada kuil Shri Mariamman
12 Kampung Durian/Medan timur Hindu Ada kuil Shri Mariamman
13 Jl. S. Parman/ G.Pasir, G. Sauh/ Jl. Hayam Wuruk, Pabrik Es (Jl. S.Parman/dkt St. Thomas) Buddha, Hindu, Kristen Kuil Shri Mariamman, ada vihara Buddha, ada mesjid, ada gereja (?)
14 Jl. Malaka, Jl. Gaharu, Jl. Serdang Hindu
15 Glugur, Jl. Bilal, Pulo Brayan/Lr 7, 21,22, 23, Sampali, Mabar Hindu, Buddha Kuil Shri Mariamman
16 Pasar III Pd Bulan, Jl. Sei Serayu Karang Sari Polonia, Tanjung Sari,  Medan Sunggal Hindu, Buddha, Islam Ada kuil shri Mariamman
17 Desa Helvetia Hindu, Buddha, Kristen Katolik Kuil Shri Mariamman
18 Kampung Lalang, Diski Katolik, Hindu, Buddha, Islam Kuil Shri Mariamman
19 Kuala Bekala, Tuntungan/Pondok Keling (daerah kebun) Hindu Kuil Shri Mariamman
20 Binjai/Timbang Langkat Hindu, Buddha, Islam Kuil Shri Mariamman
21 Langkat/Padang Cermin (daerah kebun), Tj Beringin, Selesai (daerah kebun), Tanjung Jati (daerah kebun),  Tanjung Pura Hindu, Islam Kuil Shri Mariamman
22 Lubuk Pakam, Batang Kuis Hindu, Buddha, Islam Kuil Subramaniam
23 Tebing Tinggi/Kampung Keling Hindu, Buddha, Islam Kuil shri Mariamman
24 Pertumbukan/Deli Serdang Hindu, Islam
25 Kisaran/ Asahan Hindu

Sebuah laporan menyebutkan bahwa penduduk Tamil yang berjumlah kira-kira 30.000 jiwa di Medan dan sekitarnya, terbagi atas 66 % yang menganut agama Hindu, 28 % agama Buddha, 4,5 % beragama Katolik dan Kristen; dan 1,5 % yang beragama Islam (Napitupulu, 1992). Dalam sebuah wawancara dengan Pastor James Bharataputra (Juli 2003), pimpinan Graha Anne Maria Velankanni di Medan, disebutkan bahwa jumlah umat Tamil Katolik di kota Medan saat ini kira-kira 800 orang.

Mata Pencaharian Hidup

Di masa lalu pekerjaan orang-orang Tamil banyak diasosiasikan dengan pekerjaan kasar, seperti kuli perkebunan, kuli pembuat jalan, penarik kereta lembu, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang lebih mengandalkan otot. Hal ini terkait dengan latar belakang orang Tamil yang datang ke Medan, yaitu mereka yang berasal dari golongan dengan tingkat pendidikan yang rendah di India. Mereka inilah yang dipekerjakan di zaman kolonial sebagai kuli di perkebunan-perkebunan milik orang Eropa. Di masa sekarang keturunan mereka banyak yang bekerja sebagai karyawan swasta, buruh, dan juga sebagai sopir. Kalau di masa kolonial sebagian dari mereka menjadi penarik kereta lembu dan pembuat jalan, di masa kini keturunan mereka banyak yang sudah mengusahakan jasa transportasi angkutan barang dan juga menjadi pemborong pembangunan jalan. Keahlian mereka dalam kedua bidang pekerjaan ini banyak diakui orang.

Orang-orang Tamil yang datang secara mandiri ke Medan pada umumnya memiliki jenis mata pencaharian hidup sebagai pedagang. Di antaranya menjadi pedagang  tekstil, dan pedagang rempah-rempah di pusat-pusat pasar di Medan. Selain itu mereka juga banyak yang bekerja sebagai supir angkutan barang, bekerja di toko-toko Cina, dan menyewakan alat-alat pesta. Selain itu banyak juga yang melakoni usaha sebagai penjual makanan, misalnya martabak Keling. Pada umumnya, mereka yang berjualan rempah-rempah, tekstil dan menjual makanan adalah orang-orang Tamil yang beragama Islam. Mereka adalah kaum Muslim migran yang datang dari India Selatan hampir bersamaan dengan kedatangan orang-orang India pada umumnya ke Medan pada pertengahan abad ke-19.  Di masa sekarang  juga sudah terdapat sejumlah orang Tamil yang sukses sebagai pengusaha di level daerah maupun nasional, seperti keluarga Marimutu Sinivasan.

Organisasi sosial dan keagamaan

Sejauh ini tidak ada organisasi yang dapat menghimpun warga Tamil dalam satu kesatuan. Mereka pada umumnya lebih terikat oleh kesatuan berdasarkan kesamaan agama, terutama di kalangan penganut Hindu, Buddha dan Katolik. Sementara mereka yang beragama Islam lebih cenderung melebur menjadi komunitas muslim dimana mereka bermukim. Penganut Hindu terhimpun dalam wadah kuil yang di kota Medan secara kultural menyatu dalam Perhimpunan Shri Mariamman Kuil. Shri Mariamman Kuil yang terletak di Kampung Madras dibangun pada tahun 1884, dan berfungsi sebagai “payung” bagi kuil-kuil lain yang terdapat di sejumlah tempat lain di kota Medan. Hampir di setiap pemukiman warga Tamil dibangun sebuah kuil, yang terbanyak menggunakan nama Shri Mariamman Kuil[6]. Kuil Shri Mariamman juga menghimpun pemuda-pemudi yang aktif di kuil dalam sebuah perhimpunan muda-mudi kuil.

Mereka yang beragama Buddha terhimpun dalam wadah vihara dan organisasi yang disebut  Adi-Dravida Sabah; dan untuk kaum remaja ada organisasi bernama Muda-mudi Buddha Tamil. Kaum Buddhis Tamil juga memiliki sejumlah vihara sebagai tempat beribadah, diantaranya adalah Vihara Bodhi Gaya dan Vihara Lokasanti di Kampung Anggrung serta Vihara Ashoka di kawasan Polonia, dan sejumlah vihara di tempat-tempat lain. Kaum Buddhis Tamil secara kelembagaan menyatu dalam wadah Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan pusatnya adalah Vihara Borobudur.

Warga Tamil Katolik juga memiliki sebuah gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1912, yang sebagian besar anggotanya juga tergolong Tamil Adi-Dravida. Tengku Lukman Sinar (2001:76) menyebutkan bahwa sejak tahun 1912 telah ada missionaris Katolik khusus untuk orang-orang India Tamil di Medan. Sebuah gereja lain dibangun pada tahun 1935 oleh pastor Reverend Father James (Sami, 1980:83).   Warga Tamil Kristen dan Katolik bermukim di sebuah lokasi yang disebut Kampung Kristen. Menurut Mani (1980) sebagian besar mereka datang dari Malaya, Pondicherry dan Karaikal. Pastor James Bharataputra yang datang ke Indonesia tahun 1967 dan bertugas di Medan sejak 1972, pernah mendirikan sekolah khusus untuk orang-orang India Tamil yang miskin, bernama Lembaga Sosial dan Pendidikan Karya Dharma. Sekarang sekolah itu diambil alih oleh Yayasan Don Bosco, dan menjadi SD St. Thomas 56. Pastor James membeli sebidang tanah di kawasan Tanjung Selamat pada tahun 1979, yang semula direncanakannya untuk tempat pemukiman baru bagi orang-orang Tamil Katolik yang menumpang di sekitar Jl. Hayam Wuruk. Pada tahun 2001 beliau membangun sebuah Kapel untuk umat Tamil Katolik di atas tanah tersebut, yang diresmikan oleh Uskup Agung Medan (Mgr A.G.P. Datubara, OFM,Cap); dan di sebelah bangunan kapel berukuran kecil itu sekarang berdiri sebuah gedung yang bernama Graha Bunda Maria Annai Velangkanni.

Sementara itu, warga Tamil Muslim sejak 1887 sudah memiliki sebuah lembaga sosial yang bernama South Indian Moslem Foundation and Welfare Committee. Warga Tamil Muslim mendapat hibah dua bidang tanah dari Sultan Deli, untuk tempat membangun mesjid dan pekuburan bagi Tamil Muslim. Ada dua masjid yang dibangun oleh yayasan tersebut, satu terletak di Jalan Kejaksaan Kebun Bunga dan satu lagi di Jl. Zainul Arifin. Lokasi pekuburan terdapat di samping Masjid Ghaudiyah (Jl. Zainul Arifin). Tanah wakaf di lokasi Kebun Bunga cukup luas (sekitar 4000 meter) sedangkan lokasi Masjid Ghaudiyah sekitar 1000 meter persegi. Sebagian dari tanah wakaf yang di masjid Ghaudiyah dimanfaatkan untuk lokasi pembangunan ruko, terdiri dari 13 pintu, yang disewakan kepada orang lain dan uangnya digunakan untuk kemakmuran masjid dan menyantuni kaum Muslim Tamil yang miskin. Sampai sekarang yayasan yang menaungi masjid itu terus diurus oleh keturunan Tamil Muslim dan ketika penelitian lapangan tahun 2003 dilakukan masih dipimpin oleh Abu Bakkar Siddiq (45 thn) seorang pedagang dan dibantu oleh Kamaluddin (seorang pengusaha keramik). Sampai dengan tahun 1970-an, setiap tahun dilakukan perayaan hari besar keagamaan yang menghadirkan orang-orang Tamil Muslim di seluruh kota Medan, Tebing Tinggi hingga Pematang Siantar. Kesempatan itu sekaligus menjadi forum silaturahim bagi warga Tamil Muslim, namun perayaan demikian sudah tidak pernah lagi berlangsung belakangan ini.

Selain organisasi sosial yang berbasis keagamaan seperti disebutkan di atas, pada tahun 1960-an terdapat sejumlah organisasi yang bertujuan memprmosikan kebudayaan dan pendidikan Tamil; diantaranya adalah The Deli Hindu Sabah, Adi-Dravida Hindu Sabah, Khrisna Sabah, yang bergerak di bidang keagamaan, sosial dan aktivitas kebudayaan (Mani, 1980:63). Juga ada The Indian Boy Scout Movement, Indonesian Hindu Youth Organization, dan North Sumatera Welfare Association, dan lain-lain. Seorang tokoh Tamil yang kharismatis dan menggerakkan kemajuan bagi orang Tamil di kota Medan adalah D. Kumaraswamy. Pada masa sekarang ini hampir semua organisasi sosial tersebut tidak lagi aktif. Di masa sekarang kita bisa menemukan beberapa lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang Tamil di Medan, antara lain adalah Perguruan Raksana, dan lembaga kursus bahasa Inggeris Harcourt International yang memiliki 5 cabang di kota Medan.

Orientasi sosial budaya

Menjadi bagian dari bangsa Indonesia merupakan satu pilihan yang secara sadar dijalankan oleh warga Tamil di Medan dan Sumatera Utara pada umumnya. Mereka teguh dalam soal ini, dan banyak di antara kaum tua orang Tamil yang juga ikut berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia, dan banyak pula di antara warga Tamil yang berstatus sebagai pegawai negeri. Tetapi sebuah keprihatinan muncul di kalangan generasi tua Tamil dewasa ini melihat kenyataan bahwa semakin lama mereka kehilangan identitas kebudayaan Tamil. Sebagian besar generasi muda tidak bisa lagi berbahasa Tamil, bahkan orang tua juga banyak yang tidak mampu lagi menggunakan bahasa itu di lingkungan keluarga. Pendeta Gurusamy, pimpinan Shri Mariamman Kuil, menyebutkan bahwa pelaksanaan peribadatan di kuil-kuil Hindu saat ini juga tidak lagi sepenuhnya dapat dilakukan menurut ketentuan penggunaan mantra-mantra yang berbahasa Tamil maupun Sanskerta. Sebuah upacara penyucian kuil (Kumbhabisegam) Shri Mariamman Kuil di Kampung Durian pada tanggal 13 Juli 2003 harus dipimpin oleh pendeta yang khusus diundang dari Malaysia.

Orientasi politik kaum Tamil di Medan di masa lampau adalah Golkar, namun di era reformasi dengan sistem multipartai sekarang ini mereka tidak lagi terpolarisasi ke suatu partai tertentu.  Kaum muda Tamil banyak juga yang aktif di organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila, sehingga mereka semakin dalam terabsorbsi dengan lingkungan pergaulan dan kebudayaan komunitas pribumi.

Penutup

Perjalanan sejarah kehadiran komunitas Tamil di berbagai wilayah Sumatera di masa lampau menunjukkan bahwa arah orientasi social budaya mereka bergerak ke proses asimilasi dengan penduduk tempatan, seperti yang bisa ditemukan di Karo, Aceh, Sumatera Barat dan Mandailing Natal. Dalam kasus tersebut mereka melebur menjadi bagian integral dari etnik dan budaya komunitas tempatan, sehingga sulit untuk mengidentifikasi sosok kultural mereka kecuali hanya dari warisan penampilan fisik seperti dikemukakan oleh Hasan Muarif Ambari (2008).

Gejala yang sama juga terlihat kecenderunganya pada pendatang migrant Tamil kemudian, yaitu mereka yang berpindah ke Sumatera Utara pada abad ke-19 dan sesudahnya. Proses-proses adaptasi sosial budaya komunitas Tamil di Medan khususnya berlangsung lebih intensif dengan komunitas-komunitas tempatan jika dibandingkan dengan orang-orang Punjab. Kenyataan bahwa orang-orang Tamil telah terfragmentasi berdasarkan agama, membuat mereka lebih terbuka untuk berubah, sehingga identitas ke-Tamil-an mereka berangsur-angsur hilang. Bahkan kalangan Tamil Muslim sudah mengidentifikasi diri ke dalam komunitas yang dia masuki, dan kesatuan sebagai sesama agama menjadi lebih kuat dibandingkan dengan kesatuan sebagai sesama warga etnik Tamil.

Dalam era demokratisasi dan globalisasi dewasa ini, pilihan-pilihan baru tentu terbuka bagi warga masyarakat Tamil di Sumatera Utara, apakah mereka akan mengikuti proses historis seperti yang terjadi di masa lalu, yaitu secara perlahan melebur ke dalam kebudayaan yang dominan di suatu negeri, atau kembali menumbuhkan kesadaran identitas mereka sebagai sebuah komunitas sendiri dengan corak kebudayaan yang khas seperti yang mereka wariskan dari leluhur mereka. Dengan penguatan paham multikulturalisme, dimana prinsip kesetaraan, penghargaan, pengakuan dan penghormatan atas hak-hak kultural semua kelompok etnik dan budaya yang berbeda harus diutamakan, maka pilihan untuk menguatkan kembali identitas ke-Tamilan- juga bukanlah sesuatu yang tabu. Dengan prinsip multikulturalisme, kita memandang keanekaragaman suku dan kebudayaan sungguh-sungguh sebagai sebuah mozaik indah yang membangun ke-Indonesia-an, dan di sanalah hakikat Bhinneka Tunggal Ika terwujud. ***

BAHAN BACAAN :

Brahmaputro,

1979        Karo dari jaman ke Jaman; tanpa penerbit

BWS;

2001        Kampung Madras, Sebuah Potret Komunitas India di Medan; naskah buku

Gmelch, George & Walter P. Zerner,

1980        Urban Life : Readings in Urban Anthropology; State University of New York.

Mani, A.

1980                                Indian in North Sumatera; dalam K.S. Sandhu & A. Mani “Indian Communities in Southeast Asia; Times Academic Press”. Hal 46.

Napitupulu, Burju Martua

1992            Eksistensi Masyarakat Tamil di Kota Medan: Suatu tinjauan historis; skripsi sarjana sejarah FS USU.

Pelly, Usman

1994  Urbanisasi dan Adaptasi : Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Penerbit LP3ES; Jakarta.

Saifuddin Mahyudin, dkk

Biografi D. Kumarasamy; Naskah belum diterbitkan.

Sandhu K.S. & A. Mani (editors)

1981        Indian Communities in Southeast Asia; Times Academic Press

Sinar, Tengku Lukman,

2002        Sejarah Medan Tempo Doeloe; Cetakan kedelapan; tanpa penerbit

Y. Subbarayalu,

2003        Prasasti Perkumpulan Pedagang Tamil di Barus; Suatu Peninjauan Kembali; dalam Claude Guillot (2002) “Lobu Tua Sejarah Awal Barus”; Yayasan Obor Indonesia dan Pusat Penelitian Arkeologi & Association Archipel.


[1] Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Kebudayaan Etnis India Tamil di Sumatera Utara; diselenggarakan oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan (PUSSIS-UNIMED) di Medan, 28 Mei 2009.

[2] Penulis saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Antropologi Fisip USU

[3] Makalah disampaikan pada “Shared Histories Conference”, Penang, Malaysia, 30 July 2003-3 August 2003, organized by Penang Heritage Trust, sponsored by SEASREP

[4] Lalu lintas perpindahan manusia itu juga berlangsung dari arah sebaliknya meskipun dalam jumlah yang relatif kecil, misalnya terlihat dari arus migrasi orang Minangkabau dan Mandailing dari Sumatera ke Semenanjung Malaysia pada pertengahan abad ke-19, maupun migrasi orang-orang dari Pulau Jawa dan sekitarnya di abad ke-20.

[5] Dalam salah satu tulisannya Edward Bruner menguraikan bahwa kota Medan tidak memiliki satu kebudayaan yang dominan sebagai rujukan adaptasi bagi kelompok-kelompok etnik yang ada di sana; berbeda dengan kota Bandung misalnya dimana kebudayaan Sunda menjadi kebudayaan yang dominan. Ketiadaan kebudayaan yang dominan di kota Medan menjadikan berbagai kelompok etnik yang ada dapat mengekspresikan kebudayaannya secara lebih bebas.

[6] Salah satu kuil yang juga sudah tergolong tua adalah Kuil Thandayuthapani, yang didirikan oleh kaum Chettiar pada tahun 1918. Menurut A. Mani (1980:77) kaum Chettiars, atau disebut juga Nattukotai Naharathars, merupakan sebuah kasta khusus di salah satu distrik di Tamil Nadu. Mereka datang ke Medan seiring dengan kedatangan buruh Tamil ke perkebunan-perkebunan, dan mereka berdagang dan meminjamkan uang kepada orang-orang Tamil maupun penduduk pribumi. Di kalangan warga Medan, mereka ini lazim dikenal dengan sebutan Chetti-chetti.

Dipostkan oleh:

Erond L. Damanik, M.Si.

Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

“ORANG INDIA DI SUMATERA UTARA”

“ORANG  INDIA  DI  SUMATERA UTARA”

Oleh:

Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II, S.H.

Hubungan Masyarakat India dengan Sumatera Utara  Sejak Abad ke-III Masehi

Kedatangan berbagai etnis India ke pantai timur Sumatera dan pantai Barat Sumatera Utara sudah jauh sekali sebelum Masehi, yaitu membawa agama Hindu dan terakhir kemudian juga agama Budha terutama masa arus angin dari India ke Barus pada bulan Nopember dan Desember. Prof. Coomalaswamy* menulis bahwa Sumatera yang mula-mula sekali dari sejak sebelum Masehi menerima pendatang Hindu-India. Mereka membawa aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Abad ke-V Masehi gelombang dari India Selatan membawa agama Budha ke Sumatera dan memperkenalkan aksara Nagari yang menjadi cikal bakal aksara Melayu Kuno, Batak dan lain-lain.

Sejak abad ke-3 M, transportasi perdagangan di kepulauan Nusantara berada di tangan orang Cola. Pusat di Tamilakam, diambil alih oleh orang Pallava yang kemudian pula ditaklukkan oleh Cola kembali diabad ke-9 M. Orang Pallava dulu beragama Budha, tetapi menjadi Hindu kembali. Mereka berasal dari India utara dan simbol mereka “makara” dan “lembu Shiwa” dan menganggap mereka bukan dari Matahari atau Bulan tetapi dari “Aswattaman” (pahlawan dari cerita Mahabharata). Merekalah yang merebut ibukota Cola tahun 280 M dan lambang raja-raja Cola adalah Harimau yang dicap pada benderanya. Juga pada tahun 717 M pendeta Tamil Wajabodhi membawa aliran Tantrisme Mahayana Budha ke MALAYU seperti terdapat di candi di Padang Lawas dan patung Adytiawarman di Pagarruyung. *Kesemuanya bersamaan dengan membawa juga pengaruh atas perdagangan dan adat-budaya kepada masyarakat di pantai Barat Sumatera Utara dan mereka membawa aksara PALLAWA. Peranan etnis India dari Malabar (Malabari) dapat ditelusuri dari hikayat tentang masuknya Islam ke Sumatera. Islam di Malabar ialah bermazhab Syafei.

Menurut Tome Pires (1515 M) Raja Pasai dan sebagian penduduknya berasal dari India Islam dari Bengal. Banyak Pedagang Gujarat, Kling dan Bengal di sini.

Di Lobu Tua (Barus) pantai barat Propinsi Sumatera Utara telah ditemukan Batu Bersurat, tetapi atas perintah pembesar Belanda kepada Raja Barus Sutan Mara Pangkat sebahagian telah dihancurkan. Adapun sisa-sisa dari pecahan batu prasasti itu ada disimpan di seksi arkeologi Museum Pusat Jakarta, dan inskripsinya sudah diterjemahkan oleh PROF. DR. K. A. NILAKANTA SASTRI dari Univ. Madras ditahun 1931, yang menurut beliau prasasti itu dibuat ditahun Saka 1010 (=1088 M.). Itu masa pemerintahan RAJA COLA Kerajaan yang diperintah oleh KULOTUNGGADEWA-I yang menguasai wilayah Tamil di India Selatan.

Kalau kita baca “HIKAYAT MELAYU” karangan Bendahara Melaka TUN SRI LANANG (abad ke-16 M), itu memang cocok dengan apa yang tertulis di prasasti TANJORE (1030 Saka), ketika Raja RAJENDRA COLA DEWA-I pada tahun 1025 M menyerang Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara dan (Pannai, Lamuri Aceh) Malaya. Dari Prasasti Lobu Tua itu kita ketahui bagaimana eratnya hubungan perdagangan dan budaya “benua” India dengan Sumatera. Prasasti Lobu Tua itu berisi tentang aktivitas perdagangan kumpulan konglomerat Tamil yang dikenal dengan nama “MUPAKAT DEWAN 1500”. Anggotanya terdiri dari berbagai sekte Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Keberbagai negara mereka pergi membawa barang dengan kapal mereka sendiri dan disitu mendirikan Loji (gudang yang berbenteng yang dijaga oleh perajurit mereka). Mereka tidak tunduk kepada sesuatu kerajaanpun tetapi disambut hangat oleh setiap negeri/yang dikunjungi mereka (1).

Tentulah bersama para pedagang itu turut serta pula seniman pengukir/candi dan pendeta Hindu dan tentu banyak terjadi perkawinan dengan wanita-wanita Batak. Menurut hikayat di Sianjur Mula-Mula diciptakan aksara Batak yang nampak sekali berasal pengaruh aksara Sansekerta, oleh DATU TALA DIBABANA marga Borbor. Mari kita lihat beberapa pengaruh Hindu itu pada orang Batak antara lain :

  1. Nama-nama hari “ Aditya = Ariria (Toba) = Aditia (Karo)
  2. Soma = Suma (Toba) = Suma (Karo); Anggara = anggara (Toba) = anggara (Karo); Budha = Muda (Toba) = Budalia (Karo); Brhaspati = Boraspati (Toba) = Beraspati (Karo); Syukra = Singkora (Toba) = Cukera (Karo); Syabaisycara = Samisara (Toba) = Sanusara  (Karo);  Yoga  =  Ayuga (Toba) =  Iyoga (Karo);  Kala  =  hala ‘ Wisnu-Bisnu ; Brahma = Borma.
  3. Brahma dalam kitab Upanisad = Mulajadi Nabolon; Gunung Cicira yang dingin = Pusuk Buhit; Dewa Manu dalam Purana = Batara Asi-asi; Saraswati cakti dari Brahma = Boru Deak Parujar. Pani didalam kitab Pustaha Panai Bolon = dalam buku orang Weda tentang pencegah langit mendung; Kuda Debata = Kuda Dewata; Sisingamangaraja = Dewa Manusia didalam buku Hindu Manu; Sri = Sori.
  4. Pada etnis Karo terdapat merga-merga : Brahmana, Pandia, Meliala (=Malayali), Depari, Pelawi (=Phlawa), Colia (=Cola), Tekang (=tekanam) dan lain-lain semua masuk grup SEMBIRING (Orang Hitam) dan dalam upacara adat misalnya “Pekualuh” (menghanyutkan abu jenazah di sungai) ternyata masih ada terdapat sisa-sisa kepercayaan orang Tamil itu pada mereka. Mereka juga boleh kawin sesama merga.

Memasuki abad ke-16 dari catatan Portugis misalnya orang “Benggali” (dari Prop.Bengal), “Kling” (dari kerajaan Kalingga=Tamil) dan Gujarat ramai sekali berdagang ke Sumatera dan kawin mengawin dengan penduduk Sumatera. Didalam prasasti TANJORE ada ditulis negeri-negeri yang ditaklukkan Indra Coladewa-I tercatat Kerajaan PANAI (Pannai) di Padang Lawas. Negeri itu dicatat sebagai “water in its bathing gats” (Bah. Tamil “pannai” artinya lapangan yang diairi sungai-sungai). Didalam exkavasi yang dilakukan DR. Schnitger ditahun 1930-han, terdapat disana banyak biara sekte Budha Tantrik Bhairawa (abad ke-11 s/d 14 M) dan bahasa dari inskripsi disana bahasa Melayu Tua bercampur Sangsekerta, sebagai contoh inskripsi Gunung Tua (1024 M) ada kalimat : “Juru pandai Surya barbwat Bhatara Lokanantha”.(x)

Pedagang asal turunan Tamil-Batak itu banyak mendatangkan kuda-kuda dari pantai Barat untuk diexport ke pantai timur Sumatera. Merga “Kudadiri” mungkin sekali berasal dari nenek moyang mereka pedagang kuda. Kuda Batak sangat digemari karena kokoh badannya. Baik di Kota Cina ditemukan patung Budha (Sahasamala) dan manik asal India Selatan abad ke-13 dan 15.[*] Ini menunjukkan maraknya perdagangan India Selatan dengan Sumatera terus menerus.

MASYARAKAT TAMIL ISLAM

Dari berbagai riwayat kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera dan Malaya banyak sekali menceritakan mengenai hubungan dengan India Selatan (Malabar) seperti dalam “Hikayat Raja-Raja Pasai”, “Sejarah Melayu” dan lain-lain. Rakyat Pasai sebagian besar keturunan dari Bengal. Raja Islam pertama mereka adalah keturunan dari Bengal. Pedagang di Pasai banyak dari Gujarat, Kling dan Bengali.¨

Asal dari Raja Deli (Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan), juga panglima Sultan Iskandar Muda Aceh asal dari India (1630).*** Didalam bahasa Melayu dan budaya Melayu umumnya, banyak sekali terdapat kata-kata asal Tamil dan makanan asal Tamil.

Bahasa Tamil adalah bahagian yang terpenting dari bahasa-bahasa Dravidia. Bahasa Tamil ini diucapkan dibeberapa kilometer di utara Madras; di dataran Ghats; dari Pulicat sampai ke Tanjung  Comorin;  di  Teluk  Benggala  dan  juga  dipakai di Selatan Travancore dan didekat Trivandrum  dan juga di Utara Srilangka. Sebahagian besar apa yang dulu sering  disebut “ORANG KLING” (The Klings, Klingalezen) baik sebagai buruh di Pegu, di Malaysia, Singapura di Suriname dan di Sumatera Timur dan di Kepulauan Mauritius adalah mereka ini.

Bahasa Tamil memberikan banyak pengaruh kepada Bahasa sesetempat. Hubungan orang Tamil dengan masyarakat Melayu sudah lama sekali, lebih 1000 tahun. Bahkan banyak orang Tamil yang keturunannya sudah Islam, menjadi Raja Melayu atau menjadi Orang Besar Melayu seperti MANIPURINDAM yang menjadi Bendahara Kerajaan Melaka (turunannya antara lain ialah Bendahara TUN SRI LANANG, editor “Sejarah Melayu”). Juga nenek moyang SULTAN DELI dan SULTAN SERDANG dan beberapa dinasti Raja Pasai. Asal India(xx). Orang Tamil yang Islam di Malaysia disebut “Orang Mamak”. Nenek dari mantan Perdana Menteri Malaysia, TUN DR. MAHATHIR, juga keturunan Tamil ini.

Sebagai contoh bahasa Tamil yang sudah menjadi bahagian Bahasa Melayu adalah sebagai berikut antara lain :

-   APAM, semacam kueh dari tepung      -   BESI (Tamil “wesi”)

-   ONDE (bah. Tamil “undi”)                     -   TALAM (Tamil “talam”)

-   UPAM (Tamil “oppam”)                         -   TAMBI, sdr. Bungsu (Tamil “tambi”)

-   BATIL (Tamil “pattiram”)                       -   TEMBAGA (Tamil “tambigaram”)

-   BADAI (Tamil “badai” = angin)             -   TANDIL, opsir kapal (Tamil “tandal”)

-   BAGAI (Tamil “bagai”)                            -   TOLAN  (handai tolan), (Tamil “tauran”)

-   BELENGGU (Tamil “wilanggu”)           -   TIRAI (Tamil “tirai”)

-   BERNIAGA (Tamil “veniaga”)               -   JODOH (Tamil “shodu”)

-   BIRAM, nama Gajah (Tamil veram”)     -   CANAI (Tamil “canai”)

-   DAHAGA (Tamil “dagam”)                    -   CETI, kasta penjual (Tamil “setti”)

-   RAGAM (Tamil “iragam”)                      -   CERPELAI (Tamil “kirippilai”)

-   SATAI (Tamil “tacali”)                             -   CEMETI (Tamil “samatti”)

-   CERUTU (Tamil “suruttu”)                    -   SEGALA (Tamil “sagala”)

-   SANTRI (Tamil “santiri”)                        -   SUASA (Tamil “sugusa”)

-   PETI (Tamil “peti”)                                  -   PERISAI (Tamil “parise”)

-   PINGGAN (Tamil “pinggan”)                -   PANCALOGAM (Tamil “pancalogam”)

-   PUALAM (Tamil “pavalam”)                 -   KATIL (Tamil “kattil”)

-   KARI (Tamil “kari”)                                 -   KAPAL (Tamil “kappal”)

-   KAWAL (Tamil “kaawal”)                                  -   KETUMBAR (Tamil “kottamali”)

-   KEDAI (Tamil “kadai”)                                       -   KANJI (Tamil “kancil”)

-   KENDI (Tamil “kundi”)                                      -   KUNDAI (Tamil “kondai”)

-   KODI (Tamil “kodi”)                                           -   KULI (Tamil “kuli”)

-   KUIL (Tamil “koil”)                                             -   KOLAM (Tamil “kolam”)

-   GURINDAM (Tamil “kirandam”)                      -   GEMBALA (Tamil “gobhalan”)

-   LOGAM (Tamil “ulogam”)                                 -   GUDANG (Tamil “kidanggu”)

-   MACAM (Tamil “maccam”)                               -   MAHLIGAI (Tamil “maligai”)

-   MANIK (Tamil “mani”)                                       -   MANIKAM (Tamil “manikkam”)

-   MATERAI (Tamil “muttirai”)                             -   MUTU/MUTIARA (Tamil “muttu”)

-   MARAPULAI/MEMPELAI (Tamil “marapilai”)-   MODAL (Tamil “mudal”)

-   NILAM (Tamil “nilam”)                                      -   NELAYAN (Tamil “nulaiyan”)

Dan banyak yang tidak disebutkan lagi (5)

Masyarakat Tamil Islam di Sumatera Timur banyak berkawin dengan wanita Indonesia Islam sesetempat sehingga di Absorps (mencernakan diri) menjadi masyarakat Melayu atau etnis Indonesia Islam lainnya di Sumatera. Banyak berasal dari Utar Pradesh, dan dari Madras. Mesjid tua yang ada di Medan ialah Mesjid Jl. Zainul Arifin Kampung Keling dan di Jl. Gajah di Medan.

KEDATANGAN IMIGRAN DAN BURUH TAMIL KE RESIDENSI SUMATERA TIMUR ABAD KE-19.

Pada tanggal 7-7-1863, mendaratlah para pedagang tembakau dari Jawa yaitu antara lain Kuypers dan Nienhuys. Mereka mendapat hak konsesi tanah di Martubung dari Sultan Mahmud Deli untuk menanam tembakau Deli yang kualitasnya baik dan berbau harum sebagai pembalut cerutu. Kemudian Nienhuys berhasil memperoleh kontrak tanah di Tg. Sepassai dari Sultan Deli untuk jangka waktu 99 tahun. Dengan kuli yang dimulai berjumlah 88 orang Cina dari Penang dan penduduk Melayu, sudah didapat keuntungan besar sehingga berduyun-duyunlah investor asing berbagai bangsa datang kesini. Oleh P.W. Janssen – Clemen – Nienhuys dan Cremer dibentuklah maskapai besar tembakau disebut “N.V. DELI MAATSCHAPPIJ” (=Deli Maskapai) yang menguasai hampir seluruh tanah perkebunan tembakau di wilayah kerajaan Deli. Bal-bal tembakau dibawa dengan perahu yang dikerjakan oleh kuli orang Tamil melalui sungai Deli dan sungai Babura dan dipertemuan kedua sungai itu di kampung MEDAN PUTERI, lalu melapor ke Kantor besar DELI MIJ tersebut dan dari sana baru dibawa menghilir sungai Deli ke Labuhan untuk diexport dengan tongkang Cina ke Penang dan dari Penang dimasukkan ke kapal untuk  dibawa  ke Eropah. Untuk urusan transportasi darat ini (sampan pengangkut, kereta lembu pengangkut tembakau dan urusan ternak serta pembukaan jalan darat) dipakai orang Tamil. Karena banyaknya perkebunan yang dibuka di daerah kerajaan Serdang, Langkat dan ke selatan Sumatera Timur, banyak sekalilah diperlukan buruh perkebunan. Buruh Cina yang didatangkan dari Malaya dan Tiongkok terhambat karena berbagai peraturan yang memberatkan yang diterapkan pembesar-pembesar disana. Disamping itu kuli Cina tidak mau menandatangani perpanjangan kontrak, tetapi minta kepada Deli Mij agar bisa meminjam tanah konsesi mereka yang tidak ditanami supaya mereka bisa membuka Kebon Sayur dan memelihara babi. Kemudian melalui Kongsi (Perkumpulan suku) mereka masing-masing di Singapura dan Hongkong mereka memperoleh kredit untuk membuka kedai-kedai didekat perkebunan untuk mensuplai barang kebutuhan kuli perkebunan(+). Sejak 1875 maskapai perkebunan Belanda mendatangkan kuli dari Jawa (mulanya dari Bagelen) yang biayanya murah karena diperlakukan sebagai setengah budak, dillindungi peraturan yang kejam disebut “Poenale Sanktie”. Karena perkebunan besar juga dibuka orang Inggeris di Malaya terdapat hambatan dari Inggeris yang dirasa memberatkan perkebunan Belanda antara lain secara berkala akan ada petugas Inggeris yang memeriksa tentang kondisi kuli Tamil seperti pengobatan, gaji dan lain-lain. (Special Coolie Ordinance for Klings).

Statistik di Srilangka mencatat pada tahun 1887 sekitar FL.350 juta sudah dibayarkan sebagai gaji kepada kuli dari India Selatan. Mereka senang bekerja di Sumatera Timur yang pantainya panas sesuai dengan cuaca di dataran Tanjore, Madura, Tinenelly. Kalau di Srilangka kuli Tamil harus menyesuaikan diri dengan udara pergunungan untuk menanam kopi tetapi di Sumatera Timur mereka cocok dengan tanaman coklat, padi, kelapa dan tembakau.

Karena bahaya kelaparan yang selalu menghantui wilayah India Selatan, maka banyaklah migrasi kuli ke Sumatera Timur melalui Madras dan Nagapatam.

Sejak 1877 J. T. Cremer dari “Deli Mij” sudah menulis dengan judul “EMIGRATIE KOLONISATIE OP SUMATRA’S OOSTKUST” (6) :

“Meskipun pengambilan kuli dari India dilarang, para pemilik perkebunan di Sumatera Timur menerima dalam jumlah besar orang Kling dengan wanita dan anak-anak mereka dari sebelah selatan pantai Coromandel”.

Selanjutnya Cremer menulis pula didalam sebuah brosur (7) antara lain :

“Bila Pemerintah Inggeris membenarkan pengambilan pekerja langsung dari India, maka itu merupakan sumber kita memperoleh kuli yang baik. Apa yang disebut “orang Kling”, yang sudah banyak datang kemari, ketika larangan di Malaya agak kendor, mereka bekerja sebagai sais kereta lembu dan kuli harian dan bekerja dengan baik sekali. Hanya dikalangan kaum Paria kadangkala terjadi kericuhan karena mabuk. Orang Kling ini sangat irit dan tidak terpengaruh candu dan judi. Mereka membawa juga keluarga mereka kesini tanpa dibayar”.

Untuk menarik kedatangan orang Kling ke Sumatera Timur, maka pihak perkebunan Belanda memberikan brosur dalam Pameran Internasional di Calcutta tahun 1883/1884 yang antara lain berisi :

“A good many Tamil (Kling) and Javanese workmen are also employed, not as a rule, for the cultivation of Tobacco, but for different auxiliary purposes, such as cart and cattle driving, road-and ditchmaking, working on coffee and other trial cultures & ca. Their monthly wages amount generally, from 6 to 7 dollars. The Klings are very much valued in Sumatra, and a much greater number, than those now working there could find employment, if arrangements were made between the British India and the Netherland Indian Governments for the emigration of these men”.

Peraturan yang diciptakan oleh Pemerintah Inggeris di India mengenai emigrasi kuli keluar India ialah “ACT NO.VII 1871” passed by the Governor General of India in council 10 March 1871, “The Indian Emigration”. Kemudian karena tidak lengkap maka dikeluarkan lagi ACT NO.XXI 18 DESEMBER 1883. dimana antara lain emigrasi bisa dilakukan di pelabuhan CALCUTTA, BOMBAY dan MADRAS. (8)

Wiselius & Cremer in T. Voor Ned. Indie Deli Courant 8-7-1885 :

Lebih diterima yang datang dengan usaha sendiri bukan emigrasi kontrak kuli dari India yang banyak benar peraturan-peraturannya. Di Malaya atas permintaan Pem. India, semua penduduk asli India, yang meninggalkan Malaya, harus punya sertifikat bahwa mereka orang yang mampu atau ke negara-negara dimana tidak dibuat Traktat. Penguasa di Tanjore dan pelabuhan Nagapatam, Karikal, Madras mencatat semua penumpang yang mau berangkat ke Malaya. Emigran bebas (tidak ada kontrak kerja dan tanpa panjar juga di catat bahwa ia bukan kuli tetapi misalnya bakal petani).

Di Malaya kapal dilarang membawa orang India ke Sum. Timur untuk menjadi petani tanpa sertifikat. Cremer mengusulkan pelayaran langsung ke India dengan biaya rendah oleh perkebunan asing di Sum. Timur. Di Malaya dibuat peraturan bahwa semua orang India yang meninggalkan Malaya harus punya sertifikat, bahwa ia adalah orang-orang “yang berada” atau ia termasuk golongan Kuli yang dilarang meninggalkan Malaya, karena takut mereka akan buat kontrak kerja di negeri yang tak ada Traktat dengan Inggeris dan dimana tidak ada Protektor orang Inggeris seperti di Sum.Timur. Jadi emigrasi bebas calon petani dari Malaya tidak mungkin. Semua calon petani yang pergi dengan/tanpa kontrak atau tanpa persekot harus di registrasi. Ini menghalangi emigran India meninggalkan Malaya.

Pada tahun 1886 sudah ada 2000 orang kuli Tamil. Sejak 1875 dengan datangnya ribuan kuli kontrak dari Jawa, maka tidak dipakai lagi kuli asing. Orang India yang datang ke Sumatera Timur kemudian datang secara bebas. Datanglah pedagang dan “Chetty” (moneylenders = meminjamkan uang secara riba).+ Ada lagi suku yang disebut “Orang Bombay” yang membuka toko pakaian dan toko sport. Kalau pada mulanya di tahun 1873 baru ada 25 orang kuli orang Kling (Tamil=Chulia) yang baraknya dipisahkan dengan kaum Paria tanpa kasta (Adi-Dravida). Berdasarkan Pasal 35 Ordonansi 1873 maka orang India dan Cina dimasukkan sebagai rakyat/ kaula Gubernermen Belanda sehingga pemerintah Belanda untuk mengawasi mereka membentuk kepala-kepala dari kalangan mereka yang berpengaruh disebut “Letnan” dan diatasnya ada “Kapitan” India atau Cina.

Berdasarkan hasil Sensus 1930 jumlah masyarakat asal India di Indonesia adalah sebagai barikut :

TABLE 2: DISTRIBUTION OF INDIANS IN THE INDONESIA ISLANDS, 1930

AREA                                             TOTAL               % BORN IN INDONESIA

Jawa & Madura                                 5,5                               58,2

Sumatera                                           20,1                              48,5

Kalimantan                                        2,9                               36

Sulawesi                                             0,8                               44

Lain-lain kepulauan Indonesia         0,7                               58

30                               49   (9)

Didalam tahun 1930 kebanyakan mereka tinggal di perkebunan diluar Medan (di Medan hanya 3.067 orang). Tetapi menurut “Statistik Indonesia” 1977-1978 (10) di Aceh ada 179 orang pria dan 46 orang wanita sedangkan di Sum. Utara 1.633 orang pria dan 1.166 orang wanita. Terutama pada masyarakat Melayu dan masyarakat Indonesia semua non-Kling, imigran dari India Utara, disebut “Orang Benggali” meskipun kebanyakannya adalah orang Sikh dari Punjab.

MASA PENDUDUKAN TENTERA JEPANG 1942-1945

Berhubung karena blockade kapal selam Sekutu, export hasil perkebunan di Sumatera Timur terhenti. Sumatera Timur yang selama ini sebagai wilayah agro-industri untuk export masa itu sampai pada titik kelaparan. Tanah perkebunan ditebas untuk menanam padi dan jagung serta ubi untuk makanan rakyat. Tetapi itu tidak pernah mencukupi karena sebagian besar dirampas untuk keperluan bala tentera Jepang. Hanya Simalungun dan wilayah Kerajaan Serdang yang selfsupporting beras. Pemerintah Jepang ketika itu membentuk Pemerintah boneka India Merdeka dikepalai oleh SUBHAS CHANDRA BOSE. Dia lalu membentuk tentera INDIAN NATIONAL ARMY direkrut dari kalangan orang India bekas tentera Inggeris yang ditawan Jepang. Dari Medan/Sumatera Timur beberapa orang Tamil juga masuk INA itu dan dikirim ke front Burma-Assam dan tidak pernah pulang kembali.

Pada masa ini mulai banyak orang-orang India yang agak terpelajar membuka kursus-kursus bahasa Inggeris di kota-kota.

MASA KEDATANGAN TENTERA SEKUTU DAN MASA AWAL KEMERDEKAAN R.I.

Pada tanggal 17-8-1945 Bung Karno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Di Medan dan Residensi Sumatera Timur terjadi banyak kesimpangsiuran karena terputusnya hubungan Jawa-Sumatera sejak zaman Jepang.

Delegasi Sumatera Timur, MR. TEUKU HASAN dan DR. M. AMIR, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan, pulang dari Jakarta tidak bertindak apa-apa. Sebaliknya timbul issue bahwa Tengku Dr. Mansyur memimpin pihak raja-raja untuk mempersiapkan “Komitee van Ontvangst” (Panitia Penyambutan) kedatangan Belanda kembali terutama ketika KAPTEN TURKED WESTERLING cs.mendarat di Polonia Medan tgl. 12 September 1945 dan membentuk secara tergesa-gesa pasukan NICA Belanda dari bekas tawanan Jepang di Medan. Pada tanggal 30 September 1945 para pemuda Indonesia terutama bekas GYUGUN dan HEIHO pimpinan AHMAD TAHIR mulai membentuk Badan Pemuda Indonesia dan lahirlah berbagai kesatuan bersenjata dari kalangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 10 Oktober – 5 Nopember 1945 berbagai unit tentera Inggeris/Sekutu dari Divisi ke-26 yang didatangkan dari front Burma mendarat di Belawan. Divisi itu sepenuhnya terdiri dari bangsa India dan kekuatan ini ditambah lagi mendarat pada tgl. 5 Januari 1946 dengan beberapa resimen dari India langsung. Terjadilah bentrokan setiap hari antara Tentera Sekutu/India Inggeris ini melawan laskar-laskar rakyat Indonesia di front Medan Area. Tentara Sekutu yang diwakili oleh Devisi ke 26 India – Inggeris yang masuk ke Belawan tanggal 10 Oktober 1945 sebanyak 5000 orang yang dikepalai oleh Brig. Jendral T.D.E. Kelly terdiri atas :

Antara tanggal 10 Oktober dan 5 Nopember 1945 telah didaratkan di Belawan berbagai unit dari Tentara India-Inggeris dari Divisi ke 26 yaitu :

-         Headquarters Royal Artillery

-         6 SWB (ditempatkan di Berastagi)

-         Administrative units

-         8/8 Punjab Regiment

-         2 Frontier Force Rifles (ditempatkan di Binjai) (11)

Kekuatan ini kemudian ditambah lagi pada tanggal 5 Januari 1946, berhubungan meningkatnya perlawanan rakyat di Medan Area. Pasukan yang langsung didatangkan dari India itu ialah :

-         7 Indian Field Regiment

-         1 Indian Anti-tank Regiment

-         6 Raiputana Rifles

-         Machine Gun Batalion Frontier Force Rifles

-         “A” Squadron 146 Royal Armoured Corps (pasukan kereta kebal)

-         2 Patiala Infantry

Banyaklah anggota tentera Inggeris bangsa India (terutama yang Islam) yang menyeberang ke pihak Indonesia dengan membawa senjata mereka. Mereka digabung didalam laskar unit bangsa India yang dipimpin oleh seorang bekas petinju, YOUNG SATTAR. Tetapi sayangnya di India sendiri terjadi pertempuran hebat antara yang beragama Islam yang mengingini pemisahan dengan membentuk Negara PAKISTAN dengan bangsa India beragama Hindu. Effeknya banyaklah orang orang India di perkebunan di Binjei/Siantar/Serdang/Medan minta perlindungan kepada Tentera India-Inggeris itu, (lihat foto). Sebagian kuli-kuli Tamil pengungsi dari luar kota itu ditempatkan didalam berbagai tenda besar didekat lapangan terbang Polonia Medan (“Pondok Terpal”).

Ketika tahun 1946 itu Kota Medan diduduki Tentera India-Inggeris Divisi ke-26, maka banyaklah pasukan yang beragama Islam menyatakan diri mereka golongan “Pakistan” bergabung dengan pasukan bersenjata bangsa Indonesia. Sering terjadi insiden antara mereka dengan orang Tamil Hindu diluar Kota Medan, sehingga banyaklah orang asal India non-Muslim itu berlindung kepada Tentera Sekutu di Medan. Sekitar bulan Agustus 1946 ada sekitar 4000 orang Tamil Hindu yang pulang dengan kapal langsung ke India atau ke Malaya.

Kebanyakan dari mereka yang masih tinggal di Medan menjadi warga negara Indonesia berpencar mencari nafkah ke berbagai tempat Sumatera dan di Jawa. Banyak wanita Tamil tinggal dirumah sebagai ibu rumah tangga, tetapi bagaimanapun mereka masih menjadi sumber adat dan agama dan penyelenggaraan adat perkawinan diantara orang Tamil banyak terserah kepada kaum Ibu.(12)

Mengenai anggota bangsa India dari 26th Beritish-Indian Division in Medan dapat kita telusuri dari laporan intelijen “26th Indian Division Weekly Intelligence Summary” antara lain mulai bulan Maret 1946 – 10 April 1946 sebagai berikut :

Maret 1946 :

Surat kabar “Soeloeh Merdeka” di Siantar menulis bahwa NEW DELHI minta keputusan dari Indian Congress Party bahwa pasukan India di Indonesia dipergunakan Inggeris untuk menindas perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Diminta agar mulai 1 Maret 1946 pasukan India ditarik dari Indonesia.

Tgl. 7 Maret 1946 :

Dicatat 2 orang tentera India dari 7 Ind.Fd.Regt.hilang tgl. 23 dan 24 Febr. dan 1 orang tgl. 25 Febr. dari 126 Ind.Ord.Sub Part dan 2 orang hilang tgl. 26 Febr. dari 2 Rajp. Regt. di Tg. Morawa dan 1 orang dari 6th Rajputana Rifles pada tangal 1 Maret. Sampai hari ini pasukan 26 British-Indian Division di Medan Area telah tewas 194 orang dan desersi ke pihak Indonesia 303 orang serdadu India.

Laporan tgl. 16 Maret 1946 :

15  orang  tentera  India  selama  minggu  yang  lalu  hilang  yaitu  3  orang  tgl. 3 Maret, 6 orang tgl. 5 dan 1 orang tgl. 7 Maret. Dari  Tg.  Morawa  1 orang  tgl. 6  Maret dan 5 orang tgl. 8 maret.

Dilakukan tindakan keras mencegah desersi serdadu India ini. Pada tgl. 9 Maret suatu patroli tentera Inggeris-India ke Tg. Morawa ketika pulang ke Medan dijebak dalam sebuah barikade Jalanan dalam pertempuran ini 1 orang opsir Inggeris dan 2 orang tentera India tewas dan 1 orang tentera India desersi.

Selama akhir minggu ini tentera India yang desersi makin bertambah sampai 15 orang. Pada mulanya oleh Panglima pasukan Inggeris hal ini disebabkan oleh bujukan dari laskar rakyat atau rayuan wanita tetapi kemudian ternyata karena aspek agama dan politik dan sudah ada rencana suatu organisasi untuk membujuk tentera India berpihak kepada Indonesia. Kejadian yang serius terjadi tgl. 5 Maret dimana 5 orang tentera India dari MG Bn FFR dan 1 orang L/Nk dan sebuah jeep hilang pada jam 21.00. Desersi itu sudah direncanakan karena setiap tentera India itu membawa serta pakaian extra dan senjata dengan amunisinya. Sebuah Jeep yang dibawa itu terlihat di Arnhemia. Desersi yang serius juga terjadi tengah malam tgl. 8/9 Maret ketika 5 orang tentera India dari 2nd FF Rifles meninggalkan posnya di Tg. Morawa.

FAKTOR YANG MENYEBABKAN DESERSI TENTERA INDIA :

Dari pihak Indonesia mempergunakan cara :

  1. Membujuk langsung individu tentera supaya desersi;
  2. Melancarkan issu;
  3. Oleh surat kabar berpropaganda “serangan kamu terhadap kemerdekaan kami”;
  4. Bujuk rayu wanita;
  5. Bujuk supaya mereka tinggal dan dapat tanah di Sumatera;
  6. Berpegang kepada serdadu yang sedang sakit hati;
  7. Kepada serdadu yang Muslim, diajak berjuang sesame saudara Islam
  8. Untuk menangkis ini, harus diawasi juga penduduk India yang ada di sekitar Medan Area.

Laporan tgl. 1 April 1946 :

5 orang serdadu India hilang. Dua orang dari HQ 26 Ind. Div. karena kawin dengan wanita Indonesia. Dua orang dari serdadu India yaitu 875 Ind. Pol. Pl. dan 2 lagi dari 2nd Patiala. Diperoleh laporan bahwa Laskar Rakyat mengadakan razia dikalangan kuli Tamil yang bersimpati dan membantu Tentera Sekutu.

Laporan tgl. 8 April 1946 :

Satu orang lagi tentera India, seorang Naik dari HQ 26th Div. seorang Sikh hilang sejak 27 Maret. Sepoy Rizara Marim hilang sejak 20 Maret dan Sepoy Chandra Singh hilang sejak 11 Maret yang berusaha lari ke India dapat tertangkap.(13)

Isi Surat selebaran tertuju kepada Tentera India :

Apakah tugas seorang Pahlawan ?

Berjuang melawan senjata, melindungi mereka yang tertindas, menjaga kehormatannya dan juga bangsa lain dan melindungi ibu semua bangsa dari tirani. Bangsa Indonesia kini ditindas sudah lama sekali dibawah pemerintahan Belanda dan Fasis Jepang. Perang sudah selesai, kaum fasisi sudah kalah tetapi tetap saja ada meriam berdentuman, dan berdentuman di tanah saudaramu terhadap bangsa yang cinta kemerdekaan. Ini harus dihentikan. Adalah tugasmu menyetopnya. Kamu harus meneriakkan suaramu untuk perdamaian abadi, seperti falsafah India mengatakan : Damai adalah tujuan dari kemanusiaan!

Kamu datang kemari untuk melucuti serdadu Jepang, bukan untuk menentang bangsa Indonesia yang cinta damai. Kamu datang dari berbagai pelosok India dari berbagai elemen agama, tetapi kamu tetap saudara dari Pandit Jawaharal Nehru, dan putera dari Ibu pertiwi India, dimana kita melihat Ram, Vishma, Sivaji, Ranapratap. Kamu tidak boleh melupakan masa silammu, kamu adalah turunan dari nabi-nabi yang besar. Saudara kami orang Sikh harus ingat Guru Govinda yang agung yang berjuang untuk kemerdekaan, perang Suci, dan bangsa Indonesia membandingkan Indian National Congres, Hindu Mahasava, Moslim League dan Akali Sikdal. Kamu melihat semuanya itu dalam diri bangsa Indonesia jika kamu mencintai dirimu, Ingatlah Kalkutta sekarang ingatlah saudaramu INA, apakah kamu sadar mereka? Apakah kami tidak simpati kepada saudaramu? Jangan jatuhkan nama suci bapak Nasionalmu; Jawaharal melarang kamu menaikkan tanganmu melawan perjuangan kemerdekaan. Kamu tidak perlu berkhianat, laksanakan kerjamu sebaiknya, yaitu kerja seorang pahlawan. Berkhianat kepada Ratu, jangan keluar dari disiplin tentera, pertahankan kehormatan Ratu dan pangeran singa Tanah Airmu. Bangsa Indonesia bukan musuhmu, kamu tidak perlu takut padanya, mereka adalah saudaramu selama kamu mempunyai rasa persaudaraan kepada mereka. Kamu tidak ditindas tetapi kawan bangsa Indonesia-kawan dengan tertindas yang sama. Dia India semua mereka menginginkan aktivitas kamu, karena kehormatan negerimu tergantung padamu.

Jadi berpikirlah – coba  mengerti tugasmu – lalu majulah.

Bandemataram, jay hind.-

Sahabat lamamu.

BEBERAPA KUIL DI SUMATERA TIMUR BUAT MASYARAKAT TAMIL

-         Sri Mariamman di Medan                                                        -   Bekiong

-         Sri Mariamman di Bekala                                                         -   Tj. Beringin

-         Sri Mariamman di Binjei                                                           -   Tj. Jati

-         Sri Mariamman di Padang Cermin (Langkat)                       -   Pungei

-         Sri Kaliamman di Medan                                                         -   Sampali

-         Thandayuthapani di Medan                                                    -   Sunggal

-         Subramaniyar di Lubuk Pakam                                              -   Namu Ukur

-         Kaliamman di Kampung Darat Medan                                 -   Mariendal

-         Kebun Sayur Medan                                                                 -   Tembung

-         Labuhan Deli                                                                              -   Batu Mandi

-         Tebingtinggi                                                                               -   Mabar

-         Pematang Siantar                                                                       -   Marelan

-         3 buah kuil di Pulau Berayan                                                  -   Batang Kuwis

-         3 buah kuil di Bandar Aceh                                                     -   Kelambir Lima

-         Kota Cina (untuk upacara memijak bara api sejak 1901)    -   Sungai Semayam

-         Paya Bakung                                                                               -   Tanah Seribu

-         Belarang (Binjai)

BEBERAPA KEGIATAN PENTING MASYARAKAT TAMIL DI MEDAN.

-     Tahun 1913

Dibentuk Organisasi masyarakat Tamil di Medan untuk seluruh Sumatera yang bernama “DELI HINDU SABHA” yang disahkan oleh Gubernur Sumatera Timur. Organisasi ini dipimpin untuk pertama kali  oleh : Tuan RAMASAMY SANMA, SENEMUTHU, PONASAMI PILAY, DALIPH SINGH, HINDER SINGH, dan WALLYSAMY. Sebagai Ketua Ramasamy Sanma dan Sekr. Ponasamy Pilay. Dalam tahun ini juga dibuka kantor di Jalan Darat Medan.

-         Tahun 1914

Pada tahun ini ada kegiatan sandiwara mementaskan “Samanasen”

-         Tahun 1915

Dibuka sekolah Bahasa Tamil dan Inggeris di Jl. Muara Takus – Jl. Darat Medan.

-     Tahun 1916

Deli Medan Sumatra Hindu Dharma Sargam

-         Tahun 1929

Kumaraswamy menjabat Ketua “D.H.S” dan sekretaris tetap tidak berubah

-         Tahun 1931

Diterbitkan buku huruf latin oleh Kumarasamy untuk bahasa Inggeris dan Indonesia pada tahun ini juga dibuka kantor di Jl. Zainul Arifin Medan (Kampung Kling) sumbangan dari Tuan Daliph Singkh.

-         Tahun 1933

Dibentuk kesebelasan sepak bola di Medan. Pada tahun ini juga dibentuk grup kesenian yang beranggotakan 40 orang

-         Tahun 1937

Yang menjadi anggota “D.H.S.” sudah 870 orang.

-         Tahun 1938

Upacara peringatan 25 tahun “D.H.S.” dimana diadakan berbagai kegiatan seperti upacara adat /agama tanggal 14, 15 dan 16 April. Juga diadakn pertunjukkan sandiwara berjudul “Sanggetamen” yang dipertunjukkan oleh Nasingatane Pilay dan kawan-kawan. Pada tahun ini juga sudah terbentuk Seksi Wanita “D.H.S.”

Tokoh D. Kumaraswany

Salah seorang tokoh Tamil yang terkenal ialah D. KUMARASWANY lahir 1906 asal dari Pondicherry (India Selatan) dimana keluarganya bermigrasi ke Medan. Dia juga yang membangkitkan kembali kegiatan “D.H.S.” pada tahun 1923, yang sudah melemah sejak 1918, dan menjadi Ketua sampai tahun 1941. Dia juga menjadi President dari “All India Representative Association” (1946) yang kemudian berubah menjadi “SUMATRA INDIAN UNION”. Pada tahun 1949 sudah dibuka Konsulat India di Medan sehingga kegiatan organisasi itu terhenti. Sejak itu banyak masyarakat India umumnya dan Tamil khususnya yang menjadi Warga Negara Indonesia. Pada tahun 1954 sekolah dibelakang Kuil Sri Mariamman Medan dibuka dan ide sekaligus menjadi Ketua disamping Ketua dari Kuil itu.

Kegiatannya dalam bidang pers juga muncul dengan menerbitkan majalah bulanan bahasa Tamil “Thinaharan” (1940) dan kemudian “Indian” (1948-1949). Dia juga mengarang nyanyian penguburan dan menyederhanakan upacara perkawinan tanpa dipimpin oleh Pendeta Brahmin. Tetapi pada tahun 1954 ia menganut agama Budha dan kemudian mendapat gelar “Maha Ubasaha Maha Panditha” dan kemudian gelar “Maha Ubasaha, Meha Pandita, Asoka Dharma Surya”. Ia meninggal tanggal 10-10-1979.

Kalaulah orang Cina bekas kuli perkebunan kini beralih ke bidang bisnis dan maju, sebaliknya dari kalangan bangsa keturunan India di Sumatera Utara kehidupannya statis. Orang Sikh dan India Islam yang agak sedikit maju Pada awal 1950 orang Tamil agak berusaha didalam bidang usaha pengaspalan jalan (sering disebut “ASPAL KELING”) dan sebagai Guru bahasa Inggeris. Dalam tahun 1976 sudah ada 3 insinyur, 2 orang dokter, dan 50 orang lulusan universitas dari kalangan masyarakat Tamil ini. Sejak lancarnya hubungan dengan Penang, banyak orang Tamil merayakan upacara agama Hindu mereka naik ferry dari Belawan ke Penang. Tetapi pada zaman “Orde Reformasi” ini sudah ada kebebasan bagi mereka untuk merayakan “Taypusam” dan Dipavali” secara umum. Untuk mengelakkan perbedaan kasta yang mencolok, maka banyak orang Tamil dari kalangan Adi-Dravida (untouchables) yang masuk agama Budha dan Kristen dan kebanyakan berdiam di Kampung Anggrong dan Kampung Kristen di Medan. Etnis Telugu sudah mencernakan diri ke dalam masyarakat Tamil. Perkawinan didalam masyarakat Tamil tetap dipertahankan antara sesama mereka.  Keputusan Pengadilan Tinggi Malaysia 29-12-2006, bahwa nama “KELING” akan tetap ada dalam kamus Melayu yang dikeluarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia. (lihat Waspada Medan, 15-5-2009).


* “History of Indian and Indonesia Art”, 1927.

-   Radhakumud Mookerji “A History of Indian Shipping”

-   DR. J. Przyluski “Indian Colonisation in Sumatra before 7th Century”

-   Prof. DR. R.C. Majundar “The Sailendra Empire Cup to the end of  10th century A.D.”. The journal of the

Greater Indian Society, I p.II.

-   J. Tideman, “Hindoe-invloed in Noordelijk Batakland”. Amsterdam 1936.

(1) Menurut Prof. DR. Nilakanta Sastri dalam karangannya “A Tamil Merchaut-guild in Sumatra”, TBG. 1932 p.314.

(x) Prof. DR. Van Stein Callenvels dalam “Oudheidkundig Verslag” (1930).

[*] McKinnon dan Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II,SH.: “Kota China : Notes on further Developments at Kota China”, Sumatra Research Bulletin Univ. of Hull, Vol.IV No.1, 1974.

¨ Armando Cortesao : “The Suma Oriental of Tome’Pires and the Book of  Francisco Rodrigues”, 1515 Lisboa.

*** Ketika Belanda masuk ke Deli 1863 di Labuhan sudah ada 20 orang pedagang Cina dan 100 orang India Islam (E.Netscher) : “Togtjes in het gebied v. Riouw en Onderhorigheden”, TBG 1864  p.344.

(xx) Tuanku Luckman Sinar Basarsyah-II, SH. “Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Di Sumatera Timur”.

(Medan 2006).

(5) Lihat DR. Ph.S. van Ronkel “Het Tamil-element in het Maleisch”, TBG 1902.

(+) .    – W.H.M. Schadee, “Geschiedenis van Sumatr’s Oostkust”, I dan II, Medan 1918.

See also T. Luckman Sinar, SH.

-  “The Growth of the Chinese Cooles in East Sumatra. From middlemen to Economic Magnates”,

“Seminar Dutch-Indonesian History”. 23-6-1980.. Ernst Silmhoeve – Holland.

(6) Tanggal 1-8-1877, “Algemeen Handelsbald”.

(7) “De Toekomst van Deli, in 1888”, Leiden, p. 41-43.

Lihat juga J.T. Cremer, “Emigratie van Hindu’s naar Sumatra’s Oostkust”, TNI 1885/I.

(8) Lihat juga J.A. Wisselius, “De Emigatie van Brits-Indische Koelies naar Overzeesche Gewesten, in verband met

eene eventueele emigatie van Hindu’s naar Oost-Sumatra”, TNI 1884, II.

+ L.C. Westenenk, “De chetti”, Kol. Studien VI, Deel II, 1922.

(9) Sumber : “Area Handbook on Indonesia”, S.E.A. Studies, Yale Univ. 1956 : 523.

(10) Keluaran Biro Statistik Jakarta.

(11) Rajendra Singh, “Post-war Occupation Force” (Medan Area), p. 240-241.

(12) C. Kondapi, “Indians Overseas 1839-1949”, Madras : Oxford Univ.Press 1951 Appendix I.

(13) Rajendra Singh, “ 26 Indian Division Weekly Intelligence Summary”.

Makalah Diseminarkan pada:

Seminar Nasional “Kebudayaan dan Sejarah Etnis India Tamil di Sumatera Utara”,  tanggal   28 Mei 2009, di VIP Room Gedung Serbaguna – Universitas Negeri Medan.

Dipostkan oleh:

Erond L. Damanik, M.Si

Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan

KERAJAAN NAGUR DI SIMALUNGUN

KERAJAAN NAGUR DI SIMALUNGUN:

CATATAN DARI PENGELANA ASING DI SUMATRA TIMUR

Oleh:

Erond L. Damanik, M.Si

1. Pengantar

Terdapat dua kerajaan kuno terbesar (the great ancient kingdom) di Sumatra Utara, yaitu Aru dan Nagur. Kerajaan Aru sangat popular dalam tulisan Karo dan khususnya Melayu. Artifak kerajaan ini masih berdiri kokoh berupa batu Nisan bernuansa Islam (Islamic tomb) yang terhampar di Kota Rentang Hamparan Perak maupun Benteng Putri Hijau di Delitua Namurambe.  Sedangkan kerajaan Nagur dikenal luas sebagai kerajaan Batak yakni Simalungun.

Kedua kerajaan ini, rentan mendapat serangan dari Aceh dalam rencana unifikasi kerajaan di Sumatra dalam genggaman Aceh. Seperti diketahui, Kerajaan Aceh berencana untuk mempersatukan seluruh kerajaan di Sumatra sehingga melakukan agresi dan pelenyapan kerajaan hingga Bintan. Tentang hal ini, dapat dibaca dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara (1967) ataupun Singa Atjeh (1957) tulisan HM. Zainuddin. Demikian pula dalam buku Kerajaan Aceh (2007) tulisan Denys Lombard, Kronika Pasai (1987) oleh Ibrahim Alfian, Aceh: Dimata Kolonialis (1984) tulisan Snouck Hurgronje, atau pula surat Iskandar Muda kepada King James-I di Inggris pada tahun 1615 (Golden Letter: Surat Emas Raja Nusantara, 1997: Lontar Indonesia).

2. Catatan Tentang Nagur

Kerajaan Nagur diyakini merupakan salah satu kerajaan besar di Sumatra Utara yang berlokasi di Simalungun, penguasa ataupun pemerintahnya adalah dinasti Damanik. Sumber-sumber tulisan tentang Nagur umumnya diperoleh dari tulisan pengelana Tiongkok seperti Cheng Ho dan Ma Huan. Tulisan-tulisan tersebut telah dikompilasi oleh Groenoveltd, dalam Historical Notes in Indonesia and Malay (1960). Selanjutnya, menurut catatan Parlindungan (2007) dalam bukunya Tuanku Rao, Nagur berdiri pada abad ke-5 dan runtuh pada abad ke-12. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa, Raja Nagur terakhir yang bernama Mara Silu, pada saat keruntuhan swapraja tersebut melarikan diri ke Aceh, berganti nama dan menjadi Islam. Di Aceh ia dikenal dengan gelar Malik As Saleh (Malikul Saleh). Dalam Riwayat Raja-Raja Pasai (penulis dan tahun penulis tidak diketahui), diakui bahwa pendiri kerajaan Pasai adalah Merah Silu.

Namun demikian, apabila angka yang disebutkan oleh Parlindungan tersebut dikomparasikan dengan laporan admiral Zheng Zhe (Cheng Ho) maka akan didapat bahwa, hingga tahun 1423, kerajaan Nagur masih berdiri. Didalam buku Zheng Zhe: Bahariawan Muslim Tionghoa (2002) disebut bahwa, admiral tersebut mengunjungi Nagur sebanyak 3 (tiga) kali. Pasukannya sangat terkenal dengan senjata panah beracun dan berhasil menewaskan raja Aceh.  Dalam laporan pengelana Tionghoa tersebut, nama Nagur dituliskan dengan ‘Nakkur’; ‘Nakureh’ atau ‘Japur’. Hal senada juga diketahui dalam laporan Ma Huan yakni Ying Yei Seng Lan, dimana nama Nagur yakni ‘Napur’ merupakan kerajaan ‘Batta’

Selanjutnya, dalam laporan Tomme Pires, penguasa Portugis di Malaka (1512-1515), dalam bukunya  Summa Oriental terjemahan Cortesao (1944), banyak menyinggung nama Nagur yang berdekatan dengan Aru. Atau dalam tulisan Mendes Pinto yang berjudul Acehs Crusades against the Batak 1539. Demikian pula laporan Marco Polo yang melakukan perjalanan ke Sumatra pada tahun 1292 yakni, Cannibals and Kings: Nothern Sumatra in the 1290s. Pengelana lainnya adalah  laksamana Prancis bernama Augustin De Beaulieu yang melakukan perjalanan ke Sumatra (Pasai) pada tahun 1621 dalam tulisannya yang berjudul The Tyranny of Iskandar Muda. Demikian pula pengelana Maroko Ibn Battuta yang singgah di Pasai  pada tahun 1345 dalam laporannya The Sultanate of Pasai around 1345.

Kerajaan Nagur juga banyak disebut dalam tulisan-tulisan Melayu seperti yang dituliskan oleh T. Lukman Sinar SH (Pewaris kesultanan Serdang), dalam bukunya Sari Sejarah Serdang Jilid-I (1974) ataupun Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Sumatra Timur (2007),  ataupun TM. Lah Husny dalam bukunya Lintasan Sejarah Peradaban Penduduk Melayu Deli Sumatra Timur, (1976). Demikian pula dalam buku Tarik Aceh Jilid II yang batal diterbitkan. Selanjutnya, dalam tulisan-tulisan versi Karo seperti yang dilakukan oleh Brahmo Putro dalam bukunya Karo dari Zaman ke Zaman, (1984) justru cenderung ditulis dengan emosional, dengan cara meng-Karo-kan ARU, Nagur dan Batak Timur Raya. Sebagaimana diketahui, yang dimaksud dengan ‘Timur Raja’ dalam tulisan pemerintah colonial adalah kawasan Simalungun karena posisinya yang percis berada di pesisir Timur Sumatra Utara.

Terbukanya tabir Sumatra secara heurastik, dimulai saat penguasa Inggris di Bengkulu yakni Thomas Raffles, mengutus William Marsden pada tahun 1770 untuk menyelidiki potensi ekonomi Sumatra. Buku penyelidikan tersebut kini sudah dibukukan dengan judul “The History of Sumatra (2007). Di dalam buku tersebut banyak dituliskan tentang potensi ekonomi di Asahan yang disebutnya dengan term ‘Batta’ (Batak). Kemungkinan yang dimaksud adalah orang Simalungun yang bermukim didaerah Itu. Selanjutnya, pada tahun 1823, Whrite Philips, Gubernur Jenderal Inggris di Penang mengutus John Anderson untuk penyelidikan lebih intensif terhadap potensi ekonomi Sumatra. Buku laporan Anderson yang terkenal itu adalah Mission to the East Cost Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1826. Buku tersebut, juga telah mendeskripsikan keadaan di Asahan atau pesisir timur Sumatra. Kuat dugaan bahwa penghuni Asahan pada saat itu adalah orang Simalungun dimana daerah domisili orang Simalungun pada saat itu memanjang hingga Asahan, Batubara dan Pagurawan (Juandaharaya dan Martin Lukito, Tole den Timorlanden das Evanggelium, 2003). Buku yang lebih sempurna, berdasarkan tinjauan akademis dan sistematika ilmiah adalah karangan Edwin M. Loeb (1935) dengan judul Sumatra: Its History and the People. Dalam karangan itu, juga disebut tentang riwayat kerajaan di Simalungun.

Penyelidikan tentang kondisi sejarah, kebudayaan dan penguasaan daerah sangat penting dilakukan terutama terhadap laporan-laporan pemerinatah Kolonial seperti laporan kepurbakalaan (Oudheikundig Verslag, OV), Laporan umum (Algemeen Verslag, AV), laporan Politik (Politiek Verslag), Laporan Penanaman (Cultuur Verslag) atau juga Laporan Serah Terima Jabatan (Memorie van Overgrave), seperti yang diwajibkan dalam tata administrasi kolonial, karena laporan-laporan tersebut banyak menuliskan tentang kondisi wilayah yang sedang dikuasai. Di Simalungun, nama-nama yang mesti diperhatikan adalah Tidemann, Kroesen, Theis, Westenberg, Neumann, Voorhoeve, dan lain-lain.

Keberadaan Nagur (512-1252) seperti dalam buku Tuanku Rao karangan MOP,  dikatakan bahwa ayahnya, Sutan Martua Raja (SMR) adalah seorang guru Kristen di Pematang Siantar dan banyak mengumpulkan bahan-bahan sejarah. Hanya saja, dokumen-dokumen tersebut musnah terbakar sebelum sempat ditulis dengan sempurna. Buku Tuaku Rao hanyalah 20% dari sejumlah dokumen yang dikumpulkan oleh SMR. Bisa jadi, laporan SMR tentang Simalungun ikut musnah terbakar.

3. Manuskrip Tentang Nagur

Manuskrip yang ada dan meriwayatkan tentang kerajaan Nagur adalah Parpadanan Na Bolag (PNB). Namun demikian, manuskrip itu membutuhkan analisis tajam serta  kehatihatian yang tinggi  karena banyak menyebut nama person, peristiwa dan daerah yang kini tidak dapat di compare dengan peta yang ada. Misalnya, dimanakah Padang Rapuhan, atau dimanakah Hararasan, atau Bondailing?. Oleh sebab itu, terhadap manuskrip tersebut mutlak dilakukan Discourse Analysis, sehingga dapat memunculkan makna yang terkandung dalam teks atau naskah.

Literatur Simalungun yang mencoba menyajikan tentang Nagur adalah Hukum Adat Simalungun (Djahutar Damanik, 1984) atau Sejarah Simalungun (TBA Tambak, 1976) tidak banyak mengupas tentang manuskrip dan keberadaan Nagur, namun cenderung menuliskannya berdasarkan oral tradition version. Demikian pula pada buku Pustaha Simalungun yang tersimpan di Perpustakaan Daerah Sumut yakni hasil transliterasi latin oleh JE. Saragih, masih terbatas pada tradisi pengobatan yang ada di Simalungun, tak satupun dalam pustaha tersebut merujuk pada nama ‘Nagur’.

Persoalan lainnya adalah, bahwa riwayat kerajaan Nagur (Nakkureh, Nakkur, Japur) banyak disebut dalam laporan pengelana Eropa dan Tiongkok, namun dimanakah letak daripada kerajaan tersebut masih membutuhkan analisis panjang yang melibatkan Arkeolog dan Sejarawan. Dengan demikian, riwayat kerajaan Nagur dinasti Damanik di Simalungun tersebut masih memerlukan penelitian dan pengkajian secara menyeluruh (komprehensif) terutama dengan melibatkan arkeolog dan sejarawan serta antropolog sehingga riwayat kerajaan besar tersebut semakin sempurna dan berlandaskan perspektif ilmiah. Lagipula, penelitian dan kajian ilmiah, mutlak dilakukan untuk mendukung sejarah lisan yang berkembang dalam masyarakat.

4. Penutup

Berdasarkan persepsi literer (kepustakaan) tersebut diatas, diyakini bahwa kerajaan Nagur pernah eksis di Sumatra Timur tepatnya di Simalungun. Paling tidak hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan-catatan dari pengelana asing yang singgah di Sumatra Timur dari abad ke-6 hingga ke 16.

Demikian pula  tersedianya manuskrip yang meriwayatkan kerajaan tersebut, ataupun dikenalnya kerajaan tersebut melalui tradisi lisan. Namun demikian, untuk memperjelas eksisitensi kerajaan tersebut, baiknya dilakukan penelitian dan pengkajian yang melibatkan lintas disiplin sehingga dapat diterima kebenarannya. Paling tidak, saran ini bermanfaat atau ditujukan kepada pemerintah kabupaten Simalungun di Pematang Raya, ataupun pihak-pihak, badan atau instansi yang berwenang, demikian pula lembaga kemasyarakatan Simalungun yang ada.

Penulis: Peneliti pada Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian Universitas Ngeri Medan.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.