MODEL PENULISAN HISTORIOGRAFI TRADISIONAL: KASUS BUKU TUANKU RAO KARYA M.O.PARLINDUNGAN

MODEL PENULISAN HISTORIOGRAFI TRADISIONAL:
KASUS BUKU TUANKU RAO KARYA M.O.PARLINDUNGAN

Dr. phil. Ichwan Azhari, MS

1. Pengantar

Sejak diterbitkan pertama kali tahun 1964, buku yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP) benuai badai kritik dan kontroversi yang hebat. Umumnya yang dikritik dalam buku MOP adalah narasi buku, fakta-fakta yang jungkirbalik, gaya penulisan, kejutan atas fakta-fakta yang dianggap bohong, dusta atau mengadudomba. Tapi kalangan sejarahwan sebenarnya ada yang menganggap fakta jungkirbalik yang dihadirkan dalam buku itu dan kejutan-kejutan narasi dalam buku itu diperkirakan ada yang berlandaskan sumber-sumber sejarah yang sahih yang sayangnya, sumber-sumber sejarah itu tidak bisa diklarifikasi atau diidentifikasi ulang karena menurut MOP sumber itu sudah musnah disamping menurut pengakuannya ada juga yang dibakarnya sendiri.
Uraian saya berikut ini tidak akan membahas isi buku yang kontroversial ini. Saya akan mencoba menjelaskan karya ini dalam konteks salah satu model penulisan historiografi tradisional yang dikenal di nusantara. Dengan memahami model penulisan historiografi yang dibuat MOP saya berharap penilaian kita atas buku MOP ini lebih adil dan lebih kontekstual. Saya akan menunjukkan dan membandingkan model penulisan historiografi yang dipakai MOP dalam bukunya ini adalah model penulisan yang lazim dikenal dalam karya-karya sejarah yang dalam dunia teks Melayu klasik seperti yang saya uraikan pada bagian berikut.

2. Model Historiografi Tradisional Melayu
Teks-teks Melayu klasik, sudah cukup lama dipahami dengan cara yang keliru oleh banyak sejarawan, baik sejarawan Barat maupun sejarawan dari dunia Melayu. Minimnya dokumen-dokumen otentik Melayu untuk interprestasi tentang kerajaan Malaka abad 16 telah menyebabkan sejarawan terjebak untuk menggunakan teks Melayu klasik seperti Sejarah Melayu (SM), Hikayat Hang Tuah (HHT), serta Hikaya Raja-Raja Pasai (HRRP, sebagai dasar untuk mencari fakta historis.
Kebanyakan sejarawan moderen yang mendekati teks-teks Melayu klasik membagi dua jenis teks Melayu, yakni pertama teks yang berisi hanya sekedar cerita fantasi yang bercampur dengan dongeng dan kedua, cerita yang memiliki elemen sejarah yang jumlahnya tidak banyak. Teks kedua ini dikategorikan sejarawan sebagai teks sastra sejarah, sehinggah ada apa yang dinamakan genre sasrat sejarah dan para sejarawan yang mencari fakta sejarah serta realitas masa lalu yang bersembunyi didalam teks itu, sekalipun maksud penulisan teks itu bukan untuk menyimpan fakta seperti yang diingingkan sejarawan. Dengan konsep gern sastra itu teks seperti Sejarah Melayu (SM) Hikayat Raja-raja Pasai (HRRP) ataupun hikayat Banjar (HB) dimasukkan dalam kategori teks sastra Sejarah. Tapi anehnya, teks lain yakni teks hikayat Hang Tuah (HHT) sekalipun memuat banyak elemen sejarah ataupun episode yang ada dalam SM, teks HHT itu tidak dimasukkan sebagai genre sastra sejarah. Teuku Iskandar menyebut teks ini sebagai roman sejarah yang bercorak simbolik (Iskandar, 1970 :39-47).
Menurut Junus (1991) Sejarah Malaysia juga Banyak yang Menganggap Sastar klasik sebagai refleksi realitas yang mencatat dan melaporkan realitas, sehingga teks sastra dianggap sebagai dokumen realitas dan bukan sebagai karya fiksi semata. Dalam penulisan sejarah di Indonesia, teks sastra yang di Malaysia disebut sebagai genre sastra sejarah, di Indonesia dipahami sebagai historiografi tradisional yang telah dipakai di berbagai bagian nusantara selama lebih dari 300 tahun (Frederick dan Soeroto,1985:88)
Sejarah Malaysia yang mengunakan teks sastra sebagai sumber untuk mencari fakta masa lalu diantaranya Haron Daud (1989) dan Yusoff Hashim (1992). Hashim bahkan lebih mengutamakan teks sastra ketimbang dokumen historis Barat. Menurutnya cacatan yang dibuat oleh orang Portugis tentang Malaka yang lebih patuh dijadikan rujukan dasar, melainkan sumber pribumi seperti teks Sejarah Melayu (SM) dan tradisi hikayat lainnya yng sejenis, yang harus lebih didahulukan (Hashim,1992: 326). Sejarawan seperti Hashim dalam menjelaskan kejayaan Malaka awal abab 16 lebih mengutamakan teks sastra SM yang ditulis jauh dari pada dokumen historis Portugis yang dihasilkan pada saat Melaka masih ada. Pendapat Hashim ini memperlihatkan adanya tuntutan yang berlebihan terhadap teks sastra sejarah sebagai teks yang dianggap menyimpan dokumen historis.
Banyak peneliti lainnya yang juga secara berlebihan telah menempatkan SM sebagai dokumen historis, diantaranya Liaw Yock Fang yang menganggap SM memberikan satu gambaran yang jelas tentang kehidupan di Malaka abad ke 15 (Liaw, 1982: 214-215). Sementara Wahid (1974:211) menyebut tidak ada buku atau manuskrip lain yang dapat menggambarkan masyarakat Melaka dengan cara yang lebih baik dan jelas selain dari Sejarah Melayu. Lalu Kim (1979:2) telah menyimpulkan bahwa kalangan akademik telah menerima karya sastra Melayu lama yang berbentuk hikayat, salasilah dan syair sebagai bahan penulisan sejarah Melayu lama. Sementara Emeis (1968:123) menyebut SM mengemukakan banyak kenyataan sejarah yang jelas sehingga ia menjadi bahan penting untuk menyelidikan sejarah kemunculan, kemakmuran dan keruntuhan Melaka.
Disamping sebagai dokumen historis yang menyimpan fakta dan peristiwa, teks sastra Melayu juga dianggap sebagai dokumen kebudayaan yang merekam kebudayaan Melayu pada waktu tertentu dimasa lalu. Peneliti Malaysia yang menempatkan diri pada posisi ini adalah Moh Taib Osman (1980) serta Haron Daud (1980:2) menganggap SM sebagai dokumen kebudayaan, dalam arti merekam lukisan kebudayaan Melayu pada jaman Melaka, sementara Daud (1989 :1)mengunakan teks sebagai bahan untuk mengungkap aspek sejarah kebudayaan Melayu. Kemungkinan penempatan teks sastra sebagai dokumen kebudayaan ini juga sebelumnya disebut Teeuw dan Situmorang (1958 :viii), yang menyebut teks ini sekalipun tidak dapat menbantu mengungkapkan peristiwa dan fakta sejarah berdasar tahun yang tepat. Tetapi teks ini menurutnya merupakan sumber yang kaya untuk menggali pengetahuan ke3budayaan masyarakat Melayu. Sejalan dengan pendapat diatas , Gullik (1970 :9) mengatakan bahwa sastra Melayu dan sejarah bangsa Melayu seperti yang tergambar dalam teks SM memainkan peranan sebagai pemancar tradisi dan nilai-nilai masyarakat terutama mengenai kelas pemerintahan.
Historiografi Melayu yang berisi bahan sosial, gambaran terinci tentang keadaan tempat dan benda, pernyataan tersirat tentang sikap-sikap dan pertikaian kelompok menurut Bottoms (1995 :164) dapat membantu menJawab pertanyaan-pertanyaan tentang riset sejarah moderen, yang sudah selayaknya lebih menperhatikan latar belakang konseptual, sosial ekonomi dari pada sekedar kronologi peristiwa-peristiwa politik belaka.Sejalan dengan Bottoms, teks-teks Melayu klasik disebut Koster dan Maier (1994) menberi banyak teladan keadaan hidup (baik formal maupun tak formal). Kelakuaan yang baik, sentimen yang wajar, perilaku ang terpuji dan kerajaan yang baik mempunyai teladan yang diperlakukan untuk mengekalkan penyatuaan negeri dan sifat gaya hidup orang Melayu.
Pendapat-pendapat di atas telah menempatkan teks sastra sebagai dokumen historis tentang peristiwa, kekuasaan politik kerajaan, atau sekurang-kurangnya sebagai dokumen tentang kondisi sosiobudaya masyarakat masa lampau yang di sebut oleh teks-teks klasik itu. Pendapat-pendapat itu bila dianut akan dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru tentang masa lampau masyarakat dan kebudayaan Melayu, karena masa lampau yang di tulis penulis teks bukanlah masa lampau itu berlalu. Masa lampau yang terdapat dalam teks Melayu klasik ini sangat berbedah misalnya jika dibandingkan dengan teks Jawa klasik ini relevan dilakukan mengingat peneliti teks Melayu banyak mengunakan paradigma yang ada dalam penelitian sejarah melalui teks-teks Jawa klasik.
Teks klasik Jawa umumnya merupakan hasil kebudayaan istana, untuk pengukuhan dan pemujaan raja yang berkuasa pada saat teks itu di tulis. Sejarawan Kartodirdjo (1983: V) mengatakan bahwa penulisan sejarah tradisional di nusantara seperti dalam hikayat, kronik atau babad, tujuannya adalah untuk membuat pembenaran dari kedudukan yang sedang berkuasa dan melegetimasikan eksistensinya. Dalam keadaan itu unsur-unsur histori dan mitologis dengan mudah tergabung dalam satu kesatuan baru yang mendukung fungs histiografi resmi: melegetimasikan kekuasaan raja. Studi tentang teks Jawa, khususnya teks babad yang dilakukan Christie (1983) dan Carey (1985) sejalan dengan pendapat Kartodirdjo yang menyebut babad memang untuk melegetimasikan kedudukan raja, sehingga pengagungan raja dalam konteks pentas historis merupakan elemen penting dalam babad Jawa. Hal ini merangsang peneliti untuk mencari “fakta” historis dalam babad Jawa ini menyestkan bila dipakai untuk mendekati hikayat Melayu, khususnya teks HRRP, SM ataupun HHT sebagaimana diakui Junus (1992) dan Braginsky (1998) dimaksudkan justru untuk menghina raja.
Untuk teks Sejarah Melayu, ada beban peletakan kata “sejarah” dalam judul teks, sehingga peniliti menganggap bahwa itu sejarah yang memang historis, atau teks yang elemen sejarahnya sangat kuat. Ini awal yang menjebat peneliti menilai SM sebagai karya sejarah atau pengagungan sejarah istana sebagaimana babad Jawa. Padahal pengertian kata sejarah sebagaimana terjemahan Inggris history, adalah konsep ilmu yang baru abad ke 20 di perkenalkan di dunia Melayu. Sebelum itu, kata sejarah tidak sama dengan yang dimaksud sejarah sebagai terjemahan history dalam konseptul barat. Di Malaysia bahkan pernah kata tawarikh di gunakan sebagai terjemahan history dalam pengertian ilmu. Pengertian sejarah dalam khazanah teks Melayu klasik sebenarnya lebih mengarah ke makna silsilah keturunan (genealogi) sesuai asal kata sejarah yang datang dari bahasa arab sajjaratun yang artinya “pohon” dan juga “keturunan” atau “asal-usul” (Frederick dan Soeroto, 1982:1; Junus, 1994: 15) dalam konteks teks SM makna sejarah berita certia atau kisah tentang raja-raja, tapi cerita dalam artian ini tidak berarti harus cerita sebagaimana yang sesungguhnya. Terdapat beberapa istilah dalam dunia teks Melayu klasik untuk merujuk cerita tentang raja-raja sebagai karya fiksi yang memiliki setting peristiwa historis tertentu seperti sejarah, riwayat, cerita, sesilah, syair, hikayat ataupun kisah.
Teks SM sendiri sudah memperingatkan di bagian mukaddimahnya, bahwa ini bukan karya sejarah dalam artian historiografi, dan jangan di nilai sebagai karya sejarah. Hanya sayang banyak peneliti terdahulu mengabaikan mukaddimah yang letaknya di depan itu, dan langsung meneliti isi, kronologis historis, nama-nama sultan, peristiwa- peristiwa yang kemudian di lanjutkan dengan unsur historis dan tidak historis dari semua itu. Bahkan dalam edisi terjemahan SM ke dalam bahasa Inggris (Leyden: 1821, Brown: 1952) dan Jerman ( Overbeck: 1927) teks bagian mukaddimah yang penting itu justru di hilangkan tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas. Padahal mukaddimah SM adalah bagian yang integral dari keseluruhan teks. Dalam kajian teks, setiap elemen teks merupakan satu kesatuan yang utuh untuk memberi makna atas teks itu.
Jika peneliti Barat memulai kajiannya sesuai dengan trend SM berdasarkan edisi terjemahan yang telah menghilangkan bagian mukaddimah yang penting itu, maka kesimpulan yang mereka ambil tentang elemen historis dari teks ini adalah kesimpulan yang telah mengabaikan substansi fungsi teks. Bagian mukaddimah terdapat tidak hanya dalam SM tapi juga dalam teks lain seperti teks salasilah Melayu dan Bugis (SMB) ataupun Hikayat Merong Mahawangsa (HMM). Jika bagian mukaddimah ini benar-benar diteliti akan di ketahui bahwa teks Melayu yang di katagorikan memiliki elemen sejarah, bagian mukaddimahnya memiliki tujuan fungsional yang tidak sama. Dengan membandingkan mukaddimah padas benerapa teks saya menemukan dua model isi mukaddimah yang miliki dua tujuan yang berbeda sebagai pertanggungjawaban penulis memasukkan elemen sejarah dalam teks. Kedua model itu adalah pertama teks seperti SM yang merupakan resepsi penulis teks dengan amanat tertentu terhadap informasi atau pengalaman historis yang di miliki penulis. Kebenaran fakta historis tidak di pentingkan oleh teks ini. Kedua teks seperti SMB, yang berusaha merekontruksi masa lalu atas bahan–bahan yang di miliki atau yang di saksikan penulis teks. Upaya untuk menampilkan kebenaran historis, sejajar dengan pengertian disiplin sejarah dalam konsep barat, setidaknya menurut penulis teks menjadi tujuan utamanya.
Berikut di kutip bagian sangat penting dari mukaddimah SM edisi shellabear (1896) yang selama puluhan tahun diabaikan peneliti sejarah dalam menginterprestasikan teks ini:
“hamba dengar ada hikayat Melayu di bawa oleh orang dari goa. Barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya, supaya di ketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian dari pada kita, dan boleh di ingatannya oleh segala mereka itu, syadan adalah berboleh faedah dari padanya” (SM: 1)
Teks di bagian mukaddimah ini jelas menyebut bawa ada satu teks yang di bawa oleh orang dari goa. Apakah goa itu adalah goa yang terletak di Sulawesi, di Pahang ataukah di India, tidak jelas oleh teks. Tapi yang penting ada teks yang di bawa orang dari luar Malaka, jadi teks itu bukan teks yang berasal dari Malaka. Lalu teks itu “kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya” dan hal ini memperlihatkan bahwa teks yang di bawa orang dari goa itu kemudian di perbaiki, artinya tidak sekedar di tulis ulang, melainkan di interpretasi baru sesuai kebutuhan saat itu, karena perbaikan itu “dengan istisdatnya”, artinya sesuai dengan norma dan nilai yang saat itu dihayati penulisnya. Perbaikan dengan istiadatnya dimaksudkan upaya untuk meresepi teks dari goa itu sehingga melahirkan teks baru yang lebih sesuai dengan ideologi ataupun wawasan orang yang akan memperbaikinya.
Jika peneliti mencari fakta sejarah dalam teks SM atau yang sejenis kemudian menganggap teks ini penuh ketidak logis dan kesimpangsiuran kronologis maka itu adalah sesuatu yang di sengaja dan direncanakan dengan sadar oleh penulis teks. Jadi bukan sesuatu yang kebetulan atau karena ini karya sastra primitif yang mencampurkan fakta dan mitos di mana penulisnya tidak mengetahui sejarah, sebagai mana yang sering di tuduhkan. Tuduhan itu kemudian melahirkan teori bahwa historigrafi Melayu tradisional mengaburkan antara fakta dan realitas sebagaimana disebut Wilkinson (1907-27: 33-34), Roolvink (1983: xxx), Winstedt (1977) ataupun Bottoms (1994). Ketidak rasionalan peristiwa yang sering ditemukan dalam teks ini, sering membuat peneliti menganggap SM sebagai teks yang tidak bermutu dan tidak berguna sebagai sumber sejarah. Ini merupakan penilaian yang patut di sayangkan, karena teks ini jelas merupakan teks yang di tulis dengan serius dan tidak dengan kecerobohan.
Tujuan perbaikan teks itu juga di jelaskan, yakni umtuk di ketahui anak cucu di kemudian hari. Tujuan kepada siapa teks itu di rombak dengan demikian bukan untuk pengagungan raja yang berkuasa di masa lalu maupun dimasa teks itu ditulis dan ini jelas membedakan tujuan penulisan teks Jawa klasik Nagarakertagama yang adalah untuk pengaggungan raja (Berg, 1974: 61). Menariknya, teks SM yang di peruntukkan bagi “anak cucu yang kemudian dari pada kita itu” di maksudkan bukan agar anak cucu itu mendapat kebenaran informasi sejarah, tapi di maksudkan agar isi teks itu bisa mengingatkan anak cucu dan memperoleh faedah atau manfaat dari teks itu : (“dan boleh diingatkannya oleh segala mereka itu, syahdan adalah beroleh faedahdari padanya”) .Jadi teks dari Goa yang telah diperbaiki ini bertujuan edukasi dan refleksi bagi anak cucu, suatu tujuan subtansial yang sayang sekali diabaikan sejarawan selama ini.
Pada bagian lain di mukadimah ini, ada kalimat yang mengingatkan bahwa kebenaran fakta sejarah yang ditampilkan dalam teks ini bukanlah sesuatu yang perlu untuk di percaya.

3. Mukaddimah MOP dalam “Tuanku Rao”
Sama seperti “Sejarah Melayu”, karya MOP juga memiliki semacam “mukaddimah” yang sebagian besar terdapat di pendahuluan sepanjang 10 halaman, sebagian lagi ada di bagian tengah dan di bagian akhir buku tersebut. Pada bagian “mukaddimah” yang tersebar-sebar itu kalau kita teliti kita akan mengetahui dalam rangka apa buku ini ditulisnya, siapa pembaca yang ditujunya, dan apa substansi sebenarnya dari tulisannya ini. Kalau kita berangkat dengan memahami ini dulu, maka kita tidak akan tersesat ketika kita akan membahas “isi fakta-fakta sejarah” yang diturunkan tukang kayu itu.
Tulisan MOP bukan buku, hanya berupa uraian dokumen keluarga yang bersifat pribadi untuk diwariskan kepada anak cucunya, seperti “anak cucu” dalam Sejarah Melayu itu. Buku ini semula tidak untuk diterbitkan, ini adalah sekedar dokumen keluarga yang ditulisnya untuk dua orang puteranya yang di tahun 1960 masih kecil. Kedua orang puteranya ini dianggapnya harus mengetahui “warisan kisah dan dokumen” leluhurnya, yang didapatnya dari orang tuanya Sutan Martua Radja (SMR). Dari begitu banyak dokumen SMR, kata MOP hanya 10 persen saja yang diolah dan ditulisnya ulang yang kemudian:
“Dibuat rangkap 4 atas mesin tulis. Untuk di-deponeer pada Notaris supaja kelak tahun 1975 diberikan kepada Putera2 dari Penulis. Itulah asal/mulanja Buku ini.” (2007:11).

Lebih lanjut MOP menegaskan bahwa buku yang ditulisnya:
Semula hanjalah dimaksud oleh seorang Ajah terbatas untuk 2 orang Putera2nja sendiri sadja, maka : Buku ini enak sadja disusun didalam Story Telling Style. Dimaksud berupa sesuatu Tjeritera Lisan, jang ditjeriterakan setjara lisan, untuk pengisi waktu habis berbuka dibulan Puasa. Sekali setahun tammat ditjeriterakan didalam 29 malam dibulan Puasa, seperti lazim di Sumatera Timur, seperti lazim pula di Mesir. Selama bulan Puasa, setiap hari diwaktu Isja’ dibatjakan serta diuraikan + 20 halaman.” (2007:12).

Dengan demikian, buku ini sejak awal tidak dimaksud untuk diterbitkan. Pada halaman 15 MOP menguatkan kembali apa yang sebelumnya disebutnya :
“Buku ini semula tidakpun dimaksud hendak diterbitkan, hanjalah dibuat rangkap 4 dengan mesin tulis untuk pemakaian sendiri. Karena itu, Buku ini tidak pula dimaksud berupa shocking sensations, perihal tindak/tanduk Tentara Padri menjiksa Wanita2 di Tanah Batak.” (2007:15)

MOP takut anaknya tidak tertarik membaca tulisannya yang berupa himpunan data koleksi SMR, padahal menurutnya apa yang ditulisnya itu berupa merupakan waris sejarah keluarga yang harus diketahui anaknya. Kata MOP :
Untuk menghindarkan kemungkinan itu, Penulis merasa perlu sedikit Akal Busuk. Sorry. Ja’ni : Disamping bersifat historic, exact, Buku Sedjarah ini oleh Penulis sengadja pula dibuat as humoristic as only possible untuk seorang Tukang Pelor. Entah kelak Putera2 dari Penulis suka mentjari2 lelutjon2 Tukang Pelor dari Buku Sedjarah ini, dan dengan demikian djadi djuga tammat membatjanja. Insja Allah.” (2007:11)

Kita perlu memperhatikan kata “Akal Busuk. Sorry” dalam kutipan di atas. Akal busuk tentulah akal-akalan MOP untuk memasukkan narasi agar tulisannya enak dibaca. Tujuannya bukan lagi menghadirkan kebenaran sejarah tapi agar kedua puteranya tammat membaca buku ini. Oleh karena itu kalau pengamat mengomentari atau terpancing dengan “Akal Busuk” MOP maka sebenarnya itu tak perlu terjadi karena “Akal Busuk” itu merupakan sesuatu yang disengaja MOP. Saya memperkirakan “Akal Busuk” yang sengaja dimasukkan itu tidak hanya dalam penuturan gaya humor dengan sengaja menggunakan bahasa gado-gado tapi juga terdapat dalam uraian tentang peristiwa dan “fakta” yang dimunculkannya.
Bahkan pada salah satu bagian MOP tidak segan-segan menyebut ada 7 kesalahan dalam bukunya, dan itu katanya dia sengaja. Tapi barangkali sustansi atas kesalahan yang sengaja dibuatnya itu menarik untuk diperhatikan, karena kesalahan yang disengaja itu tidak hanya terdapat pada tujuh yang disebutnya, tapi pada begitu banyak fakta yang diturunkan dalam bukunya. Kesalahan itu katanya :
“sengadja dimasukkan oleh Penulis dengan pertimbangan psychologic. Ja’ni : Dengan pengharapan supaja Putra2 dari Penulis, kelak janganlah suka menelan sadja segala apa jang tertjitak ataupun tertulis. Hal mana sangat berbahaja, sedjak Goebbels/1933, dan sedjak Sengdengbu/1942. Jang tertulis dan seluruhnja harus dipertjaja, hanjalah Firman Allah sebagaimana termaktub di dalam Al Kitab Al Qur’an Ul Karim.” (2007: 689)

Mangaraja menyebut tulisannya sebenarnya adalah :
“Latihan Otak di bidang Sedjarah, haraplah para Pembatja Jang Arif Budiman, suka mentjarinya dengan tjara : sekali lagi dan lebih teliti membatja Buku ini.” (2007:689)

Akan tetapi dibandingkan dengan historiografi Melayu tradisional khususnya dalam karya Sejarah Melayu, MOP menggabungkan antara tulisannya yang “disengaja salah” dan penuh “akal busuk” dengan berpretensi ingin menghasilkan tulisan yang dari segi sejarah menurutnya bersifat historic exact, “sama sadja exact-nja seperti sesuatu Buku Aldjabar.” Disini sekilas nampak “mukaddimah” MOP mengandung paradoks. Pada bagian lain dia menyebut :

Buku ini bukannja dikarang, akan tetapi hanjalah disusun (=compilated oleh Penulis, jang sedikit pun bukanlah Ahli Sedjarah ataupun Ahli Sastra, dan jang hanjalah Ahli Peluru Pensiunan dari Angkatan Darat. Sangat besar perbedaan antara membuat pelor2, serta menulis sesuatu Buku Sedajarah. Lagi pula, diluar bidang Tekniek Persendjataan, buku inilah tulisan jang pertama dari Penulis. (2007:9).

Paradoks dalam “mukaddimah” MOP adalah disatu sisi dia ingin menulis hanya untuk kedua anaknya (Sonny Boy), tapi disisi lain dia ingin menulis buku sejarah yang akurat. Tapi menurut saya keinginannya yang kedua itu dimunculkan dalam “mukaddimah” karena buku itu akan dicetak dan MOP ingin memberikan tekanan bahwa yang dikerjakannya itu “ilmiah” dan tahun-tahun yang dicantumkannya itu “exact”. Padahal substansi bukunya adalah sebuah retorika dan wacana yang ditulis seorang ayah dengan semangat menggebu-gebu agar kedua anaknya mau membaca tulisannya sampai tamat. Sebagai sebuah wacana buku MOP harus dilihat dari “mukaddimah” dan analisis ataupun perdebatan tentang “fakta” ataupun “peristiwa” dalam buku MOP tidak boleh mengabaikan “mukaddimah” .

Disampaikan dalam acara “Bedah Buku : Kontroversi Tuanku Rao dalam Sejarah Sumatera Utara” yang diselenggarakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, 10 Nopember 2007.

Diposting oleh:
Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: